Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
TikTok
Dream - Banyak sekali tantangan atau challenge di media sosial yang membuat penasaran anak-anak. Salah satunya Blackout Challenge di TikTok. Tantangan tersebut memang sangat berbahaya dan berakibat fatal.
Tantangan tersebut membuat seseorang mendokumentasikan saat menahan napas atau mencekik diri sendiri menggunakan tangan, sampai mereka pingsan atau kehilangan kesadaran. Korbannya sudah cukup banyak, salah satunya bocah 9 tahun asal Wisconsin, Amerika Serikat.
Bocah tersebut ditemukan keluarganya meninggal dunia setelah ikut Blackout Challenge di TikTok pada Februari 2021 lalu. Pihak keluarga rupanya tak mau hal ini terjadi lagi pada anak lainnya dan mengambil langkah hukum.
© Dream
Mereka secara hukum pada 6 Juli 2022 kemarin menuntut TikTok, sebagai platform yang menyediakan tantangan tersebut. Keluarga anak tersebut baru saja mengajukan gugatan di Pengadilan Tinggi Los Angeles County bersama dengan tim dari Social Media Victims Law Center.
“ TikTok harus bertanggung jawab karena mendorong konten mematikan ke dua gadis muda ini,” ujar Matthew P. Bergman, pengacara dari Social Media Victims Law Center, dikutip dari Cafemom.
" TikTok telah secara khusus mengkurasi dan menentukan bahwa video Blackout Challenge ini - video yang menampilkan pengguna yang sengaja mencekik diri mereka sendiri hingga kehilangan kesadaran - pantas dan cocok untuk anak-anak kecil," isi gugatan tersebut.
Sumber: Cafemom
© Dream
Dream - Membuat tantangan di media sosial jadi hal yang cukup umum. Biasanya berupa tantangan dance, makan makanan tertentu atau hal lain yang biasanya untuk senang-senang dan seru-seruan.
Salah satu tantangan yang kini sedang tren adalah " BlackOutChallenge" . Tantangan tersebut begitu populer di TikTok, media sosial yang kini sangat diminati para remaja.
Challenge ini mengharuskan mereka yang mencobanya untuk menahan napas cukup lama hingga pingsan. Seorang ibu di Australia mengungkap tentang bahanya tren ini dengan harapan orang tua lain juga melakukan yang sama.
" Saya berlari menaiki tangga, dan ketika saya menaiki tangga, saya bisa mendengarnya seperti kesakitan," katanya dikutip dari Parents.
Dalam sebuah wawancara, dia menggambarkan bagaimana jendela kamar tidur putranya hanya berjarak beberapa kaki dan dia beruntung dia tidak jatuh melalui jendela itu setelah pingsan.
" Saya telah mengetahui betapa berbahayanya ini, dan anak-anak di seluruh dunia telah kehilangan nyawa. Ini sebenarnya cukup menakutkan, dan cukup serius. Sejak saat itu, saya memiliki kecemasan yang sangat besar atas video ini dan lainnya yang beredar di TikTok," ungkap ibu tersebut.
© Dream
Pihak TikTok sendiri berusaha menghapuskan tagar-tagar " BlackOutChallenge" . Itu karena muncul laporan banyaknya anak remaja yang pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit setelah melakukan tantangan ini.
Pada 2021 lalu, bocah berusia 12 tahun asal Colorado meninggal dunia setelah melakukan tantangan ini. Para orangtua diharapkan lebih melek tekologi dan tren di media sosial.
Beberapa tren memang bisa sangat membahayakan anak-anak. Untuk mencegahnya, bukalah diskusi dengan buah hati terutama yang sudah aktif bermain media sosial.
" Orang tua perlu berbicara dengan anak-anak tentang media sosial, sama seperti tekanan teman sebaya, tv, dan hal apa pun," kata Samantha Rodman Whiten, psikolog klinis dan pendiri Dr. Psych Mom.
Menurutnya tak perlu langsung melarang anak menggunakan media sosial. Kuncinya adalah membuat anak memiliki pemikiran kritis dengan apa yang ada di media sosial.
© Dream
Weisner mengatakan, untuk membuka diskusi bisa dengan mengajukan pertanyaan dan kemudian mendengarkan. Dia menawarkan beberapa pertanyaan untuk digunakan orangtua untuk memulai beberapa percakapan dengan anak-anak soal media sosial.
Ayah bunda bisa mengajukan pertanyaan berikut pada anak untuk membuat diskusi lebih mendalam soal media sosial.
- Pernahkah Anda mendengar tentang tantangan media sosial?
- Apakah ada tantangan yang pernah kamu dengar ternyata berbahaya atau tidak aman?
- Tanpa menyebut nama, apakah kamu secara pribadi mengenal siapa saja yang pernah mengikuti tantangan media sosial?
- Menurut kamu mengapa kegiatan ini disebut sebagai 'tantangan'?
" Fokusnya adalah untuk berbicara dengan anak-anak dalam spektrum yang lebih besar tentang bagaimana pengaruh luar dapat berbahaya atau membantu, dan ajari mereka untuk mengenali hal positif dan negatifnya," kata Dr. Weisner.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya