Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Para Pembeli Memenuhi Bagian Kasir Untuk Memesan Martabak Markobar (Dream.co.id/Ahmad Baiquni)
Dream - Suasana warung martabak milik putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka, yang diberi nama Markobar tidak begitu ramai di Minggu sore. Terlihat beberapa pengunjung tengah berjajar di depan loket kasir, hendak memesan martabak.
Warung martabak ini hanya menyajikan tiga varian martabak dengan ukuran sama. Ketiga varian tersebut hanya berbeda pada rasa, yaitu empat rasa, delapan rasa yang keduanya dijual dengan harga Rp80.000 dan 16 rasa seharga Rp150.000.
Tetapi, suasana yang tenang ternyata tidak sepadan dengan jumlah pesanan. Sekitar pukul 17.30 WIB, setengah jam setelah warung buka, jumlah pesanan ternyata sudah mencapai angka 65.
Seorang pembeli, Agung, sempat mengeluh lantaran dia mendapat nomor antrian yang cukup besar, 45. Padahal, dia mendapat nomor itu saat warung baru saja dibuka.
Meski begitu, Agung memilih untuk bersabar. Dia lalu memutuskan pergi dulu sejenak ketimbang harus dirundung rasa bosan menunggu pesanan.
" Saya pergi sudah satu setengah jam. Ini saja belum jadi pesanan saya," ujar Agung kepada Dream, Minggu, 10 Januari 2016 kemarin.
Kesabaran Agung membuahkan hasil. Setelah dua jam, seloyang martabak delapan rasa telah ada di tangannya.
Pengalaman menarik lain datang dari Edward. Pria ini baru tiba sekitar pukul 18.00 WIB dan kaget dengan angka urutan pesanan yang dia terima.
" Mas dapat nomor berapa? Saya dapat nomor 75. Lama banget ya?" ucap dia.
Sama seperti Agung, sebagian besar pembeli lain memilih melakukan hal serupa, pesan, bayar, lalu pergi sebentar. Setelah beberapa lama, pembeli kembali untuk mengambil pesanannya.
Ada juga pembeli lain yang rela menunggu pesanan. Mereka memilih masuk ke restoran yang berdekatan dengan warung martabak untuk berbincang dan memesan minuman demi mengusir kebosanan. Sebagian dari mereka ada memesan satu, dua, hingga tiga loyang martabak manis.
Sayangnya, hal serupa tidak dilakukan oleh wanita bernama Yulia. Begitu sampai, dia langsung bertanya berapa lama martabak selesai dimasak.
" Mas, berapa lama jadinya?" tanya dia kepada kasir.
Mendengar jawaban kasir, Yulia langsung kaget. " Ini masih menunggu 51 pesanan lagi? Ya sudah, tidak jadi pesan," kata Yulia dan langsung meninggalkan warung dengan muka bersungut. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya