Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya
Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi
Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah
Berhenti Makan Gula Bikin Pusing dan Mudah Marah? Ini Cara Meredakan Gejalanya
Mengapa Sulawesi Dikenal dengan Nama Celebes? Begini Asal-usul Nama yang Dipakai Bangsa Eropa
Kebiasaan Sederhana Ini Disebut Bisa Bikin Pernikahan Lebih Kuat, Tak Perlu ke Gym
IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Bagaimana reaksi Sahabat Dream saat anak membuat kesalahan, mengalami kegagalan atau kemunduran? Misalnya ketika ia kalah dalam sebuah lomba, menumpahkan minuman di meja karena berlarian atau nilainya di sekolah menurun drastis.
Mungkin akan sangat bergantung pada situasi dan emosi yang sedang dialami. Ada yang langsung memarahi, memberi peringatan atau hukuman, meminta anak 'membereskan' kesalahan atau bisa juga menghiburnya.
" Kita mungkin tidak menyadari, tetapi reaksi kita terhadap kegagalan anak-anak dapat memiliki efek jangka panjang pada mereka. Yaitu bagaimana mereka memproses kegagalan atau kemunduran lalu bereaksi atas hal tersebut. Bisa membuatnya jadi lebih tangguh dan percaya diri atau malah sebaliknya," ujar Katherine Lee, seorang terapis anak.
Reaksi orangtua terhadap kegagalan anak bahkan dapat menentukan pandangan seorang anak tentang kecerdasan. Hal ini menurut sebuah penelitian yang dipublikasi pada 2016.
Para peneliti di Stanford University, AS, menemukan bahwa cara orangtua melihat kesalahan anak baik sebagai hal positif atau hal buruk akan sangat membentuk konsep pada anak terkait kecerdasan. Efek jangka panjangnya, ini akan mempengaruhi masa depan mereka.
" Kepercayaan anak-anak tentang kecerdasan memiliki dampak besar pada seberapa baik mereka melakukannya," kata Kyla Haimovitz, PhD, penulis utama studi tersebut dan psikolog dari Departemen Psikologi di Universitas Stanford.
Kyla dan timnya melibatkan 73 pasangan orangtua-anak untuk penelitian ini. Para orangtua dan anak diminta menjawab serangkaian pertanyaan yang berkaitan dengan kegagalan dan kecerdasan. Anak-anak tersebut berusia 10 sampai 12 tahun.
Ada hubungan antara sikap orangtua terhadap kecerdasan dan kepercayaan anak-anak tentang kecerdasan.
" Orangtua yang berfokus pada hal yang bisa dipelajari anak dari nilai ujian yang buruk, dapat memberi sebuah bahwa kecerdasan adalah hal yang bisa diusahakan, bahwa mereka dapat meningkatkan nilai mereka melalui belajar," ungkap Haimovitz.
Sumber: VeryWell
Advertisement
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Pertamina dan MedcoEnergi Ambil 10% Hak Partisipasi Sumur Gas di Kaltim Milik Eni S.p.A

Dibuka Menguat ke Level 6.109,32, IHSG Bergerak di 2 Zona pada Awal Perdagangan


Jalan Kaki Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Ini 5 Cara Membuatnya Lebih Efektif

8 Tanda Tubuh Kebanyakan Kafein, dari Jantung Berdebar hingga Sulit Tidur

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor

Kebiasaan Sederhana Ini Disebut Bisa Bikin Pernikahan Lebih Kuat, Tak Perlu ke Gym

Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya

Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi

Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis