Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Sekolah Egalia
Dream - Swedia jadi salah satu negara yang terkenal dengan sistem pendidikannya yang berkualitas. Para pendidikan di negara tersebut terus berusaha mengembangkan sistem pendidikan terbaik yang bukan hanya unggul dalam bidang akademik tapi juga mental dan spiritual.
Salah satu terobosan yang cukup unik adalah berdirinya sekolah Egalia. Sekolah ini memiliki filosofi, anak-anak bermain dan belajar tak boleh dibatasi dengan gender. Apalagi sampai
dikotak-kotakkan. Misalnya tak hanya mengajak anak laki-laki bermain bola tapi juga para anak perempuan.
Saat kelas memasak, baik murid perempuan maupun laki-laki pun diwajibkan terlibat dengan aktif. Didirikan pada 2011, sekolah ini sedikit menimbulkan kontroversi karena konsepnya yang
tak membedakan gender. Banyak orang berpendapat, bagaimana pun anak-anak harus tahu perbedaan tiap gender agar tak kehilangan identitas.
" Konsep kami bukan menghilangkan gender tapi mengurangi bias yang ada. Siapa pun anak di sekolah ini boleh memanjat pohon, bermain pasir, main boneka tanpa ditentukan jenis kelaminnya. Konsepnya adalah gender netral, bukan buta gender. Mungkin pihak yang mengkritisi belum melihat jelas apa yang terjadi dan yang kami ajarkan," ujar Frida Wikstrom, koordinator sekolah Egalia, seperti dikutip dari UpWorthy.

Mainan-mainan seperti dinosaurus, bola, alat masak mini hingga boneka juga tak dipisahkan. Seluruh mainan ditaruh dalam satu wadah dan tak dikategorikan mainan anak perempuan atau anak laki-laki.
" Kami jarang menggunakan kata ayo para anak laki-laki atau anak perempuan, tapi lebih sering memanggil murid dengan 'teman-teman' semua. Mainan yang ada juga boleh dimainkan siapa
pun. Anak laki-laki bermain dengan cangkir dan piring mainan, sementara anak perempuan bermain truk dan pasir di halaman, itu bukan masalah bagi kami. Hal paling penting adalah
anak-anak belajar banyak hal," ujar Wikstrom.
Penelitian pun dilakukan untuk mengetahui kemampuan anak-anak murid di Egalia dalam membedakan gender. Ternyata hasilnya murid Egalia mampu mengkategorikan gender dengan lebih baik untuk anak seusianya. Mereka juga lebih mudah bermain dengan siapa pun tak terbatas gender dan cenderung lebih sedikit melakukan stereotipe.
Advertisement

Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?