Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Bayi Baru Lahir/ Foto: Shutterstock
Dream - Masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan menggunakan uang koin saat membungkus pusar bayi baru lahir. Luka pusar bayi sebelum copot sempurna memang agak terbuka dan hal itu sangat wajar.
Koin yang ditempel kemudian dililit gurita, dimaksudkan agar di kemudian hari bayi tak mengalami pusar bodong. Benarkah demikian? Sayangnya kebiasaan ini tidak tepat dan malah bisa berbahaya bagi bayi.
" Meletakkan koin pada pusar sama sekali tidak efektif untuk mengatasi pusar bodong yang dalam dunia medis dikenal pula sebagai hernia umbilikalis. Sebab, pusar bodong pada dasarnya disebabkan oleh otot perut bayi yang belum menutup sempurna," kata dr. Muhammad Isman S., dikutip dari KlikDokter.
Terkadang, kondisi tersebut juga menyebabkan usus tidak sengaja masuk ke dalam celah. Penggunaan koin atau benda apa pun tidak efektif untuk mencegah bodong atau pun hernia pada bayi baru lahir.
Selain tidak bermanfaat sama sekali, menempelkan koin pada pusar bisa menyebabkan bayi mengalami masalah kulit. Pasalnya, bayi baru lahir memiliki kulit yang sangat lembut dan sensitif.

Sentuhan benda-benda asing, seperti koin, berpotensi mengiritasi kulit bayi. Selain itu, penggunaan koin juga dikhawatirkan dapat memicu infeksi. Koin yang tak steril berpotensi menyebabkan kuman masuk ke dalam pusar.
Penting diingat hernia umbilikalis alias pusar bodong bukanlah penyakit berbahaya. Umumnya, gangguan ini tidak menimbulkan gejala lain dan bisa sembuh dengan sendirinya ketika si kecil memasuki usia 2-3 tahun.
Penjelasan selengkapnya baca di sini.
Dream - Bagi orangtua yang baru saja memiliki bayi untuk pertama kalinya, tentu banyak hal yang membuat kaget dan bingung. Salah satu yang sering membuat panik adalah saat kotoran bayi berwarna hitam.
Kondisi ini kerap membuat panik orangtua baru. Sebenarnya kotoran bayi baru lahir berwarna hitam, adalah hal normal. Ketahui tiga fakta berikut soal kotoran bayi agar ayah bunda tak kaget saat menghadapi si kecil.
1. Kotoran pertama
Selama kehamilan, bayi terus-menerus menelan, dan mencerna cairan ketuban. Mereka juga menelan berbagai cairan selama di dalam rahim, termasuk sekresi dari saluran pencernaan mereka, lendir dan bahkan rambut halus dari kulit mereka.
Begitu lahir, maka kotoran yang dikeluarkannya berbeda dengan kotoran pada umumnya. Warnanya hitam pekat atau biasa disebut mekonium. Terkadang mekonium berwarna hijau gelap, tidak berbau dan sulit dibersihkan dari kulit bayi. Saat bayi mulai menyusu dan ususnya terbiasa mencerna susu, warna mekonium berubah dari hitam menjadi kekuningan. Jadi tak perlu panik ya, ayah bunda.
Umumnya, bayi yang diberi ASI tidak memiliki kotoran yang bau. Terkadang kotoran mereka memiliki bau manis 'alami', seperti rumput atau jerami. Ini karena air susu ibu (ASI) memiliki pencahar alami dan bayi yang disusui tidak mengalami sembelit.

Bayi yang disusui juga dapat memiliki kotoran yang mengandung sedikit 'biji' putih, seperti biji wijen, yang terbentuk dari lemak dalam ASI. Bayi yang minum ASI umumnya memiliki kotoran yang berwarna kuning/mustard atau bahkan hijau. Juga merupakan hal normal bagi bayi yang disusui kotorannya memiliki sedikit lendir.
Hal yang juga normal adalah bayi yang minum ASI tidak buang air besar selama beberapa hari. Pada bayi yang diberi susu formula, memang lebih rentan mengalami sembelit dibandingkan mereka yang minum ASI.
Kotoran bayi umumnya lunak dan dapat dikeluarkan dengan mudah karena itu tidak menimbulkan banyak tekanan pada anus bayi. Pada kondisi tertentu, bayi mengalami sembelit dan perlu mengerahkan tenaga untuk mengeluarkannya.

Inilah sebabnya mengapa bayi kecil akan menjadi berisik dan rewel saat buang air besar. Wajahnya menjadi merah dan terus bergerak saat buang air besar. Bayi pun terlihat sangat tidak nyaman.
Sumber: KidSpot
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya