Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
© 2025 Festival Jajanan Bango
DREAM.CO.ID - Dunia kuliner Indonesia sedang bergerak cepat mengikuti selera generasi muda yang selalu haus akan eksplorasi rasa. Di tengah perubahan gaya hidup dan cara menikmati makanan, kecap—bumbu sederhana yang akrab di setiap dapur Nusantara—kini kembali diangkat ke panggung utama dengan wajah dan misi baru dari Bango.
Selama hampir seabad, kecap Bango telah hadir menemani keluarga Indonesia. Namun kali ini, bukan hanya soal melestarikan tradisi, melainkan juga membangun relevansi di era digital yang serba instan. Misi terbaru ini diwujudkan lewat inovasi unik: Foodtruck Jajanan Bango, sebuah roadshow kuliner yang akan berkeliling ke 13 kota besar di Indonesia, mulai dari Jakarta hingga Lampung.
Lendi Yuwarlian, Head of Marketing Bango and Beverages Unilever Indonesia, mengungkapkan bahwa ada fenomena menarik di balik peluncuran wajah baru Bango. “ Sebagai market leader di industri kecap yang telah menemani eksplorasi kuliner masyarakat Indonesia selama hampir 100 tahun, kami mengamati adanya pergeseran minat terhadap dunia kuliner. Generasi muda kini lebih suka masakan praktis, cepat, dan penuh variasi,” jelasnya.
Menurut Lendi, selain faktor gaya hidup, media sosial juga punya andil besar. Jika dulu inspirasi kuliner datang dari penjaja legendaris, kini anak muda lebih terpengaruh pada kreasi para foodsfluencers. Akibatnya, kuliner berbasis kecap mulai jarang terlihat di meja makan. Data dari “ Menu Check Study” Kantar 2024 bahkan menunjukkan hanya tiga hidangan berbasis kecap yang masih bertahan di daftar 15 masakan favorit masyarakat Indonesia: nasi goreng, oseng tempe, dan mie goreng.
Padahal, menurut Dimas Ramadhan Pangestu atau yang dikenal sebagai Dims the Meatguy, potensi kecap jauh dari kata terbatas. “ Kecap punya rasa yang sangat kompleks. Ada manis, asin, gurih, plus aroma fermentasi kedelai yang khas. Dengan profil rasa seperti ini, kecap bisa dipakai bukan cuma di kuliner lokal, tapi juga internasional atau bahkan fusion. Dengan penggunaan yang tepat, kecap bisa menggantikan saus Worcestershire, saus tiram, sampai barbecue,” ujarnya.
Kompleksitas inilah yang ingin ditunjukkan Bango lewat wajah barunya. Kemasan baru dengan desain modern dan lebih eye-catching diluncurkan sebagai simbol progresivitas. Meski tampil lebih segar, Bango tetap mempertahankan ciri khasnya: menggunakan bahan alami tanpa pewarna dan pengawet sejak pertama kali dibuat tahun 1928.
Sebagai gebrakan nyata, Bango meluncurkan Foodtruck Jajanan Bango—foodtruck keliling pertama dari brand kecap. Roadshow ini akan hadir di 13 kota, termasuk Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, hingga Palembang. Di setiap kota, anak muda bisa mencicipi aneka kreasi kuliner kekinian berbasis kecap, mulai dari menu klasik hingga fusion.
Kolaborasi dengan para foodsfluencers jadi salah satu daya tarik utama. Salah satunya adalah menu “ Nasi Goreng Saikoro” hasil kolaborasi bersama Dims the Meatguy. Nasi goreng gurih dipadukan dengan daging saikoro yang terkaramelisasi kecap menghadirkan sensasi rasa baru yang khas, lezat, dan kekinian.
Tak hanya makanan, roadshow ini juga dipenuhi aktivitas seru: mulai dari pembayaran digital, cooking demo, hingga kesempatan membawa pulang blind box eksklusif. Dengan konsep hang out yang akrab dengan gaya hidup anak muda, Bango ingin memperlihatkan bahwa kuliner berbasis kecap tidak ketinggalan zaman.
Antusiasme terhadap misi baru Bango juga datang dari figur publik seperti Tasya Kamila. “ Sebagai pecinta kecap dan pengguna Bango sejak lama, happy banget dengan kehadiran wajah baru ini. Masak jadi lebih praktis, variatif, dan tetap enak. Dengan banyak inspirasi resep baru, kita bisa coba hal-hal fresh tanpa harus ribet,” ungkapnya.
Lendi menegaskan kembali bahwa misi Bango kini bukan hanya melestarikan kuliner, tetapi menjadikan kecap sebagai culinary gem yang adaptif sepanjang zaman. “ Kami ingin membuktikan bahwa kecap sangat inovatif untuk hidangan apapun—baik sebagai bumbu masak, saus dipping, menu fusion, hingga dessert,” tutupnya.
Dengan wajah baru dan misi segar, Bango berharap generasi muda Indonesia semakin berani bereksperimen di dapur. Dari tradisi hingga modernitas, dari meja makan keluarga hingga foodtruck kekinian, kecap tetap punya tempat istimewa di hati penikmat kuliner.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya