Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Uji Klinis Jahe Merah Sebagai Immunomodulator Covid-19, Seperti Apa Faktanya?

Reporter : Zaki
Rabu, 2 September 2020 21:00
Uji Klinis Jahe Merah Sebagai Immunomodulator Covid-19, Seperti Apa Faktanya?
Cari tahu faktanya yuk!

Siapa sih yang nggak resah setiap kali melihat pengumuman pemerintah tentang kasus positif Covid-19 yang terus meningkat setiap harinya. Selain gencar mengingatkan masyarakat untuk terus mengikuti protokol kesehatan, pencarian obat untuk mencegah dan mengatasi penyakit Corona pun terus dilakukan.

Berbagai negara dikabarkan melakukan uji klinis terhadap bahan atau kandidat obat yang bisa diperkirakan bisa menyembuhkan penyakit tersebut. Nggak terkecuali Indonesia, di mana banyak instansi mulai bergerak untuk melakukan uji klinis obat Covid-19. Salah satu yang tengah ramai diperbincangkan adalah uji klinis kandungan jahe merah sebagai immunomodulator Covid-19.

Beneran nggak sih jahe merah punya kandungan yang bisa menyembuhkan Covid-19? Pembahasan inilah yang diangkat oleh PT Bintang Toedjoe bersama LIPI dan didukung oleh BPOM serta IDI dalam sebuah webinar bertajuk Hoax atau Fakta: Uji Klinis Jahe Merah sebagai Immunomodulator Covid-19 yang diselenggarakan pada Senin (31/08/2020) lalu. Simak faktanya, yuk!

1 dari 5 halaman

Obat Herbal Jadi Lebih Dikenal Selama Pandemi

Dalam acara tersebut, turut hadir narasumber, Dra. Mayagustina Andarini, Apt., M.Sc selaku Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan POM RI, Dr. Yan Riyanto, M.Eng. selaku Kepala Pengembangan Inovasi dan Iptek LIPI, Abdi wira Septama, Ph.D. dari Pusat Penelitian Kimia LIPI, dr. Daeng M Faqih SH,MH selaku Ketua Ikatan Dokter Indonesia, Drs. Tepy Usia, Apt., M.Phil, Ph.D selaku Direktur Standarisasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik serta Simon Jonatan selaku Presiden Direktur PT Bintang Toedjoe.

Ada fakta unik yang diungkapkan oleh Dra. Mayagustina Andarini, Apt., M.Sc. selaku Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan POM RI. Menurutnya, pandemi membawa hikmah tersendiri karena obat herbal kini jadi lebih dikenal dan diminati masyarakat karena bisa meningkatkan imun tubuh.

" Masyarakat jadi lebih memahami pentingnya mengkonsumsi obat herbal. Selain itu, ada percepatan yang kami lakukan dari hilirisasi obat herbal dan juga sosialisasi kepada pelaku usaha dan masyarakat," terangnya.

Ia juga menjelaskan jika ada 3 jenis obat herbal, yaitu jamu, obat herbal terstandar, dan ketiga adalah fitofarmaka.

" Nah kalo jamu adalah produk yang dimana khasiatnya sudah dikenal secara empiris, secara turun menurun sudah ada riwayatnya, kemudian apa itu obat herbal terstandar ini semua sudah ada sekitar 71 produk yang terdaftar di Badan POM produknya, yang jelas herbal terstandar bahan bakunya kemudian sudah diuji pra klinis melalui uji hewan untuk melihat toksisitasnya, mencari dosisnya dan juga farmakodinamik yang dilakukan terhadap hewan. Kemudian yang ketiga adalah fitofarmaka yakni suatu produk yang sudah dilakukan uji klinis pada manusia," paparnya dalam webinar tersebut.

2 dari 5 halaman

Pengujian Fitofarmaka Butuh Effort Lebih

Sampai saat ini, belum ada obat yang efektif menangani Covid-19 secara spesifik. Mayagustina menjelaskan bahwa kondisi ini membuat satu-satunya cara untuk melawan virus adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh, jadi bukan membunuh virusnya.

Sementara itu, pengujian terhadap produk fitofarmaka sendiri diungkapkan oleh Mayagustina juga membutuhkan effort yang sangat besar. Hal ini disebabkan karena jumlahnya yang masih terbatas dan harus ada pengujian yang dilakukan pada manusia.

3 dari 5 halaman

Kerja Sama LIPI dan Bintang Toedjo untuk Percepat Penanganan Covid-19

PT Bintang Toedjoe mengadakan kerja sama dengan LIPI untuk mendukung percepatan penanganan Covid-19 di Indonesia. Menurut Dr. Yan Riyanto M. Eng., selaku Kepala Pusat Pengembangan Inovasi dan Iptek LIPI mengatakan kerja sama ini dilakukan dalam jangka waktu 3 tahun dalam pengembangan dan kolaborasi di berbagai macam riset, salah satunya adalah uji klinis di bidang kesehatan terkait salah satu produk Bintang Toedjoe.

" Pengembangan ini tentu sangat berpotensi untuk dikembangkan kedepannya ya," paparnya

Abdi Wira Septama dari Pusat Penelitian Kimia LIPI mengatakan pentingnya untuk mengingkatkan sistem imunitas yakni dengan bahan-bahan yang mampu memacu memodulasi imunitas atau immunodulator.

" Secara terminologinya, immunodulator merupakan satu bahan yang dapat memodulasi atau mengatur sistem imunitas dengan cara menekan reaksi imun yang berlebihan, kemudian meningkatkan reaksi imunitas dan dapat memperbaiki reaksi imunitas dalam keadaan tidak seimbang," paparnya

Secara tidak langsung immunodulator mampu memodulasi sistem kekebalan tubuh atau imunitas, baik menstimulasi pada keadaan yang kekurangan atau memperbaiki reaksi imunitas pada keadaan tidak seimbang. " Kami telah melakukan penelitian mengenai beberapa tanaman obat yang potensial yang dapat dijadikan sebagai immunodulator, penelitian ini kami lakukan dengan screening terhadap tanaman obat potensial tersebut yang secara empiris memiliki aktivitas immunodulator" , katanya.

4 dari 5 halaman

Jumlah Pasien Terus Bertambah, Penting untuk Jaga Daya Tahan Tubuh

Kondisi saat ini memang menunjukkan jumlah pasien yang terpapar Covid-19 di Indonesia terus meningkat. Bahkan mencapai angka 3 ribu orang per harinya. Menanggapi hal ini, Ketua Ikatan Dokter Indonesia, dr. Daeng M. Faqih SH., MH mengimbau agar masyarakat bergotong royong menjaga daya tahan tubuh agar tidak tertular Covid-19.

" Oleh karena itu, menjalankan protokol kesehatan penting dilakukan. Selain itu juga harus meningkatkan daya tahan tubuh, karena dengan kondisi yang prima maka meskipun kita tertular atau terpapar, imunitas dalam tubuh bisa melawan," tuturnya.

Ia pun memberikan apresiasi terhadap LIPI dan PT Bintang Toedjoe dalam melakukan penelitian yang sudah mengarah pada uji klinis guna menghasilkan produk immunomodulator yang bisa meningkatkan daya tahan tubuh. Nggak lupa, Daeng berpesan agar masyarakat nggak mudah percaya hoax terhadap klaim obat Covid-19 yang beredar.

" Kita di dalam memberikan pernyataan di bidang kedokteran dan kesehatan tidak berdasarkan testimoni dan kampanye, tetapi kita lebih berdasarkan metode-metode keilmuan. jadi informasi yang disampaikan harus merujuk pada sebuah metode keilmuan yang benar," katanya

Ia juga mengapresiasi uji klinis yang dilakukan oleh Bintang Toedjoe dan LIPI ini sebagai bagian dari aksi memberikan contoh kepada masyarakat dalam memilih informasi yang benar.

" Maka saya yakin akan mampu melawan Hoax yang berdasarkan testimoni, pengakuan atau beradasarkan iklan-iklan di medsos. Itu yang harus kita perangi bersama," paparnya

5 dari 5 halaman

Upaya Bintang Toedjoe Memajukan Jamu Sebagai Kebanggaan Bangsa

PT Bintang Toedjoe terus berupaya semakin memajukan jamu sebagai kebanggaan bangsa dan berkontribusi pada kesehatan masyarakat, salah satunya adalah produk BEJO JAHE MERAH.

" Saya sangat berterima kasih kepada LIPI untuk bekerjasama dengan Bintang Toedjoe dalam mengadakan uji klinis Bejo jahe merah," papar Simon Jonatan, Presiden Direktur PT Bintang Toedjoe.

PT Bintang Toedjoe adalah perusahaan farmasi yang menghasilkan produk obat-obatan dan jamu yang banyak memanfaatkan tanaman herbal. Seperti produk Bejo Jahe Merah dan Bejo Susu Jahe Merah yang memiliki kandungan jahe merah di dalamnya dan telah bekerja sama dengan banyak petani yang tersebar di seluruh Indonesia. Di mana ekosistem jahe merah sudah terbentuk sejak 2015 dengan menggandeng ekstraktor untuk memastikan standar kualitas ekstrak jahe merah.

Bejo jahe merah yang akan di uji klinis merupakan salah satu produk dengan konsep ekosistem yang dimulai dengan membina para petani dengan mengusung konsep sharing ekonomi. Konsep ekosistem ini memastikan dari bahan yang akan di uji klinis yang merupakan tanaman obat asli Indonesia. PT Bintang Toedjoe memiliki misi bahwa dari setiap tetes keringat petani dan peneliti melalui sharing ekonomi dengan perusahaan ekstraktor dihasilkan produk jamu herbal berkualitas dunia berbasis bukti ilmiah yang juga didukung oleh pemerintah.

Simon juga menambahkan tujuan dari PT Bintang Toedjoe melakukan uji klinis terhadap jahe merah tidak lain bahwa jahe merah memiliki berbagai khasiat dan manfaat untuk tubuh. Tak hanya itu saja, jahe merah juga dipilih oleh LIPI sebagai tanaman herbal untuk diuji manfaat klinisnya pada manusia.

Jahe merah memang memiliki berbagai manfaat yakni untuk membantu menjaga daya tahan tubuh, anti inflamasi, analgesik, antimikroba dan membantu infertilitas pria. Jahe merah pun bermanfaat untuk mencegah penyakit kronis degeneratif melalui manfaat membantu mengoptimalkan kadar gula darah, membantu menurunkan kadar kolesterol, dan asam urat, pada orang-orang lanjut usia. Maka dari itu, Simon berharap jika jahe merah bisa terus dikenal sebagai tanaman obat asli kebanggan Indonesia.

(wri)

Beri Komentar