Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Ilustrasi Kacamata Raksasa/dokumentasi Antara
Dream - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong 12 daerah yang dilintasi Gerhana Matahari Total (GMT) untuk membuat acara yang menarik sebagai sarana promosi ke mata dunia.
Salah satu kreasi yang sempat menarik perhatian Museum Rekor Indonesia (MURI) adalah ide unik dari Jaya Suprana yang membuat kacamata khusus untuk meneropong gerhana tersebut.
Kacamata ini menjadi sangat menarik karena dibuat dengan filter anti UV yang berukuran sangat besar. Memiliki panjang 960 centimeter dan panjang 60 centimeter. Bahkan karena ukurannya yang begitu besar sampai dijuluki sebagai kacamata raksasa pemakan matahari, atau dalam motilogi Jawa dikenal sebagai Buto Ijo.
Ide unik ini berasal dari Komunitas Astronomi 'Imah Noong' yang merupakan sekumpulan warga Kampung Areng Desa Wangunsari, Kecamatan Lembang, Jawa Barat. Meskipun hanya ada satu bingkai, tapi kacamata ini tetap didesain memiliki sembilan lubang.
Kacamata ini dijamin sangat aman, karena di setiap lubang dipasangi filter berbahan black polimer neutral density (ND)-5.
“ Kacamatanya benar-benar jumbo. Kalau dibentangkan, kacamata raksasa ini bisa dipakai bersama-sama oleh 45 orang sekaligus. Sekarang kacamatanya sudah ada di Pantai Terentang, Bangka. Tinggal nunggu dipasang filternya," papar Kepala Dinas Pariwisata Bangka Belitung, Tajuddin, Senin 7 Maret 2016.
Kacamata raksasa ini menjadi daya tarik kunjungan wisatwan mancanegara. Banyak turis asal Jepang, Malaysia, Tiongkok, Perancis dan negara Eropa lainnya antri untuk mencoba mengenakan kacamata berukuran jumbo tersebut.
“ Dari keterangan Komunitas Astronomi 'Imah Noong', pembuatan kacamata ini menghabiskan biaya sekitar Rp 60 juta. Yang mahal bingkai kacamatanya yang menggunakan bahan akrilik. Filternya juga nggak murah karena bahannya mencapai Rp15 juta,” tambah Tajuddin.
Lebih jauh Tajuddin mengungkapkan jika saat ini Komunitas Astronomi 'Imah Noong' tengah mengupayakan agar kacamata matahari terbesar ini tercatat dalam MURI.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan