Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Gedung
Lihatlah gedung-gedung itu. Ramai mencakar langit. Berbaris dengan bentuk yang indah. Dan inilah Doha. Ibukota sekaligus pusat ekonomi Qatar. Didirikan dengan nama Al-Bida pada tahun 1850. Setelah di dominasi Kesultanan Ustmaniyah dan Inggris, Qatar kemudian merdeka 3 September 1971. Kota di pesisir Persia ini menjadi ibu negeri itu.
Semula laju ekonomi Qatar dipompa setor perikanan dan mutiara. Namun industri itu terbenam oleh pesaing dari timur. Budidaya mutiara Jepang merangsek pasar. Qatar tak punya pilihan.

Harus mengubah pilihan. Maka minyakpun dikeruk. Mereka beruntung sebab simpanan minyak di bumi negeri itu diperkirakan 15 miliar barel. Pilihan itulah yang mengubah wajah Doha sekemilau hari ini.
Lalu lihatlah Dubai. Ibu negeri Uni Emirat Arab yang membentang di sisi selatan Teluk Persia. Gedung-gedung pencakar langit melewati awan. Pesisir padang pasir menjelma menjadi kota yang berkemilau. Pendapatan negeri itu dipompa dari perdagangan, real estate kelas dunia dan pelayanan keuangan.

Qatar dan Uni Emirat Arab, adalah dua Negara Muslim yang merangsek masuk ke jajaran Negara dengan ekonomi paling memukau di dunia. Di luar keduanya masih banyak Negara-negara Islam yang pertumbuhan ekonominya mengejutkan.
Dengan Produk Domestik Bruto (PDB) yang besar, negara muslim sadar peran mereka akan diperhitungkan di kancah internasional. Data dari Organization Islamic Cooperation (OIC) mencatat PDB berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) 57 negara muslim mencapai US$ 7,74 triliun.
Sebagaimana diketahui PDB merupakan cara perhitungan total pendapatan yang diterima oleh faktor-faktor produksi dalam kegiatan proses produksi di suatu negara selama satu periode.
Negara-negara Teluk yang kaya cadangan Migas memang masih mendominasi daftar negara muslim terkaya dunia. Namun bukan berarti, negara miskin Migas tak mampu unjuk gigi. Berikut adalah 10 negara-negara muslim terkaya dunia mengutip data estimasi PDB per kapita (PPP) dari laporan CIA:
© Dream
Qatar
PDB per kapita (PPP): US$ 102.100 (estimasi 2013)
PDB: US$ 198,7 miliar (estimasi 2013)
Jumlah penduduk: 2,12 juta (estimasi Juli 2014)
Penduduk Qatar semakin sejahtera dalam beberapa tahun terakhir seiring meningkatnya pertumbuhan PDB. Krisis keuangan yang melanda dunia membuat otoritas berwenang menawarkan upaya perlindungan bagi sektor perbankan dengan investasi langsung pada bank domestik.
PDB Qatar selama ini diperoleh dari perubahan harga minyak dunia dan investasi di sektor energi. Kebijakan ekonomi pemerintah Qatar diarahkan pada sektor non Migas dan meningkatkan investasi diluar energi.
© Dream
Brunei Darussalam
PDB per kapita (PPP): US$ 54.800 (estimasi 2013)
PDB: US$ 22,25 miliar (estimasi 2013)
Jumlah penduduk: 442.675 (estimasi Juli 2014)
Negara kecil di Asia Tenggara ini menggantungkan pertumbuhannya pada sektor Migas. Produksi Migas mencapai 60% dari PDB dan 90% diantaranya ditujukan untuk pasar ekspor.
Penduduk Brunei mendapatkan berbagai layanan mulai dari fasilitas kesehatan hingga sekolah gratis sampai tingkat universitas.
© Dream
Kuwait
PDB per kapita (PPP): US$ 42.100 (estimasi 2013)
PDB: US$ 165,8 miliar (estimasi 2013)
Jumlah penduduk: 2,74 juta (estimasi Juli 2014)
Kuwait merupakan negara kecil nan kaya berkat cadangan Migas yang mencapai 102 miliar barel atau skeitar 60% dari cadangan dunia. Cadangan Migas mencapai lebih dari separuh PDB dimana 95% pendapatan pemerintah berasal dari ekspor minyak.
Hingga 2020, Kuwait telah menargetkan produksi Migas hingga 4 juta barel. Sayangnya, stagnanya harga migas membuat ekonomi Kuwait selama 2013 melambat.
© Dream
Arab Saudi
PDB per kapita (PPP): US$ 31.300 (estimasi 2013)
PDB: US$ 927,8 miliar (estimasi 2013)
Jumlah penduduk: 27,34 juta (estimasi Juli 2014)
Arab Saudi merupakan negara berbasis ekonomi dengan kontrol pemerintah pada aktivitas sektor ekonomi yang sangat tinggi. Dengan menguasai 16% cadangan minyak dunia, Arab Saudi berada di peringkat teratas sebagai eksportir terbesar dunia.
Kontribusi Migas bagi pendapatan negara mencapai 80% atau 45% dari PDB, dan 90% nilai ekspor. Kini Saudi tengah berjuang keras mengangkat pertumbuhan dari sektor privat dalam upaya diversifikasi ekonomi. Pemerintah juga berupaya lebih banyak membuka pekerjaan bagi warga Saudi.
© Dream
Uni Emirat Arab (UEA)
PDB per kapita (PPP): US$ 29.900 (estimasi 2013)
PDB: US$ 269,8 miliar (estimasi 2013)
Jumlah penduduk: 5,62 juta (estimasi Juli 2014)
Ekonomi UEA yang lebih terbuka membuat negara ini mencicipi pendapatan per kapita yang meningkat dengan neraca perdagangan makin besar. Diversifikasi ekonomi sukses mengurangi ketergantungan UEA pada sektor Migas hingga tersisa 25%.
Sejak penemuan ladang Migas pada 30 tahun lalu, negara ini telah bertransformasi dari kawasan lawas menjadi negara modern dengan standar hidup tinggi. Pemerintah terus menggenjot pengeluaran untuk penciptaan lapangan kerja dan ekspansi infrastruktur.
© Dream
Bahrain
PDB per kapita (PPP): US$ 29.800 (estimasi 2013)
PDB: US$ 34,96 miliar (estimasi 2013)
Jumlah penduduk: 1,31 juta (estimasi Juli 2014)
Sukses Bahrain menggiring diversifikasi ekonomi ditambah pembangunan fasilitas komunikasi dan transportasi, telah membuat negara Arab ini berhasil menggaet sejumlah pebisnis kakap dunia. Keputusan terbesarnya adalah memberlakukan perjanjian perdagangan bebas dengan AS pada Agustus 2006.
Sayangnya, ketergantungan ekonomi Bahrain pada Migas terus bertambah tinggi. Bahrain saat ini tengah bersaing untuk menjadi pusat industri bank syariah dunia.
© Dream
Oman
PDB per kapita (PPP): US$ 29.800 (estimasi 2013)
PDB: US$ 94,86 miliar (estimasi 2013)
Jumlah penduduk: 3,21 juta (estimasi Juli 2014)
Sebagai negara berpendapatan menengah yang masih bergantung pada cadangan Migas, ekonomi Oman kini tengah limbung. Menurunnya cadangan Migas serta pertumbuhan tenaga kerja memaksa pemerintah berpikir ulang mendorong ekonominya.
Muscat terus mendorong pembangunan yang terfokus pada diversifikasi, industrialisasi, dan privatisasi. Tujuannya, mengurangi kontribusi Migas pada PDB.
© Dream
Malaysia
PDB per kapita (PPP): US$ 17.500 (estimasi 2013)
PDB: US$ 525 miliar (estimasi 2013)
Jumlah penduduk: 30,07 juta (estimasi Juli 2014)
Sejak 1970-an, Malaysia sukses bertransformasi dari produsen barang mentah menjadi negara berkembang di berbagai sektor ekonomi. Dibawah komando Perdana Menteri Najib, Malaysia bertekad menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2020.
Strateginya, Malaysia mengembangkan nilai tambah produk, pengembangan sektor keuangan syariah, industri berteknologi maju, bioteknologi, dan industri jasa.
Program transformasi ekonomi Najib merupakan rangkaian proyek dan kebijakan untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi Malaysia.
© Dream
Turki
PDB per kapita (PPP): US$ 15.300 (estimasi 2013)
PDB: US$ 821,8 miliar (estimasi 2013)
Jumlah penduduk: 81,61 juta (estimasi Juli 2014)
Ekonomi Turki selama ini didorong sistem pasar bebas yang bertumpu pada sektor jasa dan industri. Namun sektor pertanian tardisional masih menjadi tumpuan penyerap tenaga kerja dengan porsi 25%.
Program privatisasi masif dari pemerintah Turki di bidang industri dasar, perbankan, transportasi, dan komunikasi membuat ekonomi makin dinamis. Ditambah lagi, perkembangan kelas menengah yang cukup tinggi.
© Dream
Kazakhstan
PDB per kapita (PPP): US$ 14.100 (estimasi 2013)
PDB: US$ 243,6 miliar (estimasi 2013)
Jumlah penduduk: 17,94 juta (estimasi Juli 2014)
Negara bekas pecahan Uni Soviet ini memiliki cadangan bahan fosil besar serta melimpahnya bahan tambang dan mineral seperti uranium, tembaga, dan seng. Kazakhstan juga kaya akan produk pertanian seperti hewan ternak dan gandum.
Sejak 2002, Kazakhstan menjadi negara pecahan Uni Soviet pertama yang menyandang status layak investasi dari lembaga pemeringkat internasional.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya