3 Orang Jadi Tersangka Pungli Pengambilan Jenazah Korban Tsunami Banten

Reporter : Annisa Mutiara Asharini
Minggu, 30 Desember 2018 11:55
3 Orang Jadi Tersangka Pungli Pengambilan Jenazah Korban Tsunami Banten
Salah satunya merupakan aparatur sipil negara (ASN).

Dream - Polda Banten menetapkan tiga orang staf RSUD Serang sebagai tersangka kasus dugaan pungutan liar (pungli) pengurusan jenazah korban tsunami Banten.

Salah satu tersangka berinisial F tercatat sebagai aparatur sipil negara (ASN), sementara dua lainnya merupakan karyawan swasta berinisial I dan B.

" Kita telah menetapkan tiga tersangka setelah mendapatkan dua alat bukti," kata Kabag Wasidik Ditreskrimsus Polda Banten AKBP Dadang Herli didampingi Kabid Humas Polda Banten AKBP Edy Sumardi dikutip dari Liputan6.com.

Tersangka ditetapkan setelah penyidik melakukan pemeriksaan terhadap lima orang saksi. Selain itu, penyidik juga telah mengantongi beberapa alat bukti seperti kuitansi tidak resmi yang dikeluarkan oleh tersangka F.

" Dokumen yang digunakan termasuk kuitansi tidak resmi dikeluarkan oknum ASN bersama dengan karyawan sebuah CV," kata Dadang, seperti dilansir Antara.

Ketiga tersangka dijerat Pasal 12 huruf E Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

" Ancaman pidana penjara seumur hidup, atau paling singkat empat tahun, dan denda paling sedikit Rp200 juta dan maksimal Rp1 miliar," lanjut Dadang.

1 dari 7 halaman

Bupati Serang Bantah Adanya Pungutan Liar

Dugaan ini awalnya dibantah oleh Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah.

Setelah mendengar dugaan tersebut, Ratu langsung memanggil jajaran direksi dan manajemen Rumah Sakit Drajat Prawiranegara (RSDP).

Ratu mengatakan mobil jenazah dan ambulans diturunkan ke lapangan hanya untuk membawa korban ke fasilitas kesehatan.

" Kalau untuk pulang, mungkin keluarga korban menghubungi pihak ketiga, bukan ambulans maupun mobil jenazah dari RSDP termasuk jika keluarga korban membutuhkan peti jenazah, dipastikan membeli dari pihak ketiga, karena RSDP tidak menyediakan peti jenazah," paparnya.

Ratu juga menegaskan, bukti kuitansi pembayaran dari keluarga korban dipastikan bukan resmi dari manajemen RSDP.

" Kami juga sudah bertemu dan rapat bersama dengan pihak kepolisian, karena ini soal kemanusiaan. Jadi silakan diusut tuntas jika ada oknum yang melakukan pungli," ujarnya.

Plt Direktur RSDP Sri Nurhayati mengatakan, RSDP sudah berupaya semaksimal mungkin melakukan tindakan sesuai standar operasional prosedur (SOP) untuk melayani semua korban tsunami.

" Para korban sudah dilayani semaksimal dan seoptimal mungkin," ujarnya.

Sumber: Liputan6.com

2 dari 7 halaman

Ambil Jasad Korban Tsunami Ditagih Rp3,9 Juta, Staf RSUD Diperiksa

Dream - Empat orang pegawai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Dradjat Prawiranegara, Serang, Banten diperiksa polisi.

Pemeriksaan itu diawali keluhan salah satu rekan korban tsunami mengenai mahalnya ongkos pemulangan jenazah. Kerabat korban dikenai biaya Rp3,9 juta agar bisa membawa pulang seorang jenazah korban tsunami.

Kapolres Serang Kota, AKBP Firman Affandi, mengatakan, empat orang yang diperiksa merupakan pegawai bagian Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal (IKFM).

Keempat orang itu antara lain, kepala forensik, BD; sopir ambulans, BY; anggota forensik rumah sakit, FT dan AR.

" Siang ini kami gelar perkara. Nanti setelah itu kami akan lihat perkara itu naik ke tahap penyidikan atau tidak," kata Firman, kepada , Kamis, 27 Desember 2018.

Saat ini, polisi juga menunggu laporan dari kerabat korban lain yang mengalami masalah serupa.

" Kalau memang ke korban lain kita akan dalami lagi. Kita klarifikasi betul kalau memang ada sudah bisa dinaikkan ke penyidikan," ucap dia.

 

3 dari 7 halaman

Informasi dari Kerabat Korban

Kerabat korban tsunami, Badiamin Sinaga membenarkan pungutan itu. Biaya itu, dia sebut untuk membayar perawatan jenazah dan transportasi, berupa penggunaan formalin dan mobil jenazah.

" Kejadian itu benar terjadi. Mungkin dipikirkan karena korban orang Jakarta jadi akan mudah dimintai uang," ujar Badiamin.

Badiamin mengatakan, pembayaran tersebut untuk tiga korban meninggal dunia akibat tsunami. Tiga orang itu merupakan keluarga yang tinggal di Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur.

" Korban sedang berlibur ke Carita saat peristiwa tsunami terjadi," ucap dia.

Biaya untuk masing-masing jenazah terlampir berbeda-beda. Untuk korban bernama Ruspin Simbolon dikenai Rp3,9 juta. Biaya itu untuk pemulasaraan jenazah, formalin, dan mobil jenazah.

Sementara seorang balita bernama Satria, dikenai biaya Rp800 ribu, yang disebut untuk membayar biaya pemulasaraan jenazah dan formalin. Adapun korban bernama Leo Manulang, dikenai biaya Rp1,3 juta untuk pemulasaraan jenazah dan penggunaan formalin.

(ism, Sumber: merdeka.com/Dwi Prasetya)

 

4 dari 7 halaman

Geger Ambil Jasad Korban Tsunami Dipungut Biaya, Muncul Pengakuan Baru

Dream - Munculnya kabar biaya tinggi untuk pengantaran jenazah korban tsunami yang ditetapkan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Derajat Prawiranegara, Kabupaten Serang, ternyata dikeluhkan sejak lama.

Di hari biasa, ada pihak yang mematok biaya pengantaran jenazah. Untuk kisaran 10 kilometer pengantaran dikenai biaya Rp500 ribu.

Dilaporkan , warga Ciruas, Anton, mengalami nasib serupa. Saat membawa pulang jenazah ayahnya yang berada di sekitar Kabupaten Serang, dia dipungut biaya sebesar Rp500 ribu.

" Iya, cuma dekat masih Kabupaten Serang juga. Anton kan di Ciruas. Kena Rp500 ribu," ujar Anton.

 Kuitansi pembayaran pengantaran jenazah

Kuitansi pembayaran pengantaran jenazah

5 dari 7 halaman

Plt Kepala RS Bantah Ada Biaya

Biaya itu dia nilai cukup besar. Sebab, sebelumnya dia juga membayar biaya perawatan sang ayah.

" Kita juga lagi dapat musibah bapak meninggal. Sebelumnya juga dirawat," ucap dia.

Plt Kepala RSUD dr. Derajat Prawiranegara, Sri Nurhayati, baru mengetahui adanya pungutan tersebut. " Saya baru tahu dari Mas. Harusnya tidak boleh ada pungutan. Tapi, saya akan pastikan dulu," ujar Sri.

Sumber: Merdeka.com/Dwi Prasetya

6 dari 7 halaman

Biaya Pemulangan Jenazah Keluarga Aa Jimmy Capai Rp14,5 Juta

Dream - Munculnya dugaan pengutipan uang untuk pengambil jenazah korban Tsunami Banten ternyata dialami keluarga komedian terkenal Aa Jimmy. Pihak keluarga harus menebus biaya Rp14 juta untuk membawa pulang jasad pria yang bernama asli Heriyanto tersebut. 

Proses pemulangan jenazah yang diurus oleh Manajemen band Wali melalui Wali Care membeberkan kalau pihaknya sempat dimintai sejumlah uang oleh seorang dokter yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), Kabupaten Serang, Banten itu.

Tak hanya Aa Jimmy, Sekjen Wali Care, Andy Kristianto mengatakan, biaya mengurus pemulangan jasad keluarga Aa Jimmy yang menjadi korban tsunami Anyer yaitu Hati Nur Illah (Istri Aa Jimmy), Naisya Rafani Aradhia (anak Aa Jimmy), juga dikenakan biaya.

Pungutan yang sama dikenakan untuk mengurus pemulangan jenazah Julia Resnania (manager Grup Jigo), Meyuza (istri Ade Jigo).

Namun saat mengurus korban terakhir dari keluarga Aa Jimmy, Radea Putri Anindita yang ditemukan belakangan, pihak rumah sakit menggratiskan seluruh biaya. Diduga, pengelola rumah sakit tidak meminta biaya karena sudah ramai pemberitaan terkait hal tersebut.

Andy menuturkan, pada 25 Desember 2018, rumah sakit mematok biaya sebesar Rp2,3 juta untuk proses pemandian, pengkafanan dan formalin. Sementara untuk jenazah yang menggunakan keranda dibebankan biaya Rp4,5 juta.

" Total uang yang kami keluarkan semuanya Rp 14,5 juta," ujar Andy dikutip dari laman 

Andy melanjutkan, Wali Care juga tidak mengetahui secara pasti mengapa proses pemulangan jenazah Putri Anindita digratiskan oleh rumah sakit sementara yang lain bayar.

" Kami nggak tahu bayar atau tidak. Kami juga bingung, kemarin bayar tapi besoknya nggak bayar. Pada prinsipnya kami tidak ingin memperlama jenazah, jadi kami tidak berpikir gratis atau bayar," ucap dia.

7 dari 7 halaman

Polisi Turun Tangan

Dugaan adanya pungutan liar itu kini tengah diselidiki polisi. Kapolda Banten, Irjen Pol Tomsi Tohir mengatakan, kasus ini tengah ditangani oleh polda yang tadinya ditangani oleh Polres Serang.

" Perkara itu, dilimpahkan ke polda betul," kata Tohir.

Ia menjelaskan, penyidik saat ini masih memintai keterangan pihak rumah sakit dan para saksi.

" Belum ada tersangka. Semua sedang diperiksa dulu dalam tahap penyelidikan. Kalau sudah dilakukan penyelidikan, dan bila ditemukan adanya tindakan pidananya akan kita naikan ke penyidikan. Setelah itu akan diperiksa periksa lagi, kita gelar perkara. Barulah naik ke tersangka," ujar dia.

Beri Komentar
ANGRY BIRDS 2, Animasi Lucu dengan Pesan Tersembunyi - Wawancara Eksklusif Produser John Cohen