Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Potret Polwan Cantik Iptu Rita Yuliana (Foto: Instagram @ritayuliana_45)
Dream - Aparat Kepolisian Nusa Tenggara Barat menerima laporan adanya kasus pornografi di sejumlah kelab malam. Polisi langsung membentuk tim untuk mengungkapnya. Perwira muda, Iptu Rita Yuliana, ditunjuk oleh komandan untuk memimpin operasi tersebut.
Saat itu, Rita baru pulang dinas dari China. Dengan cepat lulusan Akademi Kepolisian 2013 itu membentuk tim kecil, membawahi empat anggota.
Rita bertugas di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Nusa Tenggara Barat, Unit Pelayanan Perempuan Dan Anak (Unit PPA), periode September 2019 sampai Juli 2020.
" Selama penyelidikan kegiatan saya selesai subuh, mendatangi beberapa kelab malam, lalu buat laporan ke pimpinan," kata Rita, dikutip dari merdeka.com, Jumat 19 Februari 2021.
Untuk menyelesaikan tugasnya, Rita harus menyamar. Cara itu dilakukan agar mudah masuk ke dalam kelab. Penampilannya berubah drastis dari ujung kaki hingga kepala.
" Saya pakai wig panjang," ungkap Rita yang kini jadi Kasat Lantas Polres Lombok Barat itu.
Setelah melakukan penyelidikan, Rita fokus pada satu kelab malam yang terindikasi melakukan pelanggaran. Rita dan timnya berpura-pura menjadi tamu. Memesan ruang khusus karaoke.
" Pembuktiannya harus benar-benar, enggak bisa hanya sekali. Harus kumpulkan bukti transfer, aksinya nyata baru kita lakukan penindakan," tutur polisi yang fasih berbahasa Mandarin itu.
Hasil penyelidikannya tidak sia-sia. Malam itu Rita mendapati dua wanita beraksi tanpa busana. Selain dua penari, diamankan juga seorang papi. Mereka dijerat Undang-Undang tentang Pornografi.
" Sistem pesannya tidak sembarangan. Satu penari bayarannya Rp3 juta," tuturnya.
Saat melakukan penindakan, Rita juga menyiapkan pakaian untuk para penari. Para pelaku tidak berkutik langsung dibawa ke kantor polisi.
" Kita bawakan daster dan baju dalaman," imbuhnya.
Untuk pria dipanggil Papi, kata Rita, rekeningnya dipakai untuk menampung uang transferan dari tamu.
Menurut Rita, praktik itu dilakukan secara terselubung. Pihak kelab malam mendapat teguran keras karena sistem pengawasannya tidak berjalan dengan baik.
" Ini dilakukan secara ilegal, pemilik kelab tidak tahu. Si penari ketika dapat orderan menyewa tempat tersebut," tandasnya.
Sumber: merdeka.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam