Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Zulfikar Berjuang Melawan Kanker Demi Kebahagiaan Ibunda
Dream - Perjuangan bocah 12 tahun untuk melawan penyakit mematikan kanker tulang sungguh teramat luar biasa. Tubuhnya terbaring lemas di bangsal anak kelas 3 Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta. Semangat Zulfikar untuk sembuh dan bangkit dari kanker sering ia ungkpan pada sang bunda.
Sakit kanker tulang belakang yang dialaminya membuat Zulfikar tak bisa banyak bergerak, ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur dan mengkonsumsi obat Morfin untuk menahan rasa sakit.
Kanker tulang belakang adalah salah satu jenis kanker yang tumbuh dan berkembang disekitar saraf tulang belakang atau dalam tulang belakang itu sendiri. Rasa nyeri yang ditimbulkan ini biasanya menjadi lebih parah saat malam hari.
Tahun 2009 lalu ia positif didiagnosa mengalami kanker tulang belakang stadium awal, namun karena keterbatasan biaya Zulfikar tidak menjalani kemoterapi seperti kebanyak penderita kanker. Ia hanya mengkonsumsi obat dan pengobatan paliatif atau sejenis penghilang rasa sakit.
" Saya sangat sedih dengan keadaan yang menimpa anak semata wayang saya, namun apa boleh buat biaya sekali kemoterapi menghabisi dana sekitar Rp 15 juta. Hanya doa dan pengobatan semampu saya yang bisa saya berikan pada Zulfikar" , ungkap Ibunya.
Kejala awal yang Zulfikar rasakan yakni nyeri dan pegal disekitar tubuh, namun sayangnya keluhan itu tidak segera direspon karena rasa sakit itu hanya sesekali saja datangnya. Saat Februari 2009 rasa nyeri hebat disertai pendarahan membuat panik seluruh keuarganya.
Tindakan pertama yang dilakukan yaitu biopsi di salah satu rumah sakit di Balikpapan. Namun usai melakukan biopsi ia tidak bisa berjalan dan segera dirujuk ke rumah sakit yang berada di Jakarta. Bersama sang ibu Zulfikar berjuang melawan penyakitnya itu. Sang ayah yang telah meninggalkannya lebih dulu menjadi semangat Zulfikar untuk terus hidup dan membahagiakan sang ibu.
Harapan hidup Zulfikar sungguh besar, " Ibu aku ingin sembuh, aku ingin hidup seperti teman-temanku yang lain, dan aku ingin melihatmu tersenyum bukan menangis lagi" , ungkapnya saat berada di kamar Rumah Sakit Dharmais, Jakarta.
Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:
1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
4. Isi di luar tanggung jawab redaksi
Ayo berbagi traffic di sini!
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya