Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ana Dan Matrozi (Foto: YouTube Matrozi Film Official)
Dream - Sebagian orang boleh saja menimbang bibit, bobot, dan bebet, dalam memilih jodoh. Mereka mengutamakan keturunan, tingkat ekonomi, dan kualitas pribadi, calon pasangan.
Namun, sebagian orang menganggap pertimbangan-pertimbangan itu tidak terlalu penting. Bagi mereka, asal sudah saling cinta tak masalah untuk menikah, tak peduli dari manasa asal-usulnya. Apalagi menimbang kaya dan miskin.
Seperti itulah prinsip pasangan bule asal Jerman, Ana, dan pemuda asal Indonesia, Matrozi. Dalam video yang diunggah ke kanal YouTube Matrozi Film Official, mereka menyatakan tidak terlalu mementingkan status sosial.
" Menurut saya, kaya dan miskin itu sama saja. Yang penting karakternya," ungkap Matrozi.
" Ya, itu penting mengutamakan karakternya," tegas Ana.
Sadar bukan lelaki bergelimang harta, Matrozi pun mulai bekerja keras demi membahagiakan Ana. Semua hal bakal ia lakoni demi menghasilkan uang dengan cara yang halal.
" Saya dulu itu kurang mampu, semua harus usaha sendiri. Mau dapat uang ya harus bekerja," kisahnya.

Ana menambahkan, kala itu sang suami menjajal segala pekerjaan untuk bertahan hidup, mulai menjadi kuli bangunan, pelayan restoran, penjaga kebun, tukang pijat, hingga kurir.
" Dulu dia jadi kuli bangunan, kerja di restoran, terus apalagi?" tanya Ana.
" Terus kerja di tanaman, tukang pijat, kurir, pokoknya semuanya saya lakukan," tambah Matrozi.
Matrozi mengaku hampir menghabiskan seluruh waktunya selama dua minggu untuk bekerja. Padahal, upah yang ia peroleh tidak seberapa.
" Capek, uang kerjanya itu juga enggak seberapa," terangnya.
" Wah, uang gajinya sedikit. Teru dua minggu (kerja) liburnya satu hari," tambah Ana.

Sikap tanggung dan pantang menyerah dengan keadaan, membuat Ana jatuh cinta kepada Matrozi. Menurutnya, memang sang suami kala itu termasuk miskin namun bukan sosok yang pemalas.
" Nah, aku lihat orangnya miskin tetapi dia bekerja keras, dia engak malas. Dia juga tidak boros," ungkap Ana.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya