Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Du Liyuan (Shanghaiist.com)
Dream - Seorang gadis 19 tahun dari Provinsi Shandong, Tiongkok telah menginspirasi netizen di negara tersebut. Gadis itu membuat catatan buku harian yang mendokumentasikan perlawanannya dalam menghadapi leukemia di sebuah kamar rumah sakit.
Apa yang dilakukan gadis bernama Du Liyuan itu terinspirasi oleh serial TV Jepang berjudul The Hours of My Life, yang berkisah tentang penderitaan seorang mahasiswi seni yang menderita ALS.
Liyuan memutuskan menulis setiap jengkal kisah hidupnya ke dalam sebuah buku harian, meski belum tahu kapan ia akan meninggal dunia.
" Saya ingin meninggalkan sesuatu yang bisa diingat oleh keluarga saya dan saya sendiri," kata Liyuan, seperti dikutip Shanghaiist.com dari laporan NetEase News, Rabu 7 Januari 2015.
Liyuan menimbang akan menyudahi semua perawatan medis yang dijalaninya dan kembali ke sekolah di sisa waktu yang ada. Dia juga berencana bepergian ke Cina bagian selatan. Selama ini dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk melakukannya.
" Tapi saya tidak bisa melakukan itu," kata Liyuan. " Menyerah dalam hidup terdengar terlalu egois. Orang tua saya membesarkan dan merawat saya setiap hari ketika sedang sakit. Jika saya menolak menjalani pengobatan ini, berarti saya mengecewakan mereka," katanya.
Liyuan didiagnosis leukemia saat liburan tahun baru China 2014. Sejak itu, ia telah menjalani enam kali kemoterapi dan 25 radioterapi. Hampir setiap hari selama pengobatan, dia mengalami tekanan darah rendah, pusing, muntah, dan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Apa yang paling disesali Liyuan adalah biaya pengobatan. " Biaya obat-obatan sekitar 4.000 yuan (Rp 8 juta) per hari. Kami sudah menghabiskan lebih dari 400.000 yuan (Rp 814 juta) sejak tahun baru lalu," kata ibu Liyuan.
" Mungkin kita tidak berdaya dalam menghadapi penyakit dan kematian, mungkin kita takut dengan penyakit yang mematikan, mungkin kita kehilangan semangat dan runtuh, tetapi ketika sekilas cahaya masuk ke hatiku dan menerangi kegelapan, aku memilih untuk menyambut harapan, merangkul waktu yang tersisa dan menikmati kebahagiaan," tulis Liyuan di buku hariannya.
Liyuan mengatakan kepada wartawan bahwa ia akan terus kuliah keperawatan jika dia nanti sembuh. " Saya ingin menjadi seorang dokter Hematologi dan menciptakan obat yang dapat menyembuhkan penyakit seperti yang saya derita," katanya.
Dokter memutuskan melakukan transplantasi sel induk di tubuh Liyuan menggunakan sumsum tulang ayahnya. Tapi Liyuan punya infeksi pada paru-paru dan operasi telah ditunda sampai setelah kesembuhannya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya