Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dusun Unik Di Gunungkidul
Dream - Ketika mendengar Kabupaten Gunungkidul, sebagian orang membayangkan daerah yang tandus dan kering.
Namun tak disangka ternyata di Gunungkidul terdapat sebuah dusun unik yang mungkin jarang diketahui orang.

Bukan saja subur dan asri, dusun tersebut memiliki keunikan yang terkait dengan masalah waktu.
Di dusun bernama Wotawati masyarakatnya selalu merasakan sinar Matahari yang datang terlambat.

Sebaliknya, mereka mendapatkan malam yang lebih cepat daripada wilayah lainnya di Indonesia.

Dalam video yang dibagikan Instagram @padukuhan.wotawati, tampak suasana dusun Wotawati yang hijau.
Dusun Wotawati masuk wilayah Desa Pucung, Kapanewon (setara kecamatan) Giripurbo, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.
Dusun ini memiliki fenomena alam unik yaitu selalu mengalami pagi yang telat, tapi malah lebih cepat.

Hal itu karena dusun ini baru diterangi sinar Matahari mulai pukul 08.00 pagi. Namun saat sore hari, Matahari seolah tenggelam lebih cepat.
Mulai pukul 16.00 hingga 16.30 WIB, suasana dusun yang juga disebut padukuhan itu sudah mulai gelap.
Dusun Wotawati sendiri diapit dua bukit di sebelah Timur dan Barat. Konon lahan dusun ini merupakan lembah Sungai Bengawan Solo Purba.

Karena berada di antara dua bukit yang menjulang tinggi di Timur dan Barat itulah, Wotawati selalu telat disinari Matahari dan lebih cepat mendapatkan malam hari.
Dusun Wotawati terdiri dari 4 RT dan dihuni 82 Kepala Keluarga (KK). Sebagian besar mata pencaharian warga adalah bercocok tanam atau bertani.
Sumber: Instagram
Lihat postingan ini di Instagram
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya