Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Langit Cerah Di Jakarta Saat Pagelaran Balap Mobil Listrik Formula E (Liputan6)
Dream – Hari itu, Sabtu 4 Juni 2022, ada yang terasa kontras di Jakarta International E-Prix Circuit (JIEC), Ancol, Jakarta Utara. Cuaca hari itu cerah pada pagi sampai siang hari. Tapi tidak ada sesajen macam bawang dan cabe rawit yang ditusuk lidi atau singing bowl yang dipukul oleh pawang hujan seperti yang terjadi di pagelaran MotoGP Mandalika beberapa waktu lalu.
Empat bulan lalu, pada saat sebelum gelaran MotoGp digelar di Mandalika, pembaca mungkin masih ingat sudah satu jam lebih hujan turun deras di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Petang itu, Minggu 20 Maret 2022, hujan deras itu membuat balapan MotoGP yang sedianya akan berlangsung pukul 15.00 WIT itu terpaksa ditunda. Namun, perlahan-lahan, hujan deras yang disertai petir menggelegar itu pun mulai mereda.
Saat itu seorang pawang hujan tertangkap kamera tengah duduk berjongkok menghadap singing bowl buatan Tibet yang terbuat dari perunggu berwarna kuning keemasan. Tak lama dia duduk berjongkok.
Ia pun kemudian memasuki areal paddock. Paddock merupakan tempat untuk tim balap MotoGp meletakkan perlengkapan hingga mempersiapkan motornya. Ini merupakan jalur masuk dan keluar pembalap dari garasi ke trek balapan. Tak semua bisa masuk ke sana, selain pembalap dan kru balap.
Tapi wanita yang mengenakan helm proyek berwarna putih itu bisa masuk ke sana. Ia pun berjalan di aspal depan paddock di tengah rinai gerimis. Sesekali dia membunyikan singing bowl-nya, seraya berteriak ke awan ketika hujan mulai mereda.
Aksi pawang hujan wanita yang diliput oleh stasiun televisi Dorna sebagai penyelenggara balapan MotoGP petang itu, sontak menarik perhatian. Termasuk dari para pembalap dan kru yang menunggu hujan reda di paddock.

(Rara sang pawang hujan di MotoGP Mandalika/Kapanlagi)
Entah benar karena pawang hujan atau tidak, 20 menit kemudian hujan berhenti. Lalu balapan pun bisa dimulai, meski lapangan sirkuit masih tergenang air.
Pawang hujan wanita itu pun viral karena dianggap benar-benar bisa menghentikan hujan. Pawang hujan itu adalah Rara Isti Wulandari atau biasa dipanggil Rara.
Tapi saat pagelaran Formula E di Ancol, ujung hidung Rara sama sekali tak terlihat. Pada acara itu, ia tidak lagi diminta bantuan jasanya. Entah, ada hubungan atau tidak antara pawang hujan dan kesuksesan sebuah acara, faktanya balapan mobil balap listrik Formula E berlangsung lancar dan dalam cuaca cerah.
Padahal tidak ada pawang hujan saat itu. Sementara untuk DKI Jakarta, pada pukul 14.00 di daerah Jakarta Timur malah sempat turun hujan.
Tak heran, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid di akun resminya @hnurwahid memuji fenomena pagelaran yang sukses itu walau tanpa melibatkan pawang hujan. Ia pun men-twett di Twitter: “ Dalam perjalanan ke lokasi Formula E, sebentar ada turun hujan lokal rintik-rintik. Dan Alhamdulillah, saya ikut saksikan sukses Formula E yang pertama di Indonesia; puluhan ribu penonton, tidak ada insiden di kalangan pembalap, tidak ada pawang hujan. Selamat untuk Jakarta & NKRI!”
***
Sebelum pagelaran Formula E digelar di Ancol, memang sempat ada kekhawatiran hujan akan turun saat acara.
Ketua Panitia Pelaksana Formula E Jakarta Ahmad Sahroni sendiri berharap Jakarta tak diguyur hujan saat gelaran balap mobil listrik Formula E pada Sabtu, 4 Juni 2022.
Dia menyebut, jika melihat prakiraan cuaca, wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya berpotensi diguyur hujan.
" Perkiraan cuaca ada hujannya, tapi belum tahu mudah-mudahan sih enggak hujan mudah-mudahan," kata Sahroni di Nasdem Tower, Jakarta Pusat, Rabu 1 Juni 2022, seperti dikutip Liputan6.
Dia pun bergurau saat ditanyai soal kemungkinan menggunakan jasa pawang hujan. " Pawangnya Sahroni saja," kata dia
Sementara itu, Event Director Formula E Operation (FEO), Gemma Roura Serra mengatakan, balapan mobil listrik Formula E Jakarta akan dihentikan jika terjadi cuaca buruk. Hal tersebut dilakukan demi keamanan dan kenyamanan bersama.
" Sangat jelas, kalau terjadi hujan sangat deras di arena balapan sehingga tidak bisa melihat, maka balapan akan stop. Tapi kalau terjadi hujan yang biasa tidak masalah," ujar dia dalam jumpa pers di Jakarta, Minggu 29 Mei 2022, seperti dikutip Merdeka.
Dia menyebut, sebelum balapan diputuskan untuk dihentikan, petugas keamanan akan lebih dulu mengecek kondisi lapangan. Nantinya, petugas yang akan menentukan apakah balapan aman dilanjutkan atau tidak.
" Di sirkuit sendiri sudah dilengkapi dengan drainase, dan itu membuat lintasan balap mengering dengan cepat. Hanya saat race director dan marshal melihat ada begitu banyak air, maka demi alasan keselamatan balapan akan berhenti. Kalau tidak ya tidak apa-apa," ujarnya.
Sedangkan Principle HSE Consultant Formula E Operation (FEO) Richard Bates menyebut, seluruh penonton juga akan diminta keluar jika cuaca makin ekstrem. Pihaknya memastikan mengutamakan keamanan dan keselamatan.
" Untuk public safety, jika ada cuaca ekstrem seperti semalam kita akan mengeluarkan semua orang dari grandstand. Jika cuaca berangin sangat kuat, kami akan men-guide semua orang untuk keluar dari struktur itu," ungkapnya.
Richard menyebut pihaknya akan terus memperhatikan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait prediksi cuaca di DKI Jakarta.
" Kami memiliki prediksi cuaca yang sangat baik, jadi kami menggunakan informasi dari BMKG untuk prediksi iklim dan cuaca. Kita tidak bisa mengubah cuaca, tapi kita punya rencana mitigasi," terangnya.
" Kami sudah melewati begitu banyak balapan dengan cuaca yang tidak baik, sehingga kami tidak terlalu khawatir," tutupnya.
Akan halnya Koordinator Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Miming Saepudin mengatakan, prakiraan cuaca sejatinya dapat diakses di situs resmi BMKG. Merujuk pada situs tersebut di hari pertandingan, prakiraan cuaca sementara yaitu cerah berawan dengan kecepatan angin 10 km per jam.
Berdasarkan kecepatan tersebut, Miming mengatakan bahwa kecepatan tersebut merupakan kecepatan angin normal. " Kecepatan 1-10 km/jam anginnya masih dalam kondisi normal," kata Miming seperti dikutip Merdeka, Senin 30 Mei 2022.
Tapi kepastian tidak adanya penggunaan pawang hujan dalam pagelaran Formula E di Ancol diputuskan oleh Gubernur DKI Anies Baswedan sebelum balapan.

(Anies Baswedan dan Jokowi di ajang Formula E Ancol/Liputan6)
Anies Baswedan menegaskan, dalam gelaran Formula E pada Sabtu 4 Juni 2022 tidak akan menggunakan jasa pawang jika terjadi hujan.
Hal tersebut disampaikannya dalam acara ngobrol santai dengan Co-Founder/Chief Championship Officer Operation Formula E, Alberto Longo di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis 2 Juni 2022 seperti dikutip Liputan6, dua hari sebelum balapan digelar.
" Satu kata, tidak ada pawang-pawangan," kata Anies.
Dia menegaskan, dalam perhelatan Formula E Jakarta, pihaknya sudah bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geografisika (BMKG) terkait perkembangan cuaca.
" Kita bekerja sama dengan BMKG untuk memonitor perkembangan cuaca. Bila terang kita syukuri, bila hujan kita syukuri. Semuanya adalah rahmat," kata Anies.
Mantan Menteri Pendidikan era Jokowi ini menjelaskan, perubahan kondisi cuaca yang tidak menentu adalah suatu hal yang biasa untuk warga Indonesia yang tinggal di garis Khatulistiwa. Bahkan Anies menyebut para pembalap Formula E pun sudah mengetahui pola tersebut.
" Kita tinggal di Khatulistiwa yang terbiasa dengan terang dan basah dan para pembalap sudah tahu mereka melakukan lomba balapan di tempat yang bisa terang bisa basah," kata dia.
Anies pun menyatakan, Pemprov DKI Jakarta selalu berpihak pada hal-hal yang berbau ilmu pengetahuan dan data. Sehingga tak perlu menggunakan jasa pawang hujan.
" Kami DKI Jakarta selalu menggunakan ilmu pengetahuan dan data di dalam bekerja," kata dia.
***
Pagelaran Formula E pada hari Sabtu terbukti berjalan sukses. Cuaca begitu cerah sehingga semua pembalap bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

(Cuaca cerah sampai saat penyerahan piala/FIAFormulaE)
Pawang hujan yang viral saat MotoGP Mandqalika, Rara sendiri mengomentari kesuksesan acara Formula E di Instagramnya @rara_cahayatarotindigo, sehari setelah pagelaran Formula E sukses dilaksanan tanpa pawang hujan.
“ Even Formula E sukses ya tentu saja aku happy. Even Formula E nggak pakai pawang ya aku nggak peduli. Ada yang menganggap aku Rara nggak kepake di even formula E,” tulisnya.
Ia menyebut kalau pun dia dihubungi panitia Formula E untuk menteralisir cuaca, dia tidak akan bisa. Karena pada saat bersamaan dia ada di luar kota.
“ Memang dengan adanya pawang hujan itu bisa meminimalisir kegagalan even. Tapi kadang ya ada juga pawang hujan yang gagal. Ada juga yang ternyata even yang diprediksi hujan ternyata tidak. Pawang hujan itu seperti antisipasi tim support doa yamg antara dibutuhkan atau tidak dibutuhkan,” kata Rara.
Sementara itu, netizen di media sosial Twitter cukup riuh setelah menyaksikan pagelaran Formula E berjalan sukses tanpa pawang hujan.
Akun @QianzyZ men-tweet: “ BUMN tidak mau menjadi sponsor, TV swasta memboikot, tidak pakai pawang hujan tapi Formula E tetap Sukses. Semua berkat doa Rakyat Indonesia.”
Akun @Robert_Piliang menulis dalam tweet-nya di Twitter: “ Ajang Moto GP Mandalika disponsori BUMN Rp. 3.8 Triliun bayar pawang Hujan 150 juta rupiah faktanya diguyur hujan deras. Ajang Formula E Jakarta tanpa disponsori BUMN, tanpa pawang Hujan, diprediksi BMKG bakal diguyur hujan, faktanya cuaca cerah.
Tak hanya itu tanggapan netizen. Akun @maspiyuaja menulis di twett: “ MotoGP Mandalika Pakai Pawang Tapi Hujan, Formula E Jakarta Tanpa Pawang Alhamdulillah Tidak Hujan.”
Sedangkan @MissKoral menulis: “ Maasyaa Allah Tabarakallah pak Anies gubernur indonesia, tanpa pawang hujan, tanpa mbak Rara, tanpa bantuan BUMN ,formula E berjalan lancar Pak @aniesbaswedan.”
Sementara @YanHarahap men-tweet: “ Syukurlah, Formula E tak perlu anggaran pawang hujan ratusan juta rupiah.”
Akan halnya @KimD0n4t men-tweet: “ Hujan lebat yang mengguyur Sirkuit Spa Francorchamps hingga lebih dari tiga jam tersebut benar-benar mengacaukan jalannya balapan ke-12 Kejuaraan Dunia Formula 1 2021. Seri GP F1 yang di atas Formula E pun tanpa Pawang Hujan. Bravo Formula E Jakarta 2022.”
Akun @zalymam juga menulis: “ Formula E ga pake pawang hujan malah cerah. MotoGP yang udah bayar (katanya) seratusan juta buat pawang hujan malah hujan. Susah sih kalau pikirannya dangkal, masa iya nganggarin acara resmi negara buat hal supranatural dan ga nampak.”
Riuh rendah netizen itu memang terasa di jagad Twitter usai pagelaran Formula E itu berjalan sukses di Ancol tanpa adanya pawang hujan.
Membandingkan penggunaaan pawang hujan di Sirkuit Mandalika dan Sirkuit Ancol memang digunakan netizen untuk memastikan satu hal: sebuah pagelaran pun bisa sukses tanpa pawang hujan. Pagelaran Formula E sendiri telah terbukti sukses tanpa menggunakan pawang hujan. Aneh? (eha)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya