Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Kebiasaan orang tua yang membekali anak-anak dengan perangkat teknologi memang bertujuan untuk mempermudah komunikasi dengan anak. Namun ternyata di sisi lain hal ini justru berpotensi memicu terjadinya tindak kejahatan.
Sir John Scarlett, Mantan Kepala Military Intelligence, Section 6 Inggris (MI6), mengatakan bahwa anak-anak sangat rentan terhadap serangan dari orang dewasa yang melacak gerakan mereka menggunakan teknologi Global Positioning System (GPS). Meningkatnya penggunaan perangkat pelacak ponsel dinilai bisa dimanfaatkan oleh para predator seksual.
Scarlett mengatakan bahwa para orangtua harus waspada tentang penggunaan smartphone dan tablet oleh anak-anak. Pasalnya, pedofil bisa saja meretas perangkat mobile untuk melacak pergerakan mereka. Seperti diketahui jika anak-anak kerap check in di suatu lokasi yang mereka kunjungi.
Bocornya informasi pribadi dan penggunaan layanan pelacakan menimbulkan risiko lebih besar bagi keamanan masyarakat dibandingkan pengawasan yang dilakukan negara. Menurutnya hal inilah yang lebih mengkhawatirkan, karena remaja cenderung acuh terhadap ancaman karena mereka merupakan generasi yang tumbuh dalam lingkungan teknologi.
Tidak dapat dipungkiri jika teknologi GPS dalam perangkat pintar memberikan penggunanya akses per peta online. Hal ini bertujuan utama untuk membantu sang pengguna melacak perangkatnya saat hilang. Namun kemudian teknologi ini berpotensi besar disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.
" Secara pribadi, yang paling saya khawatirkan adalah perangkat pelacakan. Misalnya aplikasi lokasi, yang kini mudah diperoleh. Pada awalnya Anda memberikan informasi tentang diri Anda dan setelah itu Anda bisa kehilangan kendali atas itu semua," ucap Scarlett seperti dikutip dari laman Telegraph.
Untuk itu, dia memastikan para orangtua berkewajiban juga bijak dan bisa menjelaskan bahaya dari penggunaan perangkat pelacakan. Karena para remaja telah tumbuh dengan teknologi sehingga mereka akan jauh lebih tidak peduli terhadap risiko yang ada.
" Ada banyak hal sederhana yang bisa dilakukan untuk melindungi diri sendiri seperti menggunakan password dan hal lainnya. Semua orang harus memahami, bahwa kita tidak bisa benar-benar yakin tidak akan ada penyusup," pungkas Scarlett.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya