Tragis, Bocah Umur 2 Tahun Ditinggal Sang Ibu Demi Suami Baru

Reporter : Maulana Kautsar
Rabu, 15 Januari 2020 07:00
Tragis, Bocah Umur 2 Tahun Ditinggal Sang Ibu Demi Suami Baru
Tubuhnya penuh luka memar. Dia pun `dibuang`.

Dream - Bocah perempuan berusia dua tahun ditinggalkan di depan rumahnya karena sang ibu tak ingin membesarkannya lagi.

Kisah gadis itu dilaporkan pekerja sosial asal Thailand di Facebook. Petugas Investigasi Lop Buri, Thailand, Letkol Thawatchai Nanthaphan, mengatakan, seorang wanita mengenakan helm tiba di pantai sosial 12 Januari dan menyuruh anak itu membunyikan bel panti.

Menurut laman World of Buzz, ketika staf membuka pintu, anak itu berdiri di ambang pintu sambil membawa tas dan sepucuk surat.

Dalam surat itu, sang ibu mengutarakan niatnya untuk menyerahkan putrinya ke panti sosial secara permanen. Alasannya, sang ibu tidak bisa merawat anak itu atau memberi anak itu masa depan yang baik.

1 dari 4 halaman

Tubuhnya Penuh Luka

Sang ibu merasa sangat miskin. Dia sekarang memiliki keluarga baru dan tempat tinggal baru, namun suami barunya menolak untuk mengadopsi putrinya.

“ Saya minta maaf karena melakukan ini. Namun saya pikir ini adalah solusi terbaik. Saya mencintai putri saya, tetapi saya memiliki kebutuhan,” ucap sang ibu.

Gadis itu membawa tas plastik yang berisi pakaian bayi, mainan lunak, dan barang-barang lainnya.

Selain itu, di tubuh bocah ditemukan memar. Bekas luka juga ditemukan di tubuh gadis itu. Diduga korban kekerasan dan pelecehan. Gadis itu kemudian segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.

2 dari 4 halaman

Perjuangan Petugas Difabel, Dirampok dan Dianiaya Demi Obati Ibu

Dream - Muhammad Helmi Firdaus Abdul Halid, 22 tahun, menjadi tulang punggung keluarga. Tak biasa, dia menjalani peran ini dengan menggunakan kursi roda. Kondisi tubuh itu karena hydrocephalus yang dialaminya.

Helmi bekerja sebagai pegawai kontrak yang bertugas menjaga dan membersihkan toilet umum di Taman Puchong Perdana, Selangor, Malaysia.

Dilaporkan World of Buzz, Helmi berangkat ke lokasi kerja sejak 05.00. Menggunakan kursi rodanya dia berjalan sejauh empat kilometer dari rumahnya ke stasiun LRT Bandar Kinrara.

Dia normalnya bekerja sekitar pukul 07.30 dan berakhir pukul 18.00. Dia akan menjalani hari yang berat dari pada umumnya pekerja normal.

Ketika kelelahan sudah melanda dia diizinkan beristirahat di warung di seberang toilet umum.

 

3 dari 4 halaman

Dirampok dan Dianiaya

Muhammad Hilmi Firdaus bekerja sebagai petugas kebersihan toilet (Foto: Youtube)© Muhammad Hilmi Firdaus bekerja sebagai petugas kebersihan toilet (Foto: Youtube)

Perjuangan Hilmi jadi tulang punggung keluarga (foto: Youtube)

Tantangan yang dihadapi Helmi bukan berasal dari pekerjaannya. Melainkan, kerapnya muncul orang tak bertanggung jawab yang merampok dan memalaknya.

“ Saya biasa meninggalkan rumah saya pada jam 4 pagi, tetapi setelah saya dirampok dan dipukuli, saya tidak lagi berani keluar secepat itu. Karena kejadian itu, kursi roda saya rusak dan saya harus menggunakan tabungan saya untuk membeli yang baru,” ucap Helmi.

Dia menghasilkan sekitar 600 ringgit, setara Rp2 juta, hingga 850 ringgit, setara Rp2,8 juta sebulan.

4 dari 4 halaman

Kondisi Keluarga

Dia menyerahkan semua uang itu kepada ibunya dan membiayai kebutuhan sehari-hari keluarganya.

“ Meskipun kami juga menerima 400 ringgit (Rp1,3 juta) sebulan dari Departemen Kesejahteraan Sosial, itu tidak cukup. Terkadang, saya makan satu kali sehari. Ketika tak punya uang, aku hanya akan minum air," kata dia.

Perjuangan Hilmi jadi tulang punggung keluarga (foto: Youtube)© Youtube

Perjuangan Hilmi jadi tulang punggung keluarga (foto: Youtube)

Ibunya, Hasazila, kata Helmi, dulu membantu biaya hidup keluarga dengan berjualan kue. Tapi, sang ibu berhenti jualan setelah kondisi jantung dan ginjalnya yang mengalami komplikasi dia terpaksa berhenti. 

Saudara laki-laki Helmi di sisi lain memiliki autisme dan tidak dapat bekerja.

“ Karena ibu saya didiagnosis menderita penyakit jantung dan ginjal awal tahun ini. Ibu memerlukan perawatan bulanan di rumah sakit, saya harus bekerja lebih keras,” ujar dia. (ism)