Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Kondisi Bulan Terpanas Dalam Catatan Sejarah. (Foto: Dhaka Tribune)
Dream - Analisis terbaru ilmuwan iklim menyebutkan bahwa suhu global Juli 2023 berada di atas suhu rata-rata bulanan.
Kisaran suhu bulan Juli 2023 diproyeksikan menjadi 1,3 sampai 1,7 derajat celcius dan akan mencetak rekor suhu global baru.
Perkiraan ini lebih panas dari rekor sebelumnya pada Juli 2019. Kenaikan suhu global tahun ini mencapai 0,2 derajat celcius.
Artinya, suhu rata-rata global pada bulan Juli 2023 diperkirakan mencapai 1,5 derajat celcius.
Namun kenaikan yang cukup signifikan ini bukan berarti program pembatasan suhu global dalam Perjanjian Paris (Paris Agreement) telah gagal.
Masalahnya, rata-rata suhu global tersebut diukur dalam skala waktu jangka panjang.
Kenaikan suhu bulan Juli 2023 yang berada pada tingkat maksimum menunjukkan bahwa tindakan mengurangi emisi masih belum memadai.
Selain itu, dunia kemungkinan akan gagal dalam menegakkan kesepakatan yang tertuang dalam Perjanjian Paris tersebut.
Sebelumnya, beberapa ilmuwan iklim sudah memperingatkan bahwa Juli 2023 kemungkinan akan menjadi bulan terpanas sepanjang sejarah.
Dr Karsten Haustein, ilmuwan iklim dari Universitas Leipzig, Jerman, yang pertama mengonfirmasi hal itu sekaligus memperkirakan suhu rata-ratanya.
Berdasarkan data awal Dr Karsten, termasuk prakiraan suhu hingga akhir bulan, hampir dapat dipastikan bahwa Juli 2023 akan menjadi bulan Juli yang terhangat.
Dr Karsten menyebutkan bahwa ada selisih yang lebar dengan -0,2 derajat celcius, (+/-0,1 derajat celcius) di atas catatan suhu sebelumnya.
" Tidak hanya akan menjadi Juli yang terhangat, tetapi juga bulan terhangat yang pernah ada dalam hal suhu rata-rata global absolut.
" Kita mungkin harus kembali ribuan bahkan puluhan ribu tahun untuk menemukan kondisi hangat serupa di planet kita," jelas Dr Karsten.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya