Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Keluarga Dikarantina, Bocah Penderita Cerebral Palsy Meninggal Tak Terurus. (Foto: Asia One)
Dream - Seorang remaja cacat di Kota Huahe, Provinsi Hubei, China, meninggal setelah ditinggalkan di rumah sendirian selama enam hari tanpa perawatan.
Beijing Youth Daily melaporkan remaja 17 tahun bernama Yan Cheng itu tinggal sendirian karena keluarga yang seharusnya menjaganya dikarantina setelah diduga terjangkit virus corona.
Cheng menderita cerebral palsy, yaitu cacat motorik parah yang membuat penderitanya harus dibantu dalam melakukan aktivitasnya sepanjang waktu.
Menurut pejabat setempat, Cheng meninggal pada Rabu, 29 Januari 2020. Pihak berwenang telah melakukan penyelidikan atas kasus ini.
Kisah menyedihkan ini berawal ketika Cheng bersama ayahnya, Yan Xiaowen, dan adiknya yang menderita autis berangkat dari Wuhan ke desa leluhur mereka di Kota Huahe, daerah Hongan, pada 17 Januari, untuk merayakan Tahun Baru China.
Xiaowen tiba-tiba menderita demam tiga hari kemudian. Dia dan anaknya yang autis dikarantina di sebuah fasilitas perawatan. Tinggal Cheng sendirian di rumah tanpa perawatan, makanan, dan teman yang menjaganya.
Ibu Cheng meninggal akibat bunuh diri sekitar setahun setelah kelahiran adik laki-lakinya yang menderita autis.
Khawatir bahwa Cheng tidak mendapatkan perawatan yang layak dari pejabat partai setempat yang dipercaya menjaga kesejahteraan bocah itu, Xiaowen memohon bantuan melalui Weibo, jaringan mirip Twitter, pada hari Selasa.
" Saya memiliki dua putra cacat. Putra pertama saya Yan Cheng menderita cerebral palsy. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, dia tidak bisa berbicara atau menjaga dirinya sendiri. Dia sudah berada di rumah sendirian selama enam hari, tanpa ada yang memandikannya atau mengganti pakaiannya. Dia mungkin belum makan atau minum," tulis Xiaowen.
Di postingan tersebut, Xiaowen juga menyertakan foto dirinya bersama Cheng. Selain itu, dia juga mengunggah foto KTP dan kartu kesehatan Cheng.
" Pemerintah dan rumah sakit tidak memiliki cadangan pakaian pelindung. Saya khawatir anak saya akan segera mati. Tolong semuanya, bantu kirim pakaian pelindung ke desa Yanjia di Kota Huahe, daerah Hongan, Provinsi Hubei!"
Xiaowen menulis di postingan lain bahwa dia telah diberitahu oleh pejabat partai desa bahwa putranya hanya diberi makan dua kali antara hari Jumat dan Selasa. Namun tak lama setelah menulis permintaan tolong tersebut, akun Weibo Xiaowen dihapus.
Menurut pejabat partai desa, mereka memang berencana untuk mengirim Cheng ke fasilitas karantina pada hari Rabu sehingga anak itu bisa dirawat di tempat yang sama dengan ayahnya. Tapi sayang anak itu meninggal dunia pada sore harinya di rumahnya.
Laporan Beijing Youth Daily juga menyebut bahwa bibi Cheng sudah tiga kali memberi makan dan dua kali mengganti pakaiannya dalam seminggu terakhir hidupnya.
Namun bibinya tidak bisa terus-terusan memantau keponakannya karena dia sendiri juga dalam kondisi tidak sehat.
Bibinya mengaku terakhir kali mengunjungi keponakannya itu pada hari Selasa. Saat itu kondisi Cheng menurun dengan cepat.
" Dia berbaring di kursi santai tapi kepalanya menggantung. Wajah dan mulutnya kotor, begitu pula selimutnya. Saya mencuci muka dan mulutnya dengan air hangat, mengganti pakaian dalamnya, dan memberinya sedikit air dan setengah mangkuk nasi, tetapi dia tidak bisa makan lagi," kata bibinya.
Seorang pegawai kotapraja Huahe mengatakan kepada Beijing Youth Daily bahwa pihaknya telah mengadakan penyelidikan atas kematian remaja itu.
" Sekarang, pengawasan sangat ketat. Tidak mungkin kami meninggalkan seorang anak laki-laki dengan cerebral palsy di rumah tanpa ada yang merawatnya," kata pegawai itu.
" Kami, tentu saja, telah melakukan pekerjaan kami. Tetapi faktanya dia telah meninggal. Otoritas yang lebih tinggi sedang menyelidiki kasus ini dengan adil," tambahnya.
Sumber: Asia One
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya