Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kaing Guek Eav, Alias Comrade Duch Saat Menjalani Persidangan Di Tahun 2010 Lalu (Foto: Extraordinary Chambers In The Courts Of Cambodia/ECCC)
Dream – Mantan kepala penjara era Khmer Merah, Kaing Guey Eay, meninggal dunia pada usia 77 tahun pada Selasa 2 September lalu.
Pria yang akrab dikenal dengan sebutan Comrade Duch itu adalah seorang tokoh senior dalam rezim komunis Khmer Merah, yang memerintah Kamboja dari tahun 1975 hingga 1979.
“ Duch meninggal dunia jam 00.52 waktu setempat, di Rumah Sakit Persahabatan Soviet Khmer di Phnom Penh,” ujar juru bicara pengadilan Khmer Merah, Neth Pheaktra.
Duch meninggal dunia di saat menjalani vonis hukuman seumur hidup oleh pengadilan PBB atas kekejamannya di masa lalu.
Sebelum meninggal dunia, pihak pengadilan mengakui bahwa Duch sudah sakit beberapa tahun terakhir. Namun tak ada keterangan rinci penyebab kematiannya.
Duch memimpin penjara kejam di era pemerintahan Khmer Merah yang dikenal dengan penjara Tuol Sleng atau S-21.
Di bawah kepemimpinannya, Duch memerintahkan penjaga untuk menyiksa para narapidana agar mengakui kesalahan yang tidak diperbuat mereka.
Para narapidana yang ditahan berasal dari berbagai lintas usia dan profesi, seperti anak-anak, guru sekolah, wanita hamil, bahkan para pejabat.
Pada awal penjara dibuat, narapidana didominasi pejabat pemerintahan sebelumnya. Khmer Merah menuduh mereka berkhianat dan menjadi musuh bagi pemerintahan.
Kekejaman Duch bukan hanya dengan menyiksa narapidana agar mengakui kesalahan, mereka juga disetrum, dipaksa makan kotoran, dan dibiarkan disengat kalajengking. Setelah itu, mereka akan dibunuh di sebuah tempat bernama " ladang pembantaian" di luar ibukota.
Penjaga tahanan Tuol Sleng didominasi kelompok usia 15-19 tahun yang bekerja sebagai petani. Mereka yang direkrut harus menjalani pelatihan militer selama berbulan-bulan. Mereka juga harus melupakan orang tua mereka dan hanya memikirkan revolusi bagi negara.
Latar belakang Duch yang seorang mantan guru matematika membuatnya sangat detail dan mampu mengubah bekas sekolah menjadi penjara yang amat kejam.
“ Semua hal yang terdapat di penjara harus disetujui oleh Duch,”ungkap seorang fotografer dan penulis Nic Dunlop. Dunlop juga yang menemukan persembunyian Duch pada tahun 1999 di dekat perbatasan Thailand, dua dekade setelah kelompok Khmer Merah jatuh.

Sepanjang hidupnya, Duch dikenal sebagai sosok kepala penjara yang amat kejam. Ia mengelola sebuah penjara bernama Tuol Sleng, dimana ribuan orang disiksa dan dieksekusi pada akhir 1970-an.
Duch juga merupakan pemimpin senior Khmer Merah yang bertanggungjawab atas kematian 1,7 juta masyarakat yang tak bersalah.
Di tahun 2010, pengadilan PBB memvonis Duch bersalah atas pembunuhan massal, penyiksaan dan kejahatan terhadap kemanusiaan di penjara Tuol Sleng. Duch sempat mengajukan banding namun ditolak. Ia akhirnya menjalani hukuman perdananya di tahun 2012 dengan vonis hukuman seumur hidup.
Saat persidangan, Duch mengakui kesalahannya dan merasa menyesali kejahatan yang diperbuatnya.
Norng Chan Phal, salah seorang yang selamat dari kekejaman Duch menceritakan kondisi mengerikan yang dialaminya dan orang tuanya saat berada di Tuol Sleng.Ia menjadi saksi di persidangan Duch di tahun 2010 lalu.
Saat itu, Chan Phal masih sangat kecil, orang tuanya digiring ke penjara dan diinterogasi oleh para petugas karena dicurigai memiliki hubungan dengan musuh bebuyutan Khmer Merah, Vietnam. Orang tuanya pun disiksa dan dibunuh.
“ Duch sangat kooperatif. Ia mengakui perbuatannya dan meminta maaf kepada semua korban, dan berharap bisa dimaafkan. Duch juga meminta maaf kepada saya, " ungkap kata Chan Phal dilansir dari Reuters.
Sumber Daily Star
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya