Anies Baswedan: Pejabat Harus Jadi Kotak Pos Kritikan, Tak Mau Terima Keluhan, di Rumah Saja Urus Burung

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Jumat, 8 Oktober 2021 18:01
Anies Baswedan: Pejabat Harus Jadi Kotak Pos Kritikan, Tak Mau Terima Keluhan, di Rumah Saja Urus Burung
Anies Baswedan mengatakan pihaknya telah melakukan perbaikan. Mulai dari pembangunan, perbaikan transportasi, hingga penanganan Covid-19.

Dream - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dalam acara Workshop Nasional PAN di Bali, yang digelar pada Senin 4 Oktober 2021, memaparkan pidato tentang terobosan selama menjadi orang nomor satu di Ibu Kota.

Dalam pidatonya, Anies mengatakan telah melakukan perbaikan, mulai dari pembangunan, perbaikan transportasi, hingga penanganan Covid-19.

Tak hanya itu, ia juga sempat menyinggung soal gaya kepemimpinan di Indonesia.

1 dari 5 halaman

Jangan Cuma Karya

Anies menceritakan tentang gagasannya dalam pengambilan kebijakan. Menurutnya, seorang pemimpin tidak bisa memikirkan karya saja tanpa gagasan.

Anies memegang teguh tiga hal dalam mengambil kebijakan, yakni gagasa, narasi, dan karya.

Apabila tidak ada gagasan dan narasi, kata dia, karya tidak memiliki makna. Dia pun menyesalkan sejumlah pihak yang mempersoalkan kata-kata. Sebab, gagasan memang dalam bentuk kata-kata. Menurut dia, jika tak ada kata-kata, maka tidak ada kitab suci.

" Tapi di balik kata-kata ada pesan ada gagasan, munculkan narasinya, baru karya. Kami di Jakarta pegang itu, gagasan, narasi, karya. Jangan sampai karya, karya, karya karya, tapi tidak ada gagasannya," jelas Anies.

2 dari 5 halaman

Pembenahan Moda Transportasi

Anies kemudian bicara tentang transportasi yang membuat kesetaraan antar sesama warga yang beraktivitas di Jakarta.

Dia membenahi moda transportasi dengan tujuan, setiap orang mulai dari presiden, menteri, CEO, office boy sampai pengangguran merasakan kesetaraan transportasi yang sama.

Kata Anies, pihaknya sudah membangun transportasi yang masif. Jalur bus di Jakarta yang awalnya 23 sampai 24 persen, kini menjadi 85 persen wilayah Jakarta. Jumlah penumpang perhari 360 ribu di tahun 2016, kini meningkat menjadi 1 juta orang.

Anies pun bercerita, Jakarta kota yang besar namun seperti terkotak-kotak. Antar warga masing-masing, tanpa ada kesetaraan.

" Karena pemerintahnya membiarkan ini semua diatur oleh market mechanism, tanpa intervensi. Kita tidak usah memerangi pasar, kita mengatur pasar untuk bisa membangun tujuan kita kesetaraan kebersamaan," jelas Anies.

Anies mencontohkan kesetaraan di sekitaran Bundaran HI. Di sana ada tiga mal yakni Grand Indonesia, Plaza Indonesia,dan Thamrin City. Kini para pengunjung bisa merasakan fasilitas pejalan kaki yang setara. Meskipun kemampuan ekonomi pengunjung Grand Indonesia dan Thamrin City berbeda.

" Yang masuk Thamrin City tidak berani masuk ke Grand Indonesia, yang masuk Plaza Indonesia tidak akan masuk ke Thamrin City," jelas Anies.

Kata Anies kondisi tersebut tanpa disadari terjadi, antar warga saling terkotak-kotakan meskipun beraktivitas di wilayah yang sama.

" Negara membiarkan itu hadir, pemprov DKI Jakarta mengubah itu semua. Sekarang semua harus disatukan, lewat apa? Pedestrian jadi satu," kata dia.

 

 

3 dari 5 halaman

Beri Contoh Karya Tanpa Gagasan

Anies kemudian bercerita tentang integrasi di Stasiun Cakra Selaras Wahana (CSW) di Jalan Trunojoyo, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Menurutnya, sebelum dirinya menjabat, antara stasiun dan transjakarta di daerah itu tidak tersambung.

Anies mengatakan, dari barat ke timur dibangun jalur busway, utara dan selatan dibangun MRT secara bersamaan tapi tidak tersambung. Menurut dia, kedua hal itu dibangun oleh Pemprov DKI.

" Itu tadi berkarya tanpa narasi tanpa gagasan," kata Anies.

Anies mengatakan, saat ini CSW sudah dibangun dan terintegrasi antara MRT dan Transjakarta. Bahkan menjadi salah satu tempat paling meriah karena didesain dengan warna warni lampu di malam hari.

" Bang Zul kapan-kapan kita ngevlog di sini. Karena ini menjadi salah satu tempat kunjungan," kata dia.

" Kita tidak mau mengerjakan ini semata-mata karya, tapi di belakangnya ada narasi dan gagasan," jelas Anies lagi.

4 dari 5 halaman

Konsep Mengelola Negara

Kemudian Anies berbicara tentang pengelolaan daerah maupun negara. Menurutnya, rakyat saat ini dianggap sebagai warga semata, sementara pemerintah administrator dalam pola interaksi sosial.

Kata Anies, harusnya rakyat juga dipandang sebagai customer. Pemerintah sebagai pelayan. Lalu polanya konsultasi, pemerintah melakukan sesuai dan dikonsultasikan ke masyarakat.

" Kita sering mengatakan jadi pelayan masyarakat," katanya.

Anies pun mengubah paradigma tersebut menjadi lebih kolaboratif dan partisipatif. Masyarakat kini bisa menjadi partisipan. Contohnya, pengelolaan rumah sakit kini banyak dikelola oleh swasta dalam arti masyarakat.

" Dulu transportasi Damri atau kereta api. Mana swastanya? Enggak ada. Sekarang partisipasi ada," jelas dia.

Anies mengatakan, kini pemerintah menjadi fasilitator, polanya menjadi partisipasi. Sektor swasta saat ini turut berpartisipasi.

Kini, kata Anies, masuk pada level ke empat. Pemerintah harus memandang dirinya sebagai administrator, service provider, fasilitator dan kolaborator.

" Kita (pemerintah) yang membangun kolaborasi. Lalu masyarakat dipandang sebagai kolaborator. Polanya kolaborasi," ujar Anies.

5 dari 5 halaman

Pejabat Harus Mau Dikritik

Soal tipe kepimpinan, Anies pun memiliki pendapat lain. Menurutnya, sebagai pejabat publik harus berani menerima kritikan dan diibaratkan sebagai kotak pos.

" Menurut saya juga ini paket kalau menjadi berada di wilayah publik harus siap jadi kotak pos kritik semua urusan," ujar Anies.

Lebih lanjut, Anies sebagai Gubernur harus mau mendengarkan keluhan dimanapun.

" Datang di pertemuan apapun harus siap mendengar keluhan, karena ya inilah paketnya berada di wilayah publik, kalau tidak mau menerima keluhan, tidak mau terima politik, di rumah saja, urus burung dan rumah tangga, kan saya melihara burung gitu," ujarnya.

Beri Komentar