Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kisah Bayi Baru Lahir Dijual Rp13 Juta Untuk Bayar Tagihan Rumah Sakit (Foto: Worldofbuzz.com)
Dream - Tagihan rumah sakit menjadi beban berat bagi sebagian orang. Banyak ornag bahkan harus menjual harta bendanya untuk menutupi biaya rumah sakit. Ada pula orang yang harus menjual bayinya untuk melunasi tagihan rumah sakitnya.
Seperti kisah pasangan asal Indonesia yang tinggal di Temerloh, Pahang, Malaysia, berikut ini. Mereka harus menjual bayi laki-laki yang baru lahir seharga RM4000 atau sekitar Rp13 juta karena menghadapi kesulitan akibat pandemi Covid-19.
Pasangan yang berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat ini baru berusia 20 tahunan. Mereka tidak memiliki cukup uang untuk merawat bayi. Mereka memutuskan untuk 'menjual' bayi mereka yang baru lahir untuk membayar tagihan di Rumah Sakit Sultan Haji Ahmad Shah di Temerloh, Malaysia.
Malangnya, pasangan ini juga tidak bekerja dan terbebani ketika rumah kontrakan mereka di Karak, Malaysia, kebanjiran tahun lalu.
Keputusan mereka menjual bayi itu menarik perhatian pasangan yang belum memiliki anak, sejak menikah sembilan tahun lalu. Mereka kemudian mengungkapkan keinginan untuk mengadopsi anak tersebut melalui grup WhatsApp, di mana mereka membaca tentang pasangan Indonesia dan bayi mereka yang baru lahir.

Meski semua tampak mudah, situasi menjadi rumit ketika terungkap bahwa bayi tersebut tidak dapat didaftarkan sebagai anak angkat karena persyaratan Departemen Pencatatan Nasional (JPN) bahwa ibu kandung harus hadir untuk dokumentasi.

Sayangnya, pasangan Indonesia itu tidak bisa dihubungi lagi dan sudah pindah dari rumah kontrakan mereka di Karak.
Menurut ibu angkat yang akrab disapa Hasnah itu, pasangan itu tak bisa dihubungi sejak bayinya diserahkan.
“ Kami kehabisan akal tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya, karena kami membutuhkan ibu kandung untuk mendaftarkan bayi sebagai anak angkat yang sah. Kita perlu melakukan ini untuk masa depan anak,” kata Hasnah.
Hasnah berharap agar orang tua kandung bayi segera menghubungi mereka untuk menyelesaikan proses pendaftaran.
“ Semua yang diminta NRD sudah kami lakukan, termasuk vaksinasi dan upaya melacak ibu kandung bayi tersebut. Sampai saat ini kami masih buntu,” lanjut Hasnah.
Sumber: worldofbuzz.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya