Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Kisah Haru (Foto: Instagram/rumahyatim)
Dream – Kisah haru datang dari seorang anak lelaki yang tengah berjuang agar dapat melanjutkan pendidikannya. Kesulitan ekonomi yang dihadapi keluarga membuatnya harus mencari uang sendiri dengan menjadi penjual daun kering.
Perjuangan bocah yang diketahui bernama Ponadi ini begitu menguras air mata. Harga setiap daun kering yang dijualnya bahkan tidak mencapai ribuan rupiah. Namun, ia tetap semangat melakukannya demi tetap menyambung sekolah.
Ceritanya bocah pegumpul daun kering ini membuat warganet tersentuh. Banyak dari mereka yang mendoakan dan memberikan dukungan atas usaha yang dilakukannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? Simak ulasannya berikut ini.

Seorang anak lelaki bernama Ponidi terpaksa berjuang dengan cara berjualan daun jati kering bersama dengan ibunya. Hal tersebut dilakukannya untuk mendapatkan uang tabungan yang kelak bisa digunakan untuk membayar kebutuhan sekolahnya.
Seperti dijelaskan dalam akun Instagram @rumahyatim, Ponadi akan langsung bekerja mengumpulkan daun jati kering setiap kali selesai belajar. Selain untuk biaya ekolah, penghasilan tersebut juga disisihkan untuk kebutuhan makan sehari-hari.

Harga jual daun kering tersebut rupanya tidaklah tinggi. Setiap kilogramnya, daun jati kering tersebut hanya dibeli seharga Rp400, tidak mencapai seribu.
Tentu saja penghasilan Ponidi tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan sekolahnya. Bahkan untuk sekadar makan, Ponadi dan sang ibu harus berjuang sangat keras.

Untuk membantu kebutuhan sekolah Ponidi, sang ibu mencoba mencari pinjaman kesana kemari. Sang ibu juga selalu berjuang banting tulang, demi memenuhi kebutuhan dirinya dan Ponidi.
Sang ayah yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga telah meninggal sejak Ponidi berusia 10 tahun. kini Ponidi dan sang ibu lah yang terus berjuang demi kehidupan mereka.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam