Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Jenderal Nora Lelyana (Foto: Instagram/@noralelyana)
Dream – Memilih profesi sebagai anggota militer harus siap dengan segala risikonya. Tentu saja tidak mudah untuk mendapatkan posisi menjadi personel TNI. Ada proses seleksi ketat mulai dari fisik hingga kecerdasan.
Apalagi bagi para perempuan yang memiliki keinginan untuk masuk ke dalam bagian dari militer. Tentu saja memerlukan perjuangan yang lebih ekstra.
Namun Laksamana Pertama Nora Lelyana membuktikan bahwa perempuan mendapat kesempatan yang sama untuk menjadi perwira tinggi di jajaran militer.
Laksamana Nora menjadi komandan wanita pangkalan TNI AL pertama di Indonesia saat berpangkat sebagai Kolonel. Yang membanggakan, pangkalan militer yang dipimpinnya berada di area dengan risiko tinggi
Penasaran seperti apa kisahnya? Mari kita mengenal sejenak 8 potret Nora Lelyana komandan wanita pangkalan AL pertama yang kini sudah jadi jenderal.

Dilansir dari video Metro TV yang dibagikan oleh kanal YouTube LIGHT REVIEW, sejak kecil Nora Lelyana memiliki cita-cita menjadi seorang professor.
Kemudian ia memilih untuk mengambil jurusan dokter gigi. Akan tetapi siapa sangka akhirnya Nora Lelyana berakhir menjadi seorang prajurit militer professional.

Tak hanya sekadar menjadi prajurit, Kolonel Laut Nora juga meraih prestasi membanggakan. Ia ditunjuk menjadi Komandan Pangkalan Laut di Dumai, Provinsi Riau.
Penugasan tersebut diberikan oleh Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Bernard Kent Sondakh pada tahun 2003.

Tentu saja penunjukan tersebut merupakan peristiwa pertama seorang perwira Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal) memimpin sebuah pangkalan militer.
Nora Lelyana yang saat itu sudah berpangkat Kolonel menjabat sebagai Komandan Wanita Pangkalan TNI AL pertama di Indonesia.

Menjadi komandan wanita pangkalan laut pertama, Nora sudah ditempatkan di wilayah yang rawan kasus.
Tak tanggung-tanggung, kasus yang kerap terjadi di Dumai dinilai lumayan serius. Mulai dari penyelundupan kayu ilegal hingga perdagangan manusia.

Kendati demikian Nora tetap menerima tugas dan melaksanakannya sebaik mungkin. Kemudian ia dinilai sukses mengemban amanah menjadi seorang Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut di daerah rawan kasus tersebut.
Kesuksesannya inilah yang menjadi titik awal perwira wanita Angkatan Laut mampu memimpin pangkalan di era selanjutnya.

Sudah sepantasnya Nora merasa bangga dan bahagia. Tetapi dia mengaku saat itu dirinya tidak bisa memikirkan mengenai perasaannya. Nora hanya memikirkan bagaimana dirinya bisa melaksanakan tugas yang nantinya akan datang.
“ Pada saat itu juga saya sagat excited ya. Pertama tentu saja saya bersyukur kepada Allah Swt yang memberikan amanah kepada saya. Saya enggak sempat berpikir perasaan saya, yang saya pikirkan adalah bagaimana saya bisa melaksanakan tugas ke depan ini dengan tidak mengecewakan TNI Angkatan Laut pada saat itu,” ucap wanita yang kini sudah berpangkat Laksamana Pertama TNI drg. R.A. Nora Lelyana, M.H.Kes., F.I.C.D.
“ Saya jangan sampai mengecewakan dan membahayakan kedaulatan negara khususnya daerah yang menjadi kepercayaan saya. Itu saja,” tambahnya.

Nora berusaha melaksanakan tugasnya sebaik mungkin. Kerja kerasnya itu pun membawanya menuju kesuksesan. Tetapi ia tak pernah merasa hebat dengan jabatan serta prestasi tersebut. Menurutnya sang pemimpin lah yang hebat sebab mampu menggali potensi dari para prajurit.
“ Saya tidak merasa hebat. Menurut saya yang hebat adalah pemimpin saya yang bisa mengetahui atau menggali potensi prajuritnya yang memberikan kepercayaan kepada saya. Itu yang menurut saya hebat. Saya tinggal melaksanakan kesempatan yang diberikan, kepercayaan yang diberikan ini semaksimal mungkin. Karena saya dengar waktu itu Bapak Kasal sendiri menyampaikan ‘Dua bulan tidak mampu, ganti’. Di situlah saya juga terpacu. Saya di sini tidak minta, saya di sini dapat kepercayaan pastilah saya harus maksimal,” jelasnya.

Ia mengaku memiliki target selama enam bulan. Tiga bulan pertama konsolidasi ke dalam dan membangun kepercayaan dari lingkungannya untuk menyusun kekuatan. Sementara tiga bulan kedua ia menjadikan daerah tersebut aman.
“ Tiga bulan kedua saya jadikan daerah yang saya pimpin ini menjadi daerah yang aman dan utamanya pangkalan didirikan adalah untuk mendukung satuan operasi yang bertugas di wilayah itu. Itu utamanya, jadi saya harus membuat pangkalan itu menjadi dukungan, memberikan dukungan logistic dan administrasi yang memuaskan,” jelas wanita yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Perawatan Personel TNI Angkatan Laut.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya