Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Isi Chat Harianto Dan Murid 'nyasar' Nya (Foto:Facebook/Harianto Andi Ma'tu)
Dream - Para pelajar masih harus menjalani sekolah online akibat masih tingginya angka penularan Covid-19 di Indonesia. Para guru mungkin sudah terbiasa menggunakan layanan aplikasi daring untuk memudahkan penyampaian materi hingga penilaian tugas.
Di balik pro dan kontra proses sekolah online, berbagai kisah unik antara guru dan siswa ini ramai dibagikan di media sosial. Semuanya menjadi warna tersendiri di tengah hiruk-pikuk pandemi yang masih belum usai hingga ini.
Belakangan sebuah kisah lucu juga dialami seorang guru asal Mamuju, Sulawesi Tengah ini. Guru bernama Harianto Andi Ma'tu mengaku baru sadar sang murid yang selama 3 bulan menghubunginya melalui aplikasi Whatsapp ternyata berasal dari sekolah yang berbeda, bahkan tidak berada di kabupaten yang sama.
Lalu bagaimana sebenarnya kisah mula Harianto dan anak didik beda sekolah itu? Melansir dari Facebook pribadinya, Harianto Andi Ma'tu berikut kisahnya.
Kisah lucu Harianto dimulai pada 29 Juli 2020, seorang murid mengirimkan tugasnya melalui aplikasi Whatsapp. Seperti biasanya, Hari memeriksa nama dan alamat siswa, mulanya ia sempat heran tatkala alamat yang dituliskan berbeda, tapi ia tak ambil pusing dan menganggap siswanya hanya salah ketik saja.
Tak hanya salah menulis alamat, Harianto juga disapa dengan sebutan 'bu' yang membuat dirinya heran.

" Disapa Bu pertama kalinya tak masalah, mungkin belum kenal. Padahal di awal, saya telah menemui dan memperkenalkan diri ke semua siswa baru (kecuali yang berhalangan hadir)," ceritanya di awal.
Kejanggalan makin terlihat tatkala di bulan Agustus, sang siswa kembali mengirim tugas. Lagi-lagi siswa kelas 7 IPA itu menyebut Harianto dengan sapaan 'bu'.
Kali ini Harianto mulai curiga dan bingung. Akhirnya dia memutuskan untuk menegur sang siswa dan memintanya memanggil dengan sapaan 'pak'.
Harianto yang masih dipanggil 'bu' oleh siswanya sampai mencantumkan nama lengkapnya dengan harapan siswanya sadar dan menyebutnya 'pak'.
Selama menjalani sekolah online, Harianto yang menggunakan aplikasi belajar online untuk memberi tugas dan modul makin dibuat curiga. Namun semuanya sempat ditepis karena nama siswa yang menghubunginya memang mirip dengan murid yang mengirim tugas melalui aplikasi.

Kecurigaan Harianto akhirnya terkuak saat sang siswa mengklarifikasi nama gurunya pada 24 September lalu.
" 24 September 2020, ananda kembali bertanya perihal tugasnya dan mengklarifikasi nama gurunya, dengan Ibu U..?" tambah Harianto di laman Facebooknya pada 25 September 2020 lalu.
Setelah itu, Harianto baru tersadar bahwa sang siswa yang selalu menghubunginya itu bukanlah murid dari sekolah tempatnya mengajar.
" Astaga...baru sadar ananda sepertinya bukan siswa dari sekolah kami," tambah pria itu.

Untuk menguatkan klarifikasi sang siswa, Harianto langsung memeriksa lebih detil pada tugas yang telah dikumpulkan murid itu. Akhirnya ia menemui nama dan no ponsel yang berbeda dan guru yang dimaksud adalah rekannya di kabupaten tetangga.
" Saya kembali periksa foto jawaban modul yang telah dikirimkannya. Pada foto pertama tak ada yang aneh (kecuali alamat tadi), pada foto modul tugas ke 2 dan 3, saya perhatikan pada catatan lembar tertulis nama dan nomor ponsel berbeda, bukan milik saya (benar bahwa ananda bukan siswa kami). Tertulis nama dan nomor adik kelas, teman, rekan saya di kabupaten tetangga," kisahnya.
Harianto mengaku bahwa modul yang ia buat memang dibagikan ke beberapa rekan sesama guru. Dan kemungkinan guru di kabupaten itu juga menggunakan modul yang sama.
" Modul ini pernah saya bagikan ke rekan sejawat, termasuk beliau untuk bersama menguji efektivitas modul ini," jelasnya.
Kisah kocak antara guru dan siswa tersebut kini viral di media sosial facebook. Warganet dibuat terpingkal dengan kisah Harianto. Beberapa juga salut karena Harianto masih mengizinkan sang murid untuk belajar dengannya meski salah 'alamat'
Hahahahaha lamanya nyasar," ujar salah seorang warganet.
" Kak lucu, sejak awal dipanggil ibu," tambah yang lain.
" Endingnya mengharukan. Siswa tsb tetap boleh belajar bersama Bapak. Dia jd punya 2 guru IPA. Salut, Pak Guru," puji warganet lainnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya