Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Krisis Sri Lanka, Saat Rajapaksa Dipaksa Massa Hengkang dari Istana

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 25 Juli 2022 20:45
Krisis Sri Lanka, Saat Rajapaksa Dipaksa Massa Hengkang dari Istana
Presiden Gotabaya Rajapaksa terpaksa lari dari negara itu.

Dream – Barikade besi yang didirikan tentara Sri Lanka tak menciutkan  nyali massa demondtran. Massa yang marah dan turun ke jalan pada Sabtu 9 Juli 2022 itu, terus berdatangan dari segala penjuru. Jumlah mereka ratusan ribu orang. Mereka mengepung Istana Presiden Sri Lanka di ibukota Kolombo dari segala arah.

Tentara mencoba membendung massa yang datang dengan menembakkan gas air mata dan menyemprotkan air. Tapi tekad massa sudah bulat. Satu persatu barikade penghalang mereka singkirkan. Bahkan, massa bisa menduduki mobil pengendali massa milik aparat yang bertugas menyemprotkan air ke massa.

Jumlah tentara yang berjaga  tidak seimbang dengan jumlah massa yang datang. Alhasil, jebollah pertahanan aparat keamanan. Massa pun merangsek masuk ke Istana Kepresidenan Sri Lanka yang selama ini dikenal tertutup dan tidak bisa diakses sembarang orang.

Massa demonstran menyerbu Istana Presiden Sri Lanka

(Massa demonstran menyerbu Istana Presiden Sri Lanka/Sky News)

Akhirnya massa tumpah ruah di dalam Istana. Mereka memutuskan masuk ke dalam kolam renang. Ada yang masuk ke kamar tidur, lalu berswafoto di atas kasur. Atau bersantai di sofa mewah yang biasa diduduki presiden dan keluarga.

Ada juga massa yang duduk di meja rapat. Bermain kartu remi di meja ruang tamu. Atau mencoba peralatan gim di ruang olehraga. Massa benar-benar menguasai Istana Kepresidenan. Video tentang aksi massa di dalam Istana itu beredar secara luas di media sosial.

Massa menduduki Istana Presiden Sri Lanka

(Massa menduduki Istana Sri Lanka/Sky News)

Suasananya benar-benar meriah. Mirip seperti  ketika massa menyerbu Istana Malacang Filipina dan mengusir Presiden Ferdinand Marcos kabur dari negara itu pada tahun 1986 silam.

Di Sri Lanka, Presiden Gotabaya Rajapaksa –-seperti halnya Marcos— juga terpaksa melarikan diri dari istana dan negaranya. Sempat kabur ke Maladewa, Rajapaksa yang dipaksa massa enyah dari istana, kabur ke Singapura. Pada hari Kamis 14 Juli 2022 dia mengirimkan surat pengunduran dirinya sebaga presiden lima hari kemudian melalui email ke ketua parlemen.

Tak puas menyerbu istana, pada malam harinya, massa juga menyerbu kediaman pribadi Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe. Meski telah coba diusir lewat tembakan gas air mata oleh aparat keamanan, massa berhasil masuk dan membakar kediaman pribadi politisi senior yang ditunjuk Gotabaya Rajapaksa sejak bulan Mei lalu. Rumah pribadi itu pun hangus jadi arang.

Rumah PM Ranil Wickremesinghe. dibakar massa

(Rumah PM Ranil Wickremesinghe. dibakar massa/ Ahenad India)

Usai Gotabaya Rajapaksa mundur, Ranil Wickremesinghe lalu ditunjuk parlemen sebagai presiden sementara sejak 15 Juli.  Meskipun Wickremesinghe didukung oleh koalisi penguasa negara yang dipimpin oleh nasionalis Sri Lanka Podujana Peramuna (SLPP), para demonstran telah meminta Wickremesinghe untuk mundur sebelum pemungutan suara presiden digelar.

Dan, dalam pemungutan suara rahasia pada hari Rabu 20 Juli 2022, parlemen Sri Lanka  memilih Ranil Wickremesinghe yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri selama enam kali, sebagai Presiden baru negara Sri Lanka.

Setelah pemungutan suara rahasia hari Rabu, Wickremesinghe dapat tetap menjabat sebagai Presiden hingga 2024. Tapi dia sangat tidak populer di kalangan publik Sri Lanka. “ Para pengunjuk rasa melihatnya sebagai sosok yang melanjutkan kebijakan Gotabaya,” kata Bhavani Fonseka, seorang pengacara hak asasi manusia dan peneliti senior di Pusat Alternatif Kebijakan di Kolombo, seperti dikutip majalah Time.

Penunjukan presiden baru itu terjadi di tengah krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara itu. Ketika inflasi melonjak di atas 50 %, mendorong lebih dari 2 juta orang dari negara berpenduduk 22 juta itu ke bawah garis kemiskinan dan menyebabkan kekurangan yang meluas dalam barang-barang penting seperti makanan, bahan bakar dan obat-obatan.

Warga Sri Lanka antre beli gas

(Warga Sri Lanka antre beli gas/Refini TV)

Kelangkaan barang itu sendiri telah memicu protes massal sejak bulan Maret 2022. Para pengunjuk rasa telah mengadakan demonstrasi yang mengecam krisis ekonomi selama lebih dari 100 hari sebelum akhirnya menyerbu masuk ke dalam gedung Istana Presiden Sri Lanka pada 9 Juli.

***

Gotabaya Rajapaksa terpilih sebagai Presiden pada 2019 dan mulai menjabat beberapa tahun setelah kakaknya, Mahinda Rajapaksa, menjabat sebagai presiden pada tahun 2005-2014.

Setelah pemilihannya, Gotabaya menunjuk Mahinda sebagai Perdana Menteri. Mahinda mengundurkan diri pada Mei tahun ini, sebagai upaya untuk menenangkan protes sambil menjaga adiknya tetap berkuasa.

Gotabaya juga telah menunjuk anggota keluarganya yang lain untuk posisi kunci. Saudaranya Basil Rajapaksa ditunjuk menjadi Menteri Keuangan, Menteri Irigasi dijabat Chamal Rajapaksa dan Menteri Olahraga dan Pemuda juga dijabat Namal Rajapaksa.

Para pengunjuk rasa menyalahkan keluarga Rajapaksa —dinasti yang kuat secara politik dan memiliki pengaruh besar di Sri Lanka selama dua dekade terakhir— atas salah urus dan korupsi yang telah menjerumuskan Sri Lanka ke dalam krisis ekonomi.

“ Aliran pendapatan telah menurun tetapi biaya hidup naik hampir dua kali lipat,” kata Ahilan Kadirgamar, seorang ekonom politik di Universitas Jaffna, di utara Sri Lanka. “ Orang-orang bertanya: mengapa ini terjadi pada kita? Apa yang salah?"

Sri Lanka telah lama mendapat nilai bagus dalam indikator pembangunan kesehatan dan pendidikan, mengingat kebijakan perawatan kesehatan dan pendidikan gratisnya. Tetapi negara ini salah urus secara ekonomi. Dampak pandemi pada pariwisata, perang di Ukraina yang mendorong harga pangan dan bahan bakar naik, dan kebijakan pemerintah untuk melarang bahan pupuk kimia, semua berkontribusi pada krisis negara.

Pandemi membuat Sri Lanka menutup perbatasannya selama lebih dari setahun —menghasilkan pukulan ekonomi besar-besaran bagi negara yang sangat bergantung pada sektor pariwisatanya.

Pada Maret 2020, pemerintah Sri Lanka tahu situasinya mengerikan, kata para ahli. “ Mereka bisa saja mulai membatasi impor saat itu untuk menghemat cadangan devisa, tetapi baik pemerintah maupun oposisi tidak mau melakukannya. Karena mereka begitu terjebak dalam paradigma liberalisasi perdagangan Bank Dunia, IMF sehingga menyentuh impor adalah tabu sampai Anda benar-benar tidak bisa,” kata Kadirgamar.

Sebaliknya, bank sentral mulai mencetak lebih banyak uang untuk menangani penipisan cadangan devisa yang disebabkan oleh penurunan pariwisata, sehingga memicu rekor tingkat inflasi.

Kemudian, dalam upaya menghemat uang dan mengarahkan negara ke pertanian organik, pemerintah melarang pupuk kimia dalam langkah yang dikritik secara luas. Larangan itu berlangsung dari April hingga November 2021 dan menyebabkan pengurangan secara drastis hasil panen dan memicu inflasi harga pangan di seluruh negeri. Kebijakan itu akhirnya dicabut setelah pecah kerusuhan.

Sri Lanka kemudian gagal membayar utangnya untuk pertama kalinya dalam sejarah pada April tahun ini.

Keluarga Rajapaksa, yang dekat dengan Wickeremesinghe, dikenal di negara itu karena berhasil menindak pemberontak Macan Tamil dan  mengakhiri perang saudara 1983-2009. Macan Tamil telah mencoba dan gagal dalam upaya mereka untuk menciptakan negara terpisah bagi etnis minoritas Tamil Sri Lanka, yang sebagian besar beragama Hindu, di utara negara itu.

Dengan melakukan hal itu, keluarga Rajapaksa —bagian dari mayoritas Buddha Sinhala— mendapatkan reputasi di kalangan nasionalis Sri Lanka sebagai pahlawan perang. Meskipun kepresidenan Mahinda berakhir pada 2014, keluarga itu kembali berkuasa melalui Gotabaya pada 2019 setelah serangan teror yang diilhami ISIS di beberapa gereja dan hotel mewah selama Paskah menewaskan lebih dari 250 orang di Kolombo.

Demonstrasi di Sri Lanka

(Demosntrasi di Sri Lanka/The Week)

Para pengunjuk rasa tampaknya menentang Wickremesinghe seperti halnya Rajapaksa. Tuntutan utama para demonstran adalah untuk menghapuskan kantor eksekutif, yang mencakup presiden dan perdana menteri Sri Lanka, untuk memberi jalan bagi pemerintah sementara selama satu tahun untuk membantu memulihkan ekonomi.

***

Sore hari itu cukup panas di Galle Face Green, pusat gerakan protes para pemuda di Sri Lanka. Di atas lautan tenda itu terdengar suara seorang wanita, menyanyikan lagu perjuangan yang unik.

Selama berbulan-bulan, para pengunjuk rasa ini telah berada di garis depan gerakan Aragaya yang beranggotakan jutaan orang --dinamai menurut kata Sinhala untuk " perjuangan."   Mereka lah yang menyerukan pengunduran diri Gotabaya Rajapaksa.

Rakyat Sri Lanka menganggap Gotabaya dan kakak laki-lakinya, mantan presiden Mahinda, bertanggung jawab atas kehancuran ekonomi negara mereka.

Dengan kepergian Rajapaksa, pengunjuk rasa mengalihkan perhatian mereka ke Ranil Wickremesinghe, mantan perdana menteri yang tidak populer  dan sekarang menjabat sebagai presiden baru.

Presiden Sri Lanka yang baru Ranil Wickremesinghe

(Presiden Sri Lanka yang baru Ranil Wickremesinghe/Taaza News)

Dia dipandang sebagai seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan Rajapaksa.

Sebagai presiden, Wickremesinghe memiliki sedikit legitimasi di mata rakyat, setelah gagal dalam kampanye kepresidenan sebelumnya dan kehilangan kursinya sendiri di parlemen pada tahun 2020. Dia terlihat mendapatkan posisi teratas karena keadaan, setelah Rajapaksa mengangkatnya saat kabur secara tergesa-gesa.

Tetapi Wickremesinghe telah bersumpah untuk mengikuti proses konstitusional, dan tetap berkuasa sampai parlemen memilihnya sebagai presiden baru pada hari Rabu. Dia menang dengan dukungan partai Rajapaksa yang berkuasa Sri Lanka People's Front (SLPP) yang mendominasi parlemen.

Aktivis Jeana De Zoysa seperti dikutip BBC mengatakan: " Saya benar-benar muak dengan hasil pemungutan suara. Saya tidak percaya bahwa 134 orang, anggota parlemen yang seharusnya mewakili rakyat, telah sepenuhnya mengabaikan keinginan rakyat. Ranil adalah politisi paling gagal dalam sejarah Sri Lanka."

Sementara itu, jam terus berdetak untuk Sri Lanka. Gubernur bank sentralnya mengatakan bahwa tidak pasti mereka memiliki cukup mata uang asing untuk membeli bahan bakar setelah akhir bulan ini.

Negara ini sangat membutuhkan seorang pemimpin untuk bernegosiasi dengan Dana Moneter Internasional atau IMF untuk bailout atau dana talangan yang sangat dibutuhkan dari utangnya.

Kekuatan gerakan Aragaya adalah sifatnya yang organik dan tanpa pemimpin. Itulah yang membuatnya begitu baik dalam pemberontakan massal spontan. Tetapi juga membuatnya sulit untuk diprediksi atau dikendalikan.

Massa Sri Lanka membakar bus

(Massa Sri Lanka membakar bus/Bloomberg)

Dalam beberapa bulan terakhir para demonstran telah membakar rumah anggota parlemen, serta kediaman pribadi Wickremesinghe dan rumah leluhur Rajapaksa.

Tetapi tidak peduli pilihan sulit yang terbentang di depan bagi orang-orang Sri Lanka dalam beberapa hari dan minggu mendatang, mereka telah mencapai banyak hal.

Pemberontakan rakyat ini untuk pertama kalinya telah menyatukan tiga komunitas besar - Sinhala, Tamil dan Muslim  untuk tujuan bersama. Pria, wanita, anak-anak, biksu Buddha, pendeta dan biarawati Kristen, serta pengusaha Muslim semuanya bergabung.

***

Pada tanggal 21 Juni, ratusan pengendara tuk-tuk (seperti bajaj), sepeda motor, mobil, dan bus berbaris di sebuah pompa bensin di tepi Kurunduwatta Kolombo, sebuah lingkungan jalan yang dipenuhi pepohonan dan rumah-rumah tua.

Sementara pengemudi tuk-tuk mengobrol satu sama lain saat mereka berdiri di dekat kendaraan roda tiga mereka, pengendara sepeda motor melihat-lihat ponsel mereka, lalat dan nyamuk berdengung di sekitar  dalam panas terik. Mereka semua telah meluangkan waktu dari pekerjaan dan tanggung jawab harian mereka untuk menunggu berhari-hari untuk mengisi tangki mereka.

Antrean BBM di Sri Lanka

(Antrean BBM di Sri Lanka/DW)

“ Kami berhasil selamat dari pandemi, tetapi ini lebih buruk,” kata Sarath Nanayyakara, seorang sopir bus sekolah swasta berusia 61 tahun, yang telah dipaksa untuk menjual barang-barang berharga dan mengambil pinjaman untuk bertahan hidup selama beberapa bulan terakhir. “ Jika saya bekerja selama dua hari, saya harus mengantre selama dua hari lagi untuk mengisi tangki.”

“ Dari gaji bulanan saya sebesar 50.000 rupee (Rp 2 juta)], saat ini saya menghabiskan 30.000 rupee untuk bahan bakar,” kata Morgan Anusha, seorang akuntan berusia 28 tahun yang mengandalkan sepeda motornya untuk berangkat kerja setiap hari.

Ruwan Chaminda, seorang pengemudi tuk-tuk berusia 50 tahun, juga menghabiskan sebagian besar pendapatannya untuk bensin. “ Saya punya dua anak, dan satu masih sekolah, jadi saya harus menghidupi dia,” katanya. “ Ini adalah satu-satunya pekerjaan yang telah saya lakukan selama 20 tahun, jadi saya harus menjalaninya.”

Pasokan bahan bakar negara itu telah dibatasi sejak bulan Mei, tetapi dalam beberapa pekan terakhir, kelangkaan tersebut telah meningkat menjadi krisis besar-besaran. Pada tanggal 27 Juni, pemerintah mengumumkan bahwa negara itu hanya memiliki sedikit bahan bakar, dan menyediakan pasokan untuk layanan penting seperti angkutan umum dan sektor kesehatan, membatasinya untuk yang lainnya.

Sekolah telah ditutup. Layanan bus antarprovinsi terbatas. Banyak orang telah diminta untuk bekerja dari rumah. Negara itu terhenti sampai pengiriman bensin berikutnya tiba pada 22 Juli. Seperti yang dikatakan Vagisha Gunasekara, seorang ekonom di Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Sri Lanka, “ krisis bahan bakar telah melumpuhkan ekonomi.”

Kekurangan bahan bakar hanyalah salah satu bagian dari krisis ekonomi yang telah menjungkirbalikkan kehidupan sehari-hari di negara ini. Selama berbulan-bulan, orang-orang Sri Lanka menghadapi kekurangan bahan bakar, gas, dan obat-obatan, serta inflasi yang meroket —sekarang sekitar 55 persen— yang secara drastis meningkatkan biaya hidup.

Antrean gas di Sri Lanka

(Antrean gas di Sri Lanka/BBC)

Sri Lanka telah lama mengalami defisit transaksi berjalan. Meskipun negara ini mendirikan sektor pakaian jadi pada 1980-an, secara umum negara itu gagal mendiversifikasi ekspornya, yang sebagian besar terbatas pada komoditas era kolonial seperti teh, karet, dan kelapa.

Sementara pengeluaran negara telah meningkat selama bertahun-tahun, pendapatan pajak yang sebanding dengan PDB telah menurun sejak tahun 1990-an karena pemerintah gagal menerapkan kebijakan pajak progresif, yang menyebabkan defisit anggaran. Para ahli menunjukkan hubungan yang erat antara pengusaha, politisi, dan birokrat, menciptakan kelas pejabat yang tidak mau membebani sekutu politik mereka.

Negara ini juga memiliki masalah utang luar negeri, yang telah memburuk selama belasan tahun terakhir. Kewajiban utang luar negerinya saat ini berjumlah sekitar U$ 51 miliar atau Rp 764 triliun, naik dari U$ 22 miliar pada 2010. Lalu, baru-baru ini Sri Lanka mengatakan hanya memiliki sisa cadangan devisa US$50 juta atau Rp750 miliar.

Ketika Rajapaksa mengambil alih pada 2019, ia melakukan serangkaian pemotongan pajak karena alasan populis, sehingga memperburuk defisit anggaran. Tahun berikutnya, pandemi COVID-19 menghantam industri pariwisata Sri Lanka yang merupakan benteng dari ekonomi nasional. Pada tahun 2020, Sri Lanka kehilangan akses ke pasar internasional. Pemerintah kemudian menolak untuk merestrukturisasi utangnya, dan menggunakan uang dari cadangan untuk membayar utang. Pada bulan Maret ini, pemerintah tidak memiliki rencana cadangan dan tidak ada dolar untuk mengimpor kebutuhan pokok.

Pada bulan Mei, Sri Lanka gagal membayar utangnya. Dana Moneter Internasional mengadakan diskusi di Kolombo pada bulan Juni —dan membahas beberapa reformasi dengan pemerintah, termasuk langkah-langkah anti-korupsi, sebelum dukungan potensial— tetapi belum ada pembicaraan yang riil.

Krisis ekonomi telah menghancurkan kehidupan dan penghidupan masyarakat. Selain antrean panjang bahan bakar, gas untuk memasak, dan minyak tanah, terjadi kelangkaan bahan pokok yang cukup besar. Setiap hari, terjadi gangguan listrik selama satu jam di seluruh pulau.

Harga sembako seperti beras dan ikan melambung tinggi. Harga sayuran naik lebih dari dua kali lipat. Pada tahun 2021, Rajapaksa melarang pupuk kimia dalam upaya untuk memindahkan Sri Lanka sepenuhnya ke pertanian organik. Larangan tersebut mengakibatkan penurunan tajam dalam hasil panen. Sejak itu, petani harus membayar pupuk kimia, yang sebelumnya gratis, dan jumlah petani aktif berkurang. Sementara kebijakan tersebut telah ditinggalkan, sistem pertanian belum pulih.

Sektor kesehatan Sri Lanka, yang telah dilanda pandemi, juga menderita. Ada kekurangan obat-obatan, terutama untuk pasien jantung, stroke, dan kanker. Di rumah sakit tertentu, operasi rutin ditunda dan hanya operasi darurat yang diizinkan. Beberapa dokter kanker harus meminta sumbangan dari luar negeri untuk mendapatkan obat-obatan yang diperlukan untuk pengobatan. Banyak pasien terpaksa mencari obat yang sebelumnya gratis dari apotek swasta dengan harga selangit.

Ada juga hambatan besar untuk pendidikan. Sekolah telah ditutup karena siswa dan guru tidak dapat mengakses transportasi umum atau pribadi karena kekurangan bahan bakar baru-baru ini. Universitas telah menangguhkan kuliah tatap muka, dan kuliah online menghadapi gangguan rutin dari pemadaman listrik harian dan masalah dengan penyedia layanan internet.

Kondisi ini mendorong Sri Lanka ke jurang pada tanggal 9 Juli, ketika orang-orang dari seluruh negeri bersepeda  atau menumpuk di kereta api datang ke Kolombo. Seorang pengunjuk rasa, seorang peneliti berusia 50 tahun yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, telah melompat ke dalam truk yang penuh dengan orang-orang dari Kalutara. Di Kolombo, ia bergabung dengan massa yang menyerbu istana presiden, menghadapi gas air mata dan peluru tajam dari aparat keamanan hingga akhirnya massa mendobrak masuk.

“ Saya punya anak. Mereka tidak punya makanan atau masa depan. Kami mulai makan hanya dua kali sehari,” katanya dengan air mata berlinang. Rumah presiden menurutnya memiliki banyak kemewahan yang belum pernah dilihat banyak orang. “ Mereka memiliki AC di setiap kamar, bahkan di toilet,” katanya. “ Mereka memiliki seprai mewah, dapur yang penuh dengan makanan, bagian khusus untuk anjing dan kolam renang.”

Krisis Sri Lanka agaknya belum akan berakhir. Krisis ekonomi telah menimbulkan krisis politik. Pemilihan presiden baru agaknya belum akan menyetop krisis ekonomi dan politik di negara indah itu. Yang jelas, saat Gotabaya Rajapaksa dipaksa massa hengkang dari Istana, bukan tidak mungkin penggantinya akan mengalami nasib serupa. Runyam. (eha)

Sumber: Al Jazeera, Time, BBC, Washington Post, Foreign Policy

Beri Komentar