Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
�����Ã
Dream - Sebagai Muslim, tentu kita sudah tidak asing lagi dengan puasa. Selain puasa wajib yang dilaksanakan setiap bulan Ramadan, ada banyak macam-macam puasa lainnya, walau hukumnya tidak wajib seperti puasa di bulan Ramadan.
Ramadan menjadi bulan istimewa dan penuh keberkahan, namun hanya berlangsung selama sebulan. Bagaimana seorang Muslim bisa mendapat keberkahan lain selagi menunggu kehadiran bulan Ramadan lagi?
Rasulullah SAW melaksanakan puasa tidak hanya pada saat Ramadan saja, tapi juga ibadah puasa lain yang hukumnya sifat. Hal tersebut menjadikan ibadah puasa sunah menjadi ibadah tambahan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad.
Dilansir laman Sound Vision, ada beberapa macam puasa sunah lainnya yang bisa dilaksanakan untuk memperoleh keberkahan dan penyemburna ibadah.

Bulan Syawal berada tepat setelah bulan Ramadan. Di bulan itu, ibadah puasa selama 6 hari menjadi sunah yang bisa dilakukan oleh seluruh umat Islam. Mungkin akan sulit mengubah kebiasaan saat Ramadan yang terbiasa berpuasa sehari penuh. Melalui puasa ini, tubuh akan mulai beradaptasi kembali dengan situasi.
Abu Ayub mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “ Siapapun yang berpuasa Ramadan dan mengikutinya enam hari di bulan Syawal, seolah-olah ia puasa seumur hidup,” H.R. Muslim.
Dari hadis tersebut, Rasulullah menganjurkan seorang Muslim yang ingin memperoleh keberkahan untuk melaksanakan puasa selama 6 hari selama bulan Syawal.
Seperti yang diriwayatkan Aisyah, “ Rasulullah biasanya berpuasa pada hari Senin dan Kamis,” [H.R. Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah]
Dari apa yang diriwayatkan Aisyah, tentu mudah diketahui kalau Rasulullah kerap menjalankan ibadah puasa hari Senin dan Kamis. Puasa ini dipercaya oleh umat muslim, bisa mendatangkan keberkahan dan ketenangan dalam menjalani hidup.
Selain itu, berpuasa 2 hari dalam seminggu, yakni Senin dan Kamis, bisa menjadi rutinitas yang sehat dan bermanfaat bagi tubuh. Sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa berpuasa secara intens membuat tubuh bersih dan mampu meningkatkan metabolisme dalam tubuh.
Puasa 10 Muharram, macam-macam puasa sunah yang dilakukan pada awal bulan dalam kalender Islam. Tepatnya tanggal 10 Muharram, yang juga diperingati sebagai selamatnya Nabi Musa dari musuh-musuhnya.

Ibnu Abbas pernah mengatakan, “ Saya tidak tahu, Rasulullah berpuasa di hari apa saja, semua hari baik untuk berpuasa, terutama hari ini (Asyura) dan bulan Ramadan,” H.R. Muslim.
Rasulullah berpuasa dua hari pada bulan Muharram yakni tanggal 9 dan 10, supaya tidak menyamai puasa orang Yahudi yang berlangsung pada tanggal 9 Muharram.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, Rasulullah juga menjalankan puasa pada tanggal 9 Muharram untuk menghindari kesalahpahaman dengan kaum Yahudi yang juga menjalankan puasa di hari yang sama.
Bagi Muslim yang tidak menjalankan ibadah haji, puasa di tanggal 9 Muharram sangat dianjurkan. Hari tersebut dikenal dengan hari Arafah, hari saat Muslim yang berhaji menjalankan ibadah wukuf di padang Arafah.
Dari Abu Qatadah Al-Anshariy (ia berkata), ”Sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah ditanya tentang (keutamaan) puasa pada hari Arafah?” Maka beliau menjawab, “ Menghapuskan (kesalahan) tahun yang lalu dan yang sesudahnya.” H.R. Muslim.
Menjalankan puasa Sunnah Arafah tentu bisa mendatangkan keberkahan bagi umat muslim yang melaksanakannya dengan ikhlas.
Selain keenam macam-macam puasa sunah yang telah disebutkan, ada satu lagi macam puasa sunah yang bisa dilaksanakan oleh umat Islam untuk memperoleh keberkahan.
Bulan Shaban datang sebelum bulan Ramadan, dan menjadi waktu yang baik untuk mempersiapkan kehadiran bulan Ramadan jauh-jauh hari. Tidak hanya mempersiapkan diri secara finansial saja, namun juga persiapan fisik dan spiritual.
Dengan melaksanakan puasa di bulan Shaban, bisa melatih tubuh untuk berpuasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan.
Seperti yang diriwayatkan oleh Aisyah, “ Rasul lebih menyukai bulan Shaban daripada bulan lainnya, berkaitan dengan puasa tambahan (Sunnah).” H.R. Muslim.
Menjadi umat Islam yang menjalankan puasa di beberapa hari pada bulan yang sudah disebutkan di atas, akan menjadi manusia yang diberkahi oleh Allah SWT.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam