Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ustaz Marsudi Sedang Mengajar (Foto: Kitabisa.com)
Dream - Ini kisah mulia dari Ustaz Marsudin yang mengajar ngaji di pelosok Bali. Sudah 36 tahun mengabdi, dengan ikhlasnya ia tak mau mengambil upah.
Untuk bertahan hidup Ustaz Marsudin lebih memilih berjualan kangkung, jika dagangannya tak laku atau tak dapat pemasukan, ia rela makan nasi aking ataupun berpuasa.
Semua ini dijalaninya demi mensyiarkan agama Islam di Bali. Harapan Ustaz Marsudin, ia ingin anak-anak di desanya mengenal dan menjalankan ajaran agama dengan baik. Begini kisah perjuangan Ustaz Marsudin.
Untuk menuju tempatnya mengajar ngaji, setiap hari ia harus berjalan cukup jauh. Melintasi sungai besar yang kapan saja bisa meluap menghanyutkan dirinya. Sungai yang dilaluinya tersebut merupakan jalur lahar Gunung Agung, namun ia tak punya pilihan lain.

Walaupun kondisinya demikian, Ustaz Marsudin tak pernah berhenti mengajar ngaji. Dengan tekun, ia mengajar puluhan anak untuk membaca dan menghafal Alquran, serta ibadah-ibadah lainnya. Demi semua itu, ia rela tak diberi upah ataupun imbalan.

“ Puluhan tahun ia jalani namun tak pernah sedikit pun ia diberi ataupun mendapatkan imbalan atas upayanya,” dikutip dari keterangan informasi.
Demi bisa bertahan hidup dan memenuhi kebutuhannya, Ustaz Marsudin mencari kangkung untuk ia jual agar hasil panennya dapat menghasilkan rupiah. Setelah lelah mencari kangkung, Ustaz langsung bersiap mengajar para santri di desanya.

Jika tidak ada pemasukan, Ustaz Marsudin akan menjemur sisa nasinya dan milik tetangga yang dikumpulkan, kemudian dijual ke orang yang mencari bahan pakan dan kerupuk. Pria paruh baya ini menjualnya dengan harga 1 kilogram senilai Rp2500.

“ Jauh dari kata cukup. Tapi bagi Ustad, yang penting ada lauk untuk keluarga. Ustad juga terbiasa berpuasa atau bahkan makan nasi aking. Jika memang tak ada uang sepeserpun,” dikutip dari keterangan informasi.
Sumber: kitabisa.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya