Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Suasana Rumah Kontrakan Ditinggalkan Penyewa Yang Kabur Dan Menunggak 2 Tahun.
Dream - Sudah tidak membayar uang sewa sampai dua tahun, pengontrak meninggalkan rumah kontrakan dalam keadaan berantakan tak karuan. Sang pemilik pun dibikin geram dan pusing tujuh keliling.
Pemilik rumah, Siti Nur Adila Mohamed Johari, mengaku sedih dengan kondisi rumah yang disewakan itu ditinggalkan dalam kondisi yang mengenaskan.
Bayangkan saja, sudah dua tahun penyewa tak membayar uang kontrakan. Selain itu, saat penyewa ditelepon tidak pernah diangkat.
Wanita 30 tahun asal Malaysia ini mengaku baru bisa mengecek rumah yang disewakan setelah pembatasan sosial yang disebut PKP diturunkan levelnya.
" Sedihnya, dua tahun penyewa tak bayar, tinggalkan rumah gitu aja. Ditelepon tidak diangkat, setelah PKP baru dapat lihat rumah, tahu-tahu jadi macam begini," tulisnya.
Wanita yang akrab disapa Adila ini mengatakan rumah yang disewakan itu terletak di Taman Melawati, Setapak, Selangor. Rumah itu merupakan peninggalan almarhum ayahnya yang meninggal pada tahun 2002.
Adila yang bekerja sebagai konsultan kecantikan ini menambahkan rumah tersebut pada disewakan kepada sebuah keluarga berasal dari Kelantan.

" Sebelum ibu saya sakit tahun 2009, rumah itu sudah disewakan. Waktu itu urusan terkait rumah itu semuanya ditangani oleh ibu saya sendiri.
" Pada awalnya uang sewanya lancar, tapi semenjak ibu jatuh sakit, saya yang terpaksa ambil alih karena ingatan ibu terganggu akibat gangguan penyakit di selaput otaknya," jelas Adila.
Waktu diserahi tugas mengurus rumah kontrakan, Adila tidak tahu bagaimana isi perjanjiannya. Waktu itu cuma mengecek urusan uang sewanya dan awalnya berjalan lancar.

Menurut wanita yang tinggal di Ijok, Kuala Selangor ini, kali terakhir dia bisa menghubungi penyewa rumah pada penghujung tahun 2019 lalu.
" Waktu itu yang mengontrak bilang akan terlambat bayar karena ada urusan dan harus pulang ke Kelantan.
" Tapi setelah ditunggu-tunggu, saya cek rekening masih belum ada transferan," ceritanya, sambil menambah nomor ponsel yang menyewa tiba-tiba tidak dapat dihubungi.
Karena waktu itu sedang ramai-ramainya pembatasan sosial, Adila baru bisa mengunjungi rumah kontrakan tersebut pada 5 November lalu atau tepatnya dua tahun setelahnya.

" Rasa-rasanya waktu itu mau datang langsung lihat rumah, tapi masih ada pembatasan sosial jadi tak bisa lintas negeri.
" Tapi begitu datang bulan kemarin, rasa-rasanya mau maki-maki saja. Rumah yang dikontrak kondisinya jadi hancur seperti itu," ujar Adila geram.
Adila mengatakan keluarga yang mengontrak rumah itu memang buka warung di lantai bawah. Tapi waktu tanya ke warga sekitar, mereka bilang yang makan di warung itu kebanyakan orang Thailand.

" Pantas saja rumah jadi seperti itu sebab jadi tempat nongkrong orang Thailand. Sudah begitu rumah itu banyak alami perubahan.
" Penyewa tak bertanggungjawab itu bahkan buat partisi di ruang tamu jadi kamar-kamar," kata ujar anak sulung dari empat bersaudara ini.
Adila dan keluarganya kini menghadapi situasi sulit karena mereka terpaksa mengeluarkan uang yang tak sedikit untuk mengembalikan rumah itu ke kondisi awal.
Karena itu, untuk sementara ini Adila memutuskan untuk tidak menyewakan rumah itu. Dia ingin merapikan semuanya seperti dulu.
" Di masa depan InsyaAllah, kami akan lebih berhati-hati, pastikan ada perjanjian sebab kami trauma bila dapat penyewa seperti ini lagi.
" Sudah tanya orang yang mau perbaiki, katanya ongkos kerjanya mungkin 1.000 ringgit hingga 2.000 ringgit (Rp3,3 juta hingga Rp7 juta) sebab banyak yang harus diperbaiki. Apalagi ini rumah tingkat lima," ujarnya.
Selain biaya perbaikan rumah yang lumayan banyak, Adila juga menanggung tagihan gas, listrik dan air yang telat bayar. Jumlahnya juga tak sedikit.
" Kalau air kami kena lebih dari 600 ringgit (Rp2 juta). Sementara listrik kami tak tahu berapa,” katanya sambil menambahkan rumah tersebut sebelum ini disewakan pada harga 400 ringgit (Rp1,3 juta).
Adila pun berpesan kepada semua penyewa rumah supaya lebih bertanggungjawab dan menjaga yang disewa sama seperti rumah sendiri.
" Kesalahan kami sebab tidak rutin memeriksa rumah itu. Selain itu, kami terlalu percaya orang sebab sebelum ini penyewa selalu update kalau telat bayar," pungkasnya.
Sumber: mStar
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya