Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Negara Paling Dermawan di Dunia, Mengapa Kenya Bisa di Peringkat Dua

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 13 Februari 2023 20:35
Negara Paling Dermawan di Dunia, Mengapa Kenya Bisa di Peringkat Dua
Kenya mengenal kata ‘harambee’ atau mari semua bersatu.

Dream – Mantan aktor bintang serial TV “ Tahidi High” yang sempat populer di Kenya itu tampak terduduk lesu. Pada Rabu 11 Frbruari 2021, mantan aktor “ Tahidi High" Kamau Kinuthia atau yang dikenal sebagai Omosh, membicarakan masalahnya di salah satu televisi sambil berurai air mata.

Dia membuka diri kepada media tentang tantangan yang dia hadapi sejak acara tersebut berhenti ditayangkan akibat pandemi Covid-19.

“ Kami tidak bisa shooting karena kami perlu menjaga jarak sosial. Itu benar-benar memengaruhi kami, sungguh, sangat memengaruhi kami,” ujarnya dalam percakapan yang disiarkan secara nasional itu..

Aktor Kamau Kinuthia atau yang dikenal sebagai Omosh saat diwawancarai TV

(Aktor Kamau Kinuthia atau yang dikenal sebagai Omosh saat diwawancarai TV/Pulse)

Akibatnya dia menganggur. Bahkan, dia menghadapi penggusuran dari rumahnya karena mengunggak sewa sebesar  Ksh 100.000 atau Rp 12,1 juta.

“ Menyediakan makanan dan kebutuhan dasar lainnya untuk keluarga saya telah menjadi masalah besar. Tuan tanah ingin mengumpulkan semuanya dari saya,” kata aktor itu, yang pernah menjadi salah satu aktor yang paling dicari di negara itu.

Omosh tinggal di daerah Kayole di Nairobi, ibukota Kenya. Dia mengatakan dia belum membayar sewa selama setahun terakhir sehingga menyebabkan tunggakan menumpuk.

Kesengsaraan finansial bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi Omosh. Menurut sang aktor, dia juga berurusan dengan masalah perkawinan yang dia yakini sebagai akibat dari ketidakmampuannya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.

Mengenang kenangannya menjadi bagian dari kru Tahidi High, Omosh menyatakan dia dan OJ, yang berperan sebagai keponakannya di acara itu, semakin menyukai satu sama lain dan mempertahankan persahabatan yang langgeng.

“ Adegan terbaik saya adalah ketika saya sedang bekerja di taman sekolah dan OJ mengejutkan saya ketika dia kembali ke pertunjukan sebagai seorang guru. Kami berpelukan begitu erat dan bisa dibilang itu adalah episode yang paling berkesan,” kenang Omosh seperti dikutip Business Today.

Wawancara itu pun viral. Bagaimana seorang aktor terkenal hampir terusir dari rumah kontrakannya karena menunggak uang sewa selama setahun. Publik Kenya terkejut. Dan terenyuh.

Akhirnya gelombang donasi pun mengalir deras. Tak sampai sepekan setelah tayangan itu muncul di televisi, warga Kenya ramai-ramai menyumbang ke aktor yang pernah populer di negara itu.

Dana amal itu terkumpul Ksh 1 juta atau Rp 121 juta yang diberikan kepadanya oleh penggemar dan tentu saja beberapa selebritas termasuk anggota parlemen, Alinur.

Omosh saat menerima donasi

(Omosh saat menerima donasi/Kenyans)

Korporasi bahkan ikut masuk untuk berkontribusi dengan membangun rumah bagi Omosh yang hampir selesai.

Namun, alih-alih berterimakasih, Omosh dalam wawancara berikutnya malah meminta lebih banyak uang kepada warga Kenya, mengklaim bahwa apa yang ditawarkan orang kepadanya tidak cukup. Omosh mengklaim bahwa dia menerima lebih sedikit uang daripada yang dijanjikan oleh banyak orang.

Sikap itu membuat publik kecewa. Apalagi beberapa bulan kemudian, video Omosh mabuk-mabukan dengan menggunakan uang amal yang diposting di tabloid gosip IG, membuat publik Kenya shok. Tapi itu belum cukup, pada bulan Juni 2021, Omosh kembali tertangkap tengah mabuk-mabukan dalam sebuah video terbaru yang dibagikan oleh Edgar Obare.

Berkat salah satu muridnya, media Kenya berhasil mendapatkan video terbaru yang menunjukkan Omosh cukup mabuk; ke titik di mana aktor veteran itu tidak bisa berjalan sendiri.

Omosh saat mabuk-mabukan dengan uang donasinya

(mabukan dengan uang donasinya/Kenyan Music)

Dilihat dari halaman Obare, video tersebut diambil beberapa minggu yang lalu; sebelum Omosh kembali mengemis hampir 3 bulan setelah menyia-nyiakan dana amalnya.

Tapi kisah Omosh menjadi bukti mengapa warga Kenya pada tahun 2022 menempati posisi kedua sebagai negara paling dermawan di dunia.

***

Kenya memang telah digolongkan sebagai negara paling dermawan di Afrika. Ini menurut World Giving Index yang dirilis Charities Aid Foundation (CAF).

Kenya berada di urutan kedua sebagai negara yang paling berkembang secara keseluruhan, dengan peningkatan skor indeks masing-masing rata-rata 19 poin.

Peringkat ini dipertahankan Kenya sejak tahun 2019.

“ Di Kenya, lebih dari separuh orang mendonasikan uang untuk amal dalam 10 tahun terakhir,” kata survei tersebut.

Laporan tersebut juga mengidentifikasi tren penurunan donasi di negara-negara maju dengan sejarah panjang filantropi dan pemberian amal rumah tangga.

Ini termasuk Inggris, AS, Kanada, Irlandia, dan Belanda di mana tingkat pemberian individu sekarang lebih rendah daripada setelah krisis keuangan.

Amerika Serikat sempat menduduki peringkat sebagai negara paling dermawan diikuti oleh Myamnmar  dan Selandia Baru.

China terdaftar sebagai negara yang paling tidak dermawan diikuti oleh Yunani, Yaman, dan Serbia dalam urutan itu.

Kenya karenanya telah muncul sebagai negara paling dermawan di Afrika dan ke-2 di dunia selama tiga tahun berturut-turut, dari 2019 sampai 2022 dalam laporan baru-baru ini yang dirilis oleh Charities Aid Foundation's (CAF) World Giving Index.

Masyarakat Kenya suka memberi

(Masyarakat Kenya suka memberi/Kenyans)

CAF telah memproduksi World Giving Index selama lebih dari satu dekade dan dalam edisi ini, data dikumpulkan di 114 negara, mewakili lebih dari 90% populasi dunia.

World Giving Index CAF adalah survei global yang telah mewawancarai lebih dari 1,6 juta orang sejak pertama kali dibentuk pada tahun 2009. Setiap tahun sejak awal, CAF bertanya kepada para peserta apakah mereka telah membantu orang asing, memberikan uang, atau menjadi sukarelawan untuk tujuan yang baik selama 30 hari terakhir.

Pemeringkatan yang dihasilkan tidak didasarkan pada jumlah uang yang diberikan atau jumlah jam kerja relawan.

Hasil yang dikumpulkan pada bulan Juni  ini mengungkapkan dampak pandemi Covid-19 pada pemberian amal, namun hal itu tidak menghalangi Kenya untuk berada di urutan ke-2  sebagai negara paling dermawan.

Kenya memiliki sejarah panjang kemurahan hati dengan istilah seperti " harambee" yang diciptakan dan digunakan untuk mengungkapkan niat memberi oleh orang Kenya. Kenya dalam beberapa tahun terakhir mengambil peran aktif dalam melakukan tindakan kemurahan hati dan memberi. Contoh kegiatan amal di Kenya adalah kegiatan amal yang dijuluki 'Kenyans for Kenya' yang diluncurkan oleh Palang Merah Kenya untuk melobi individu Kenya dan organisasi perusahaan lokal untuk menyumbangkan dana guna membantu memerangi kekeringan di Kenya.

Kenya juga rumah bagi organisasi amal yang tak terhitung jumlahnya yang terus-menerus terlibat dalam tindakan amal.

Kenya, atau Republik Kenya  adalah sebuah negara di Afrika Timur. Dengan luas 580.367 kilometer persegi, Kenya adalah negara terbesar ke-48 di dunia berdasarkan wilayah.

Dengan populasi lebih dari 47,6 juta pada sensus 2019, Kenya adalah negara terpadat ke-27 di dunia. Ibu kota Kenya dan kota terbesarnya adalah Nairobi, sedangkan kota tertuanya, saat ini kota terbesar kedua, dan ibu kota pertamanya adalah kota pesisir Mombasa.

Geografi, iklim, dan populasinya sangat bervariasi, mulai dari puncak gunung yang tertutup salju dingin (Batian, Nelion, dan Point Lenana di Gunung Kenya) dengan hutan sekitarnya yang luas, satwa liar, dan daerah pertanian yang subur hingga iklim sedang di kabupaten lembah barat dan celah serta kering kurang subur. daerah kering dan semi-kering dan gurun mutlak (Gurun Chalbi dan Gurun Nyiri).

Masyarakat Kenya suka membantu sesamanya

(Masyarakat Kenya suka membantu sesamanya?CAFOD)

Kenya adalah ekonomi berpenghasilan menengah ke bawah. Perekonomian Kenya adalah yang terbesar di Afrika timur dan tengah, dengan Nairobi menjadi pusat komersial regional utama.

Pertanian adalah sektor terbesar: teh dan kopi adalah tanaman komersial tradisional, sedangkan bunga segar adalah ekspor yang tumbuh cepat. Kenya tercatat sebagai negara pengekspor bunga terbesar ke-3 di dunia. Industri jasa juga merupakan penggerak ekonomi utama, khususnya pariwisata

Kenya memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 0,555 (sedang), peringkat 145 dari 186 di dunia. Pada tahun 2005, 17,7% penduduk Kenya hidup dengan kurang dari U$ 1,25 atau Rp 18 ribu sehari.

Sektor pertanian yang penting adalah salah satu yang paling tidak berkembang dan sebagian besar tidak efisien, mempekerjakan 75% tenaga kerja dibandingkan dengan kurang dari 3% di negara maju yang aman pangan.

Perekonomian Kenya tumbuh lebih dari 7% pada tahun 2007, dan utang luar negerinya berkurang drastis.

PDB masih berasal dari sektor pertanian yang tidak dapat diandalkan yang mempekerjakan 75% dari angkatan kerja. Industri dan manufaktur adalah sektor terkecil, menyumbang 16% dari PDB. Sektor jasa, industri dan manufaktur hanya mempekerjakan 25% dari angkatan kerja tetapi menyumbang 75% dari PDB Kenya.

***

Di suatu siang, Douglas Ng'ang'a tengah berdiri " perpustakaan kumuh" yang dikelolanya saat ditemui NPR.

" Buku-buku itu baru saja muncul," katanya.

Yah, tidak persis. Tetangganya lah yang memberikan sumbangan buku itu pada dia.

Ng'ang'a mendanai perpustakaan dengan bekerja sebagai sopir. Dia memulai koleksi dengan 200 buku miliknya sendiri. Anggota komunitas menyebarkan berita melalui media sosial dan ikut serta menyumbang buku.

Douglas Ng'ang'a di perpustakaan yang dia bangun di Kenya

(Douglas Ng'ang'a di perpustakaan yang dia bangun di Kenya/NPR)

Di Kenya, kemurahan hati yang mengarah ke perpustakaan tidak terkecuali.

Setiap tahun, Charities Aid Foundation (CAF) menyusun World Giving Index, dan pada peringkat tahun 2017 mencantumkan Kenya sebagai negara paling dermawan ketiga di dunia.

Tapi seperti yang tercermin dari kebangkitan Kenya dari peringkat 40 lima tahun 2012 lalu ke peringkat 3 pada 2017, ada titik terang di peringkat baru. Dan itu bukan hanya tren Kenya.

" Kisah besar tahun ini adalah peningkatan luar biasa dalam memberi di seluruh Afrika," kata Sir John Low, kepala eksekutif CAF. " Di seluruh dunia, pembangunan ekonomi mengangkat pendapatan jutaan orang dan sungguh merendahkan hati melihat bahwa reaksi alami untuk meningkatkan kekayaan adalah memberi kembali."

Bagi warga Kenya, meningkatnya kemurahan hati bukanlah hal yang mengejutkan.

" Berbagi adalah sifat budaya dengan warga Kenya," kata Pauline Wambeti, Direktur Nuru International Kenya, menulis melalui email. Nuru adalah organisasi nirlaba yang berupaya mengakhiri kemiskinan. Sebelumnya, dia telah bekerja dengan program AIDS, keuangan mikro dan Perserikatan Bangsa Bangsa.

Caroline Teti dari Kenya adalah direktur hubungan eksternal dari GiveDirectly, yang memberikan bantuan tunai langsung kepada masyarakat miskin di Kenya. Hanya ada satu kata di lambang Kenya - " harambee" - katanya. Itu bahasa Swahili, artinya: " semua bersatu."

" Saya pikir harambee telah menanamkan rasa memberi yang kuat pada orang Kenya," tulis Teti melalui email, " Orang secara tradisional memandang tekanan individu sebagai masalah yang harus menjadi perhatian seluruh komunitas. Di banyak komunitas di Kenya, orang memberi secara materi kepada anggota komunitas lain yang sedang tertekan. Pasca-kemerdekaan, saya pikir ini mengambil dimensi yang sama sekali baru karena orang ingin meningkatkan pendidikan anggota klan mereka dan komunitas yang lebih besar."

Teti yakin media sosial juga berperan dalam menyebarkan sedekah di luar komunitas.

" Penggunaan media sosial telah mendorong pengumpulan sumber daya dan dukungan kepada orang asing ke tingkat yang sama sekali baru. Kasus-kasus yang membutuhkan diangkat melalui penggalangan dana online di platform seperti Facebook dan WhatsApp, dan kemudian orang menyumbangkan uang untuk tujuan ini."

NPR menghabiskan bulan Agustus di Kenya untuk meneliti tentang memberi dan kemurahan hati, dan  menemukan bahwa tidak sulit untuk menemukan individu yang memberi dari diri mereka sendiri.

NPR bertemu Harrison Kalu, seorang perawat di Safari Doctors, yang menyediakan layanan medis dan obat-obatan di Kabupaten Lamu untuk masyarakat pesisir dan pulau yang terisolasi secara geografis dan menjadi wilayah kelompok teroris al Shabaab. Kalu telah bekerja di wilayah tersebut sejak tahun 1987, pertama untuk Kementerian Kesehatan dan kemudian untuk sejumlah LSM.

Kelompok teroris Al Shabaab mengenal namanya. Suatu hari mereka datang mencarinya. Kalu menduga mereka membutuhkan perhatian medis dan akan membunuhnya setelah dia memberikannya. Dia tidak ada di sana, tapi sepeda motornya ada. Mereka membakarnya.

Tetap saja dia tidak terpengaruh. Kalu, 65 tahun, bahkan menyumbangkan enam bulan waktunya untuk organisasi tersebut tanpa bayaran.

" Itu berbahaya," kata Kalu, " tapi saya tidak khawatir tentang bahaya jika saya melayani rakyat saya."

Dan saat NPR bertemu Douglas Ng'ang'a di perpustakaan kumuhnya di mana anak-anak, banyak di antaranya tumbuh tanpa buku di rumah mereka sendiri, duduk di lantai sambil membaca. Douglas berharap melalui kemurahan hati yang berkelanjutan dari komunitasnya, dia akan mengisi ruangan dengan lebih banyak buku dan mengembangkan lebih banyak program seni dan menawarkan pelajaran komputer.

***

Sementara Grace W. Maingi, Direktur Eksekutif, Yayasan Pengembangan Masyarakat Kenya, menuturkan pengalaman pribadinya melihat budaya kemurahan hati bangsa Kenya.

Tumbuh dewasa sering kali Grace menonton berita, bukan karena tertarik dengan apa yang terjadi secara nasional, tetapi karena itu adalah satu-satunya acara di televisi sebelum apa yang secara populer disebut sebagai " program terakhir" yang biasanya merupakan kejahatan- acara penghilang atau drama sinetron ditayangkan seminggu sekali.

Grace W. Maingi, Direktur Eksekutif, Yayasan Pengembangan Masyarakat Kenya

(Grace W. Maingi, Direktur Eksekutif, Yayasan Pengembangan Masyarakat Kenya/Facebook)

Tanpa internet atau televisi sesuai permintaan, menonton berita adalah satu-satunya cara untuk terhibur dan kesempatan untuk membujuk orang tua Grace agar mengizinkan dia menonton acara larut malam. Di TV hitam putih, Grace menyaksikan siaran nasional menyiarkan berita hari itu yang sebagian besar meliput politik nasional termasuk berbagai harambe yang dipimpin Presiden hari itu.

Harambee, yang berarti bersatu dalam bahasa Swahili, adalah semboyan resmi di Kenya yang tertulis di lambang negara. Presiden Kenya yang pertama, Mzee Jomo Kenyatta menggunakannya sebagai himbauan untuk mendorong negara itu agar bersama-sama menggalang dana untuk pembangunan lokal.

Presiden Kenya pertama Mzee Jomo Kenyatta

(Presiden Kenya pertama Mzee Jomo Kenyatta/Daily Nation)

Etimologi kata tersebut telah menimbulkan beberapa masalah tetapi bukan itu fokus utama. Sejak usia muda, Grace ingat menghadiri beberapa harambee termasuk acara penggalangan dana untuk pernikahan, dan permohonan medis dan pendidikan untuk banyak kerabat dan keluarga dekatnya.

Itu normal bagi Grace sebagai gadis muda untuk ditempatkan di pintu masuk penggalangan dana dan ditugaskan untuk menjual mawar untuk membantu mengumpulkan uang. Dalam banyak kesempatan, ibu Grace akan memberikan Grace sejumlah uang untuk disimpan selama penggalangan dana hanya untuk dibelanjakan selama sesi lelang.

Memberi adalah bagian dari kehidupan warga Kenya sehari-hari dan solidaritas komunitas berakar pada ucapan-ucapan termasuk “ haba na haba hujaza kibaba” yang diterjemahkan secara longgar, mengumpulkan sedikit demi sedikit menghasilkan banyak atau mengisi keranjang.

Tahun 2022, Charities Aid Foundation World Giving Index menempatkan Kenya sebagai negara paling dermawan kedua di dunia.

Tujuh puluh tujuh persen warga Kenya yang disurvei telah membantu orang asing, 55% menyumbangkan uang, dan 52% menyumbangkan waktu mereka secara sukarela.

Posisi Kenya naik peringkat meski dampak negatif pandemi Covid-19 terhadap ekonomi dan pembatasan diberlakukan pada warga negara karena pembatasan berkumpul dan bepergian. Di saat-saat penderitaan manusia yang hebat, kemurahan hati tumbuh ketika kemanusiaan bersama membuat seseorang sulit untuk menikmati apa yang mereka miliki ketika orang lain menderita.

Meningkatnya saluran memberi yang nyaman, termasuk meluasnya penggunaan aplikasi uang seluler yang didukung oleh peningkatan pengguna ponsel, merupakan salah satu jalan yang mendukung warga Kenya untuk memberi. Proliferasi petisi online dan platform penggalangan dana seperti M-Changa juga telah memperluas kemampuan warga Kenya untuk memberikan sesuatu.

Pemberian Kenya melampaui seruan keluarga dan meluas ke seruan nasional untuk bertindak. Misalnya, penggalangan dana Kenya untuk Kenya yang diadakan pada tahun 2011 mengumpulkan lebih dari U$  5,4 juta atau Rp 81 miliar dalam bentuk tunai dan hampir U$ 2,4 juta atau Rp 36 miliar dalam bentuk barang untuk membantu mengatasi situasi kelaparan di Kenya Utara dan termasuk kemampuan untuk menyumbang melalui platform uang seluler bebas transaksi biaya.

Kata Harambee, ada di lambang negara Kenya

(Kata Harambee, ada di lambang negara Kenya/BBC)

Di tingkat lokal, memberi juga merupakan bagian dari cara hidup sehari-hari di Kenya. Mulai dari sumbangan rutin yang diberikan untuk kebutuhan sosial kerabat sampai dengan bakti sosial di tempat ibadah, alumni atau perkumpulan warga. Orang Kenya secara keseluruhan terlibat dalam berbagai bentuk filantropi, tetapi mereka mungkin tidak melihat diri mereka sebagai dermawan karena citra dermawan 'tipikal' adalah orang kaya yang mengeluarkan uang karena mereka memiliki lebih dari yang dapat mereka gunakan.

Akuntabilitas dari rumah tangga ke tingkat lokal juga diremehkan meskipun bentuknya kuat termasuk penghitungan harian dana yang diterima dan disalurkan di WhatsApp dan platform perpesanan lainnya, hingga pemilihan “ bendahara paling tepercaya dan teruji” di kelompok masyarakat. Satu hal penting yang dapat diambil saat bekerja dengan masyarakat adalah bahwa ketika semua dikatakan dan dilakukan, pendanaan lokal pada akhirnya meningkatkan efisiensi bantuan dan memungkinkan akuntabilitas yang lebih besar. Ketika dana paling dekat dengan yang dibutuhkan, dana tersebut digunakan dengan lebih baik dan dipertanggungjawabkan oleh mereka yang telah dibantu.

Kenya memiliki banyak syarat utama untuk terus menjadi negara yang sangat dermawan: akuntabilitas lokal, ikatan komunitas yang kuat, budaya memberi, dan kepercayaan pada institusi. Tak mengherankan Kenya menjadi negara paling dermawan kedua di dunia. (eha)

Sumber: Business Today, Gafla, Standard Media, Kenyans, NPR. BBC, Winfsweb.org

Beri Komentar