Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Jagung Gratis Hasil Panenan Nuria (Facebook/Buria Ikhsyania Arsyad)
Dream - Petani merupakan ujung tombak pasokan pangan nasional. Tetapi, kerja keras petani terkadang masih dihargai sangat tidak layak.
Seperti yang dialami oleh Nuria Ikhsyania Arsyad dan Bimo Arie Pamungkas. Keduanya memanfaatkan lahan milik mereka seluas 2.000 meter persegi di Cijeruk, Bogor dengan menanam jagung manis.
Tiga hari lalu, jagung manis yang mereka tanam sudah waktunya dipanen. Sebelum memanen, mereka menawarkan jagung mereka kepada tengkulak.
Jawaban tengkulak sangat tidak menyenangkan. Si tengkulak itu mau membeli jagung-jagung tersebut jauh di bawah harga produksi.
Nuria kemudian mengunggah pengalaman buruk tersebut di akun Facebook milik dia.
" Dua hari yang lalu, tengkulak menaksir jagung kami yang siap panen dengan harga tidak bisa lebih dari Rp1.000 per kg. Dia bilang paling 300 kg," tulis Nuria.
Nuria mengatakan taksiran tengkulak sangat tidak wajar. Uang hasil penjualan jagung itu bahkan tidak bisa menutupi biaya usai panen seperti pembersihan lahan, yang minimal membutuhkan biaya Rp600.000.
Nuria bersama sang suami lantas memutuskan untuk membagi-bagikan hasil panenan tersebut. Sebagian dijual dengan harga seikhlas pembeli.
" Kami pikir dalam bentuk uang Rp300.000 dari tengkulak bisa habis sekejap, tapi siapa tahu dalam bentuk 300 kg jagung bisa menyelamatkan kami dari api neraka," tulis dia.
Nuria lantas menyewa satu unit mobil pick up untuk mengangkut panenan jagung. Dibantu beberapa buruh tani, Nuria mendapat 600 kg jagung manis untuk dibagikan.
Para buruh tani tersebut membawa pulang hasil panenan masing-masing satu karung jagung.
" Lalu dua karung kami jual sekenanya di warkop. Dua karung dipisahkan untuk besok dibagi-bagi di lapangan untuk ibu-ibu komplek. Dua karung dibayarkan oleh dermawan, lalu sebagian kami berikan kepada pemulung untuk dibagi-bagi bersama kawanannya," tulis Nuria.
Meski begitu, jagung yang tersisa ternyata masih banyak. Suami Nuria kemudian berinisiatif membawa beberapa karung ke Pasar Bogor untuk dijual selakunya.
" Di sana ditaksir di harga Rp150.000 untuk tiga karung," tulis dia.
Nuria tidak mementingkan berapa kerugian yang dia tanggung. Dia hanya ingin hasil panennya bermanfaat. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya