Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
(Ilustrasi: Shutterstock)
Dream - Meluangkan waktu bersama keluarga, terutama anak-anak, adalah satu momen yang sangat indah bagi setiap orang tua.
Setelah seharian bekerja, malam hari adalah waktu paling tepat untuk dihabiskan bersama anak-anak.
Namun, tidak semua orang tua dapat melakukan hal itu. Tapi jangan cepat-cepat berasumsi bahwa orang tua tidak peduli.
Karena keterbatasan waktu dan pekerjaan, mereka seringkali 'lupa' untuk memberikan perhatian penuh pada anak-anak.
Tidak ada orang tua yang punya niat untuk mengabaikan anak-anak. Orang tua mana yang mau melihat anak mereka telantar dan kurang kasih sayang.
Seperti pengalaman yang dibagikan oleh Maya Amir di Facebook. Maya merasa menyesal karena tidak memberi perhatian yang cukup untuk anak-anaknya dan terlalu fokus dengan kariernya.
Berikut penuturannya:
© (Ilustrasi: Shutterstock)
Semalam dia WhatsApp fotonya sambil menulis, " Mama, keren tidak Danial?"
Ini adalah Danial, anak sulung saya. Sekarang dia sudah berusia 17 tahun. Semasa dia kecil, saya terlalu sibuk bekerja.
Saya kembali ke rumah selalu malam-malam, dan Danial menjadi anak terakhir yang pulang dari tempat penitipan anak.
Setiap kali saya jemput di tempat penitipan anak, mukanya terlihat sayu dan sedih.
Tapi dia anak yang sangat baik. Tidak pernah rewel atau tidak banyak tingkah kalau saya terlambat menjemput.
Saya kasihan kepada Danial. Sungguh! Saat adiknya belum lahir, dalam pikiran saya selau kerja, kerja, kerja.
Saya sibuk mengejar karier, sementara dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang lain.
© Dream
Hidup di kota besar yang sibuk. Kami bangun Subuh dan pulang ke rumah setelah Maghrib.
Kami keluar rumah lebih awal karena harus mengantar ayahnya ke kantor Bea Cukai Johor Bahru (JB) sebelum mengirim anak ini ke sekolah. Rumah kami sangat jauh jadi harus berangkat pagi sekali setelah Subuh.
Ketika naik kelas 2, dia bertambah kasihan. Karena berangkat sekolah pagi-pagi dan pulang malam.
Saya ambil dia di sekolah jam 18.30 sebelum menjemput ayahnya di Bea Cukai JB. Kami kemudian makan dan dia mengerjakan PR di dalam mobil.
Ya semuanya dikerjakan di dalam mobil. Melihat wajahnya yang lelah pada saat itu, saya benar-benar merasa bersalah.
© Dream
Tiba-tiba ketika umurnya 13 tahun, dia dapat tawaran ke sekolah asrama di Perak. Saya rasa macam kena tampar. Saya merasa kehilangan yang amat sangat.
Saat masuk kamarnya yang kosong, jiwa saya juga terasa kosong. Saat itu baru saya menyadari bahwa saya rindu untuk melihatnya tumbuh dewasa.
Selama 12 tahun saya telah melewatkan momen itu. Saya mencoba mengingat kenangan tentang dirinya. Kosong! Saya sampai perlu membuka album lama.
Saya baru sadar, selama ini tidak pernah meluangkan waktu yang berharga untuknya. Obrolan kami singkat-singkat, hanya seputar rutinitas sekolahnya.
Saya juga agak bersikap tegas dan serius dengan dia. Mengingat itu, betapa meruginya saya sebagai seorang ibu.
Setelah mengantarkan dia masuk asrama, saya menangis karena sangat rindu momen bersama dengannya. Saya telah banyak kehilangan momen tersebut selama ini.
Selama ini Allah sebenarnya telah memberikan nikmat sebagai seorang orang tua kepada saya. Tapi saya malah menyia-nyiakan waktu nikmat tersebut.
Kita kerja keras dengan niat agar anak-anak tidak susah. Tapi terkadang kita melupakan mereka saat tumbuh dewasa.
Gembirakan hati mereka. Nanti Allah akan melimpahkan rezeki bertubi-tubi tanpa kita sadari.
Dan jangan lupa, tujuan akhir kita hidup di dunia ini adalah surga akhirat yang dijanjikan Allah kepada kita.
Maya Amir
(Sumber: Siakapkeli.my)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya