Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Warga Jerman Kumpulkan Kayu Bakar Untuk Hadapi Musim Dingin (Heating News Jorunal)
Dream – Menjelang masuk dingin di Jerman, ada kebiasaan baru bagi warga setempat. Melonjaknya harga gas alam telah membuat orang Eropa berebut sumber energi alternatif.
Di Jerman, di mana rumah tangga menghadapi kenaikan 480 euro atau Rp 7,1 juta ke dalam tagihan gas bulanan mereka, orang-orang mulai beralih ke pencarian kayu bakar. Maka, tak sedikit penduduk yang terlihat membeli kayu bakar dan menyimpannya di gudang atau pekarangan untuk menghadapi musim dingin yang menusuk.
Dampak dari invasi Rusia ke Ukraina memang telah menenggelamkan Eropa ke dalam krisis energi terburuk dalam beberapa dekade terakhir.
Dari Italia hingga Inggris, pemerintah berlomba untuk mengganti pasokan gas alam dari Rusia dan mengurangi biaya yang lebih tinggi untuk industri dan rumah tangga. Tetapi konsumen juga harus beradaptasi, mulai dari mengurangi mandi hingga menyalakan cerobong asap.
Menurut Quartz, kata Jerman untuk kayu bakar, " brennholz" , mencapai volume pencarian puncak di Google pada pertengahan Agustus 2022:

(Pria Jerman kumpulkan kayu bakar efek harga gas tinggi/Wolfcraft)
Hampir 50 % rumah di Jerman dipanaskan dengan gas alam, dengan 25 % lainnya menggunakan minyak diesel. Di masa lalu, kurang dari 6 % rumah di Jerman menggunakan kayu bakar.
Porsi itu diperkirakan akan melonjak lebih tinggi tahun ini. Ketika harga gas alam melonjak, begitu juga harga kayu bakar:
Di pasar, tungku pemanas dan tungku kayu juga sudah habis terjual.
Pemasok bahan baku kayu bakar berjuang untuk memenuhi permintaan pasar, sehingga menyebabkan kelangkaan kayu bakar. Awal musim panas ini, Asosiasi Kayu Bakar Federal Jerman mengatakan pasar telah kehabisan kayu.
Bagian terbesar dari kayu bakar yang digunakan di Jerman —80 % menurut asosiasi— biasanya bersumber dari dalam negeri. Sekarang pemasok kayu bakar Jerman membeli dari Polandia. Untuk mencegah “ panic buying,” seorang penjual telah menjatah pembelian untuk tiga kotak kayu sekaligus.

(Kayu bakar kotakan yang dijual di Jerman/Alamy)
Sementara itu, proses pengeringan kayu memakan waktu panjang, menambah kelambatan untuk memenuhi permintaan. Idealnya, dibutuhkan waktu enam bulan hingga satu tahun pengeringan, karena semakin banyak kandungan air dalam kayu, semakin tidak efisien pembakarannya.
Dalam jangka panjang, serbuan kayu bakar juga menimbulkan masalah lingkungan. Pohon tidak cepat pulih dan bukan pengganti yang layak untuk menggantikan minyak dan gas, menurut para ilmuwan. Asap dari pembakaran kayu juga mengandung bahan kimia beracun.
Tapi tidak banyak pilihan bagi warga Jerman. Apalagi musim dingin sudah di depan mata.
Menurut Euronews, pada hari Kamis, 26 Agustus 2022, harga gas di Title Transfer Facility (TTF), pusat perdagangan terkemuka di Eropa, mencapai €321 atau Rp 5,6 juta per megawatt-jam, melonjak tajam dibandingkan dengan €27 atau Rp 402 ribu yang ditetapkan tahun lalu. Artinya, ada kenaikan harga sampai 1.200 persen.
Harga gas itu merupakan harga tertinggi sepanjang masa, menyusul pengumuman mengejutkan oleh Gazprom, BUMN raksasa energi milik Rusia, yang pekan lalu mengatakan akan segera menutup Nord Stream 1 yang menyalurkan gas dari Rusia ke Jerman.
Pembangkit listrik Jerman sangat bergantung pada pasokan energi gas Rusia, yang menyumbang 55 persen dari impor gasnya tahun lalu ke negara itu.

(Pipa gas Nord Stream milik Gasprom, BUMN Rusia/NPR)
Politisi Eropa telah berulang kali menuduh perusahaan membuat energi gas sebagai senjata untuk menekan negara-negara Uni Eropa atas kehendak Vladimir Putin.
Pada saat yang sama, pemerintah bergegas untuk mengisi penyimpanan gas mereka menjelang musim dingin, karena kekhawatiran ketidakpuasan rakyat tumbuh dari hari ke hari. Belanja yang tak terhindarkan telah membengkakkan harga dan membayar tagihan gas semakin mahal.
" Lima sampai 10 musim dingin berikutnya akan sulit," kata Perdana Menteri Belgia, Alexander De Croo, memperingatkan.

(erdana Menteri Belgia, Alexander De Croo/Archeyd)
Mengingat kekurangan ini, negara-negara anggota Uni Eropa telah menetapkan rencana untuk secara sukarela mengurangi permintaan gas sebesar 15 % sebelum musim semi berikutnya. Upaya yang belum pernah terjadi sebelumnya dimaksudkan untuk meredam dampak pemutusan total aliran gas Rusia, skenario drastis yang dalam beberapa bulan terakhir berubah dari jauh menjadi mungkin.
Ketika harga gas terus naik, muncul pertanyaan mendesak: seberapa tinggi mereka bisa naik?
" Secara teori, tidak ada batasan. Pasar, seperti biasa, mempertimbangkan situasi terburuk, interpretasi terburuk," kata Jonathan Stern, pengamat ekonomi
" Jika Nord Stream 1 tidak melanjutkan aliran gas setelah pemeliharaan tiga hari, tidak ada cara untuk mengatakan seberapa buruk harga bisa naik. Setidaknya, sampai kita melihat betapa dinginnya musim dingin. Saat itulah harga akan mencapai puncaknya."
Akibatnya, rumah tangga di Eropa sekarang bergulat dengan tagihan listrik yang sangat mahal, pabrik memangkas jam produksi mereka dalam upaya untuk menghemat listrik dan pemerintah menyusun rencana untuk kemungkinan melakukan penjatahan gas.
Maka, malapetaka pada rakyat Uni Eropa pun dimulai.
***
Di Belanda, harga gas yang melonjak menyusul penghentian gas dari Rusia, telah menyebabkan industri rumah kaca juga kelimpungan.
Rumah kaca –bangunan yang digunakan untuk menanam tanaman– telah menjadikan Belanda sebagai pengekspor pertanian terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

(Rumah kaca di Belanda/Civil Enginer)
Tetapi industri senilai U$ 7,9 miliar atau Rp 117 triliun ini berkembang ketika harga gas lebih murah. Krisis harga gas kemungkinan akan mempercepat perubahan ke sumber energi lain, tetapi juga dapat menyebabkan banyak bisnis gagal.
Harga gas Eropa menang telah meningkat sekitar 20 kali lipat dari harga tahun lalu. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh Rusia yang membatasi pasokan gas sebagai jawaban atas sanksi Barat atas invasinya ke Ukraina.
Menurut VOA, kelompok industri rumah kaca Glastuinbouw Nederland mengatakan hingga 40 persen dari 3.000 anggotanya kini mengalami masalah keuangan serius. Itu bisa menghasilkan lebih sedikit buah, sayuran, dan bunga di luar musim di toko-toko Eropa. Itu juga bisa berarti produksi mungkin pindah ke negara-negara yang lebih hangat seperti Spanyol, Maroko dan Kenya.
Pemilik rumah kaca Pieter Wijnen ingin lebih memperhatikan sayuran yang dia tanam. Tapi hidupnya kini berpusat pada harga gas dan listrik daripada sayurannya - paprika dan mentimun.

(Pieter Wijnen, petani rumah kaca Belanda/VOA)
" Di rumah kaca seperti ini di musim dingin, Anda perlu memanaskannya," katanya tentang properti miliknya seluas 32 hektar di wilayah Limburg, Belanda selatan.
Wijnen menambahkan, " Ketika harga gas naik, dan harganya akan jauh lebih tinggi dari biasanya, maka kami harus mengubah rencana kami."
Di antara langkah-langkah lainnya, Wijnen memotong area yang dia ingin tetap hangat di Wijnen Square Crops musim dingin ini. Dia berencana untuk menanam lebih sedikit.
Sampai saat ini, rumah kaca Belanda menggunakan sekitar tiga miliar meter kubik gas per tahun, atau sekitar 8 persen dari total kebutuhan nasional. Jumlah itu telah turun karena pilihan terbarukan tersedia.
Menurut Statistics Nederlands, penggunaan gas industri sudah turun 23 persen di tahun ini hingga Juni.
Tetapi jumlah penurunan permintaan tahun ini merupakan tanda kesulitan, kata petani.
Michel van Schie dari Royal HollandFlora mengatakan, " Sejumlah besar petani memilih untuk menutup bisnis mereka karena mereka tidak mengharapkan perubahan dalam jangka pendek."
Ia menambahkan, toko bunga telah memotong pesanan bunga sekitar sepertiga, mengharapkan orang untuk menghabiskan lebih sedikit karena biaya hidup meningkat,
Industri rumah kaca Belanda memiliki hubungan yang mendalam dengan gas alam karena Belanda memiliki ladang gas Groningen, yang merupakan ladang gas terbesar di Eropa selama bertahun-tahun. Produksi ladang gas itu dipotong kembali pada 2010-an karena gempa bumi yang disebabkannya.
Sekitar 15 persen gas yang masuk ke Belanda tahun lalu berasal dari Rusia, meskipun Belanda adalah produsen gas alam terbesar di Uni Eropa dan terbesar di Eropa Barat setelah Norwegia. Pasokan itu juga telah diputus Rusia sehingga menyebabkan harga gas melonjak tajam.
Beberapa rumah kaca yang lebih besar seperti Wijnen's memiliki pabrik yang membakar gas untuk menghasilkan panas dan listrik -sebuah sistem dengan kapasitas 2,4 gigawatt yang tersebar secara nasional, sekitar 14 persen dari total kebutuhan Belanda.
Banyak rumah kaca membutuhkan panas lebih dari listrik, dan dapat menjual daya tambahan selama permintaan tertinggi.
Beberapa rumah kaca telah berinvestasi dalam biomassa untuk menimbulkan kehangatan, meskipun kayu menjadi lebih sedikit tersedia dan lebih mahal. Beberapa memiliki pemanas panas bumi. Semua memanfaatkan tenaga surya untuk pemanasan dan pertumbuhan tanaman - efek rumah kaca asli.

(Rumah kaca di Belanda/DW)
“ Setiap petani adalah unik, sehingga sangat sulit untuk menarik kesimpulan tentang krisis ini,” kata Cindy van Rijswick dari Rabobank, sebuah perusahaan jasa keuangan. Van Rijswick menambahkan bahwa beberapa rumah kaca Belanda dengan kontrak gas berbiaya lebih rendah mungkin berjalan dengan baik.
Ketika produksi ladang gas Groningen turun, Wijnen menginvestasikan 30 juta euro dalam proyek panas bumi dan pabrik biomassa. Tapi pembangkit gasnya yang menghasilkan panas dan listrik saat ini sangat membantu.
" Saya tidak butuh semua listrik, tapi pasar membutuhkan listrik yang mahal, jadi kami membuat listrik, menjualnya ke jaringan, dan kemudian panasnya terkadang cukup murah untuk saya," katanya.
Namun, Van Rijswick dari Rabobank mengatakan bahwa krisis saat ini kemungkinan akan mengubah industri, dengan pergerakan menuju produksi lokal mungkin berbalik arah.
" Sepertinya kita akan kembali ke sejarah lagi dengan Spanyol memproduksi di musim dingin dan negara-negara Eropa utara memproduksi sayuran mereka sendiri di musim panas. Beberapa orang mengatakan mungkin begitulah seharusnya."
Tak hanya rakyat kecil, industri rumah kaca di Belanda yang telah teratur tetap menyediakan sayur dan buah-buahan sepanjang musim, kini juga tengah sekarat gara-gara harga gas melonjak tajam.
***
Ketika harga gas dan listrik eceran melonjak, jutaan orang di Eropa sekarang memang menghabiskan jumlah pendapatan mereka untuk energi.
Menurut Finance Digest, di kota Grimsby, Inggris timur, Philip Keetley tidak menyalakan kipas pendinginnya di rumah saat Inggris terik di bawah rekor gelombang panas musim panas ini.
Melihat rekening banknya menunjukkan bahwa dia tidak mampu membayar tagihan listrik.
" Biaya hidup telah meningkat, namun Anda masih diharapkan untuk hidup dengan uang yang disediakan ketika tidak ada krisis ... Saya dapat menyalakan pemanas atau makan," kata Keetley.
Warga di negara-negara Eropa lainnya juga secara sukarela mengambil tindakan untuk mengurangi konsumsi karena harga gas, listrik, dan bahan bakar meroket karena perang di Ukraina, bersamaan dengan penghentian pasokan gas dari Rusia.
Patokan harga gas Eropa telah melonjak 550 % dalam 12 bulan terakhir. Biaya energi untuk konsumen Inggris akan naik 80% bulan Oktober, regulator Ofgem mengatakan sehingga mengambil rata-rata tagihan rumah tangga tahunan menjadi 3.549 pound ($4.188) atau Rp 62 juta.

(Meteran gas di Eropa/Alamy)
Inggris selama ini menerima 15 persen kebutuhan gas negara itu dari Rusia. Dan pasokan itu telah dihentikan.
Pemerintah Eropa telah bergegas untuk menawarkan bantuan, tetapi data menunjukkan bantuan tersebut tidak membuat perbedaan yang signifikan untuk rumah tangga.
Musim dingin ini, warga Inggris akan menghabiskan rata-rata 10 % dari pendapatan rumah tangga mereka untuk gas, listrik dan bahan bakar pemanas lainnya serta bahan bakar kendaraan domestik, terutama bensin dan solar, dua kali lipat dari jumlah yang mereka keluarkan pada tahun 2021, menurut perhitungan data resmi Carbon Brief.
Hal ini membuat krisis energi saat ini lebih parah daripada krisis tahun 1970-an dan 1980-an. Embargo minyak ketika pecah revolusi Iran terjadi pada tahun 1979 menyebabkan pemadaman dan antrian panjang di pompa bensin di Barat. Pada puncak krisis pada tahun 1982, orang-orang di Inggris membayar 9,3% dari pendapatan mereka untuk energi.
Badan amal Inggris National Energy Action (NEA) memperkirakan 8,9 juta rumah tangga Inggris bisa berada dalam kemiskinan akibat melonjaknya harga bahan bakar setelah Oktober ketika keluarga miskin Inggris naik dari 4,5 juta Oktober lalu.
Sebuah rumah tangga didefinisikan sebagai hidup dalam kemiskina jika pendapatannya rendah dan perlu menghabiskan 10% atau lebih dari pendapatannya untuk energi, menurut NEA dan badan amal Inggris lainnya. Definisi ini secara tidak resmi juga digunakan di negara-negara Eropa lainnya.
" Peningkatan tagihan energi yang kita lihat benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya," kata Peter Smith, Direktur Kebijakan dan Advokasi di NEA.
" Kami berpikir bahwa tren historis rumah tangga berpenghasilan rendah secara tidak proporsional menghabiskan lebih banyak pendapatan mereka untuk energi masih sangat jelas," ujarnya.
Seorang warga Inggris, Keetley kehilangan pekerjaannya sebagai penasihat dewan pada bulan April dan hidup dengan 600 pound ($706.44) atau Rp 10,5 juta sebulan dari skema jaminan sosial. Setengah dari itu untuk sewa, katanya, dengan sisanya hampir tidak mencakup kebutuhan pokok.
Dia sekarang hanya makan satu kali sehari dan meskipun mengurangi konsumsi energi seminimal mungkin, dia menghabiskan lebih dari 15 % pendapatannya untuk membayar tagihan energi.
Sepertiga rumah tangga Inggris telah mengurangi penggunaan kompor dan oven, menurut sebuah studi oleh Financial Fairness Trust, menunjukkan sepertiga telah mengurangi jumlah mandi yang mereka lakukan, dan setengahnya telah menurunkan suhu di rumah mereka.

(Kompor gas jarang digunakan karena harga gas naik tinggi/Irish Examiner)
" Orang-orang melakukan banyak hal untuk mencoba menekan tagihan mereka tetapi jumlah mereka tetap naik. Itu sebabnya kami ingin melihat lebih banyak tindakan dari pemerintah," kata Jamie Evans, rekan peneliti senior di Universitas Bristol yang terlibat dalam Financial Fairness Trust.
Dawn White, yang menderita gagal ginjal, mengatakan dia khawatir biaya energi yang melonjak di Inggris berarti dia tidak akan lagi mampu membayar perawatan yang menyelamatkan hidupnya.
" Tanpa mesin (dialisis) saya lima kali seminggu, 20 jam, saya akan mati," kata White, 59 tahun, yang tinggal di tenggara Inggris.
Harga gas untuk keluarga di sebagian besar negara ekonomi Eropa terkemuka pada awal 2022 melebihi puncak krisis sebelumnya pada 1970-an, 1980-an dan 2000-an, menurut indeks yang disesuaikan dengan inflasi untuk rumah tangga yang disediakan oleh Badan Energi Internasional (IEA).
Di Turkiye, harga gas naik lebih dari dua kali lipat pada Juli dari tahun sebelumnya, sementara harga listrik melonjak 67 % tahun-ke-tahun, menurut data Institut Statistik Turki.

(Meteran gas di Turkiye/Babnet)
Beyda Bal, 27 tahun, yang tinggal di kota Istanbul, mengatakan dia membatasi penggunaan oven hingga tiga kali sebulan untuk menghemat energi. Suaminya pulang-pergi ke tempat kerja dengan bus untuk menghemat bahan bakar, meskipun butuh waktu tiga kali lebih lama.
Di Uni Eropa, keluarga Italia dan Jerman termasuk yang paling terpukul oleh lonjakan harga gas, menurut data IEA.
Tagihan energi di rata-rata keluarga Italia, terutama untuk gas dan listrik, melonjak menjadi 5 % dari total pengeluaran rumah tangga pada Juli 2022, menurut data dari perusahaan riset ekonomi Prometeia.
Italia tahun lalu mengimpor sekitar 40 persen gasnya dari Rusia. Dan pasokan gas itu telah dihentikan Rusia. Pada bulan Juli, pemerintah mengumumkan rencana penghematan untuk keadaan darurat yang dapat mencakup pembatasan pemanasan hingga 19°C di musim dingin dan pendinginan hingga 27°C di musim panas, mengurangi penerangan jalan di malam hari. dan menutup toko lebih awal.

(Pemanas ruangan di Eropa/DW)
Di negara ekonomi terbesar Eropa, Jerman, tagihan gas rumah tangga naik lebih dari dua kali lipat pada Juli dari 2021, menurut data dari portal harga Check24, sementara harga minyak pemanas untuk keluarga dengan rumah teras tengah naik 78 % tahun-ke-tahun di bulan Mei.
Ercan Erden, 58 tahun, tinggal di kota Nidda, timur laut Frankfurt, Jerman dan bekerja sebagai operator mesin di sebuah pabrik air mineral.
" Saya sekarang mandi di tempat kerja setelah bekerja, dan saya bercukur di tempat kerja," katanya.
***
Akibat tingginya harga gas setelah Rusia menyetop pasokan, di Jerman juga meletuskan aksi protes dan demo terhadap melonjaknya inflasi dan kenaikan harga energi
Menurut People Distpach, kelompok oposisi di Jerman telah memulai protes luas menuntut pemerintah mengatasi inflasi yang melonjak dan harga energi yang meroket.
Pada hari Senin, 5 September, partai kiri Die Linke menyelenggarakan demonstrasi besar-besaran di Leipzig yang dihadiri oleh ribuan orang, termasuk para aktivis dari Persatuan Mahasiswa Sosialis-Demokrat (SDS) dan beberapa kelompok kiri lainnya.

(Demo partai kiri Die Linke di Jerman akibat gas naik/Pepole Dispatch)
Mereka menuntut koalisi pemerintah negara itu –yang terdiri dari Partai Sosial Demokrat Jerman (SPD), Partai Demokrat Bebas (FDP) dan koalisi Aliansi 90/The Greens– untuk memastikan bahwa listrik, pemanas, makanan, dan bus dan transportasi kereta api tetap terjangkau untuk semua orang. Sementara itu, kelompok sayap kanan termasuk Alternative for Germany (AfD) dan Free Saxon juga memulai protes untuk meredam kemarahan rakyat terhadap pemerintah.
Karena perang Rusia-Ukraina yang sedang berlangsung dan sanksi yang diberlakukan oleh UE dan AS atas ekspor gas Rusia ke Eropa, harga energi telah meroket di negara-negara Eropa, mengakibatkan krisis biaya hidup yang akut. Sanksi tersebut juga dipicu penghentian pasokan gas dari proyek Nord Stream, sumber utama pasokan gas alam dari Rusia ke Eropa melalui jaringan pipa lepas pantai ke Jerman.
Untuk membantu importir gas, pemerintah Jerman telah mempertimbangkan pungutan harga gas kontroversial sebesar 2,4 sen euro atau Rp 35 ribu per kilowatt hour (kWh) untuk konsumen dan mulai berlaku tanggal 1 Oktober. Hal ini akan menambah beban keuangan yang dihadapi masyarakat biasa. terhadap krisis biaya hidup yang sedang berlangsung.
Partai Die Linke telah meminta pemerintah untuk membatasi harga energi di daerah itu untuk meringankan penduduk dari meroketnya harga.
Die Linke menyatakan bahwa “ dengan retribusi gas yang direncanakan sebesar 2,4 sen, keluarga akan dikenakan biaya tambahan beberapa ratus euro. Melalui retribusi gas, perusahaan dapat meneruskan 90 % dari kenaikan biaya kepada konsumen.”
“ Harga gas sudah naik drastis. Semakin banyak orang tidak lagi tahu apakah mereka masih mampu untuk memanaskan rumah mereka musim dingin ini. Kesejahteraan perusahaan tampaknya lebih penting bagi pemerintah federal daripada kehidupan banyak warga negara. Bahkan korporasi yang untung besar karena kenaikan harga akan diuntungkan dari pungutan gas,” tambah partai itu.
Maraknya demo dan penderitaan rakyat Eropa agaknya sudah dikalkulasi Rusia. Menjadikan gas sebagai alat peperangan melawan Eropa, adalah strategi yang brutal. Putin ingin membalas sanksi yang dijatuhkan Eropa ke Rusia. Apalagi rakyat di Uni Eropa akan segera menghadapi musim dingin yang membeku. Tanpa gas murah, mereka yang miskin mungkin tidak bakal bertahan. Rakyat kecil juga pertama yang menjadi korban dari peperangan energi ini. (eha)
Sumber: Quartz, Euronews, VOA, Finance Digest, People Distpach
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya