Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Sebuah kisah menyedihkan sekaligus mengenaskan tentang seorang ibu hamil yang meninggal dunia saat dibawa ke rumah sakit.
Ditandu menggunakan sarung sejauh 7 kilometer, ibu bernama Asmia itu meninggal bersama dengan bayi yang dikandungnya.
Wanita berusia 33 tahun itu kemungkinan mengalami kelelahan saat ditandu dari rumahnya di Dusun Buttu Batu, Desa Kariango, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.
Saat itu Asmia dibawa menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lasinrang Pinrang untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.
Namun Direktur Utama RSUD Lasinrang Pinrang, dr Moh Inwan Ahsan mengatakan kondisi Asmia sudah sangat lemah saat tiba di rumah sakit.
" Asmia pucat saat tiba di rumah sakit pada Jumat malam (6 Januari). Dia sudah dalam keadaan lemah sebelum melahirkan," terang Moh Inwan.
Menurut Inwan, tim dokter yang melakukan pemeriksaan USG menemukan bayi yang dikandung Asmia sudah meninggal dunia.
Sebelumnya tim dokter menduga ada pendarahan pada rahim Asmia hingga wanita itu kemudian dirawat di unit perawatan intensif (ICU).
Saat dilakukan operasi cesar terhadap Asmia, ternyata benar ada luka robek di rahim dan bayinya ditemukan meninggal pada hari Sabtu siang.
Diketahui lokasi tempat tinggal perempuan tersebut di Dusun Buttu Batu, Desa Kariango, merupakan daerah terpencil dan berbukit.
Sehingga akses keluar dusun sangat sulit. Mobil kesehatan desa Kariango bahkan sulit untuk masuk ke dusun di mana Asmia tinggal.
Selain itu, kurangnya fasilitas kesehatan dan kondisi jalan yang buruk membuat warga setempat tidak dapat menerima layanan kesehatan yang layak.
Menurut bidan desa Kariango yang juga mendampingi Asmia, ia dan warga harus berjalan kaki selama tiga jam dan menempuh jarak 7 kilometer untuk sampai ke Desa Bakaru.
Dari Desa Bakaru, rombongan yang berangkat dari rumah Asmia jam 6.00 WITA itu masih harus mengantarkannya ke Puskesmas Salimbongan.
Karena kondisi Asmia yang semakin melemah, pihak puskesmas merujuknya ke RSUD Lasinrang Pinrang. Mereka baru sampai di sana jam 12.00 WITA.
Sumber: mStar
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya