Kisah Dua Sahabat, Andari dan Tjut Riana

Reporter : Vinda Prashita
Kamis, 7 Agustus 2014 17:38
Kisah Dua Sahabat, Andari dan Tjut Riana
Kisah dua orang sahabat. Selama 34 tahun. Besar sama-sama, bekerja, bersuami lalu memutuskan berhijab.

Dream - Banyak yang bilang, foto bisa menipu. Saat melihat sebuah potret lama di masa Sekolah Dasar dulu, saya melihat wajah-wajah lugu dengan penampilan norak-norak bergembira. Ada yang berkuncir dua ada pula yang berkepang satu ala gadis desa nan polos.

Di sinilah saya mulai terkecoh. Si kepang satu itu ternyata tak sepolos penampakannya. Pertemuan pertama saya dengannya—kemudian saya tahu bernama Cutri-- terjadi sekitar Juni 1980. Saat itu kami sama-sama menjadi murid baru di Sekolah Dasar.

Saya tahu dia anak pintar. Juga ambisius. Dia pernah kesal karena kalah ranking dengan seorang murid lelaki di kelas. Syukurlah anak itu kemudian pindah sekolah ke lain kota. Saya curiga dia sebenarnya hengkang karena diancam atau disantet diam-diam oleh Cutri. *mulai menebar fitnah*

Cutri termasuk teman yang galak dan pedes. Cabe rawit aja sih, lewat. Dia tidak segan-segan menegur, memarahi, bahkan melabrak orang. Saya termasuk yang pernah dilabrak Cut karena dituduh terlibat menyebarkan gosip tentang seorang teman-- padahal tidak. Untunglah saya tabah *walau hampir pipis di celana* dan tidak melaporkan kasus bullying ini ke Mahkamah Internasional.

Berawal dari bully berakhir jadi mesra. Sejak masih imut-imut, kami berdua sudah punya chemistry. Dan kimiawi itu bertahan hingga tiga puluh empat tahun kemudian...

Teman datang dan pergi. Tapi kami nyaris selalu bersama di tiap fase kehidupan. Dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, kuliah, masa kerja dan masa kini (baca: masa jompo). Di saat rekan-rekan sebaya mulai berpacaran, kami tetap berduaan kian kemari. Termasuk di malam Minggu. Kami bahkan menyiapkan contigency plan: jika tak jua mendapat jodoh, kami akan tinggal bersama sampai nenek-nenek. Seperti di serial The Golden Girls itu, lho.

Syukurlah the golden girls are finally sold out (baca: ada juga lelaki yang khilaf naksir kami). Akhirnya ada juga alasan memutus persahabatan yang memprihatinkan dengan Cutri. Yaaaay. Horeeeeee. Hip hip huraaaa.... *buka sampanye*

Ternyata oh ternyata, hubungan kami sudah telanjur akut. Baru saya sadar: kedekatan kami tak semata-mata karena solidaritas sesama jomblo. Bukan pula karena letak geografis rumah atau kesamaan almamater. Kami tetap mesra meski terpisah jarak, waktu dan alam *kenapa jadi horor?* Bahkan ketika sudah bekerja, menikah, beranak pinak dan resign dari kantor.

Tiada kesibukan yang sanggup memisahkan kami dari aneka kencan -- baik yang terencana maupun yang dadakan. Jika Cutri menelepon dan mengajak bertemu-- makan siang, ngopi-ngopi atau shopping-- saya langsung mau tanpa perlawanan. Begitu juga sebaliknya. Urusan lain boleh ditunda dan dicarikan alasannya, tapi tidak dengan kencan kami. Cutri is indeed a friend I can't cancel on.

Cutri adalah orang pertama --setelah keluarga-- yang ingin saya beritahu kabar gembira atau sedih yang aku alami. Dulu, waktu SD saya gemetar dengan kata-kata pedasnya, sekarang saya justru menanti tanggapan sadisnya dalam setiap problem yang saya hadapi. Kalau teman lain lebih banyak memberi masukan indah, Cutri adalah my devil advocate. Di saat saya down atau sedih, Cutri-lah yang melecut dengan kata-katanya yang setajam silet.

Kami selalu berbagi kabar penting (seperti: sepatu Everbest promo buy 1 get 1 atau Starbuck's diskon 50 persen untuk mug) maupun yang tidak penting. Kami selalu melakukan live report –saingan dengan CNN-- soal apa yang kami alami. Percakapan Blackberry Messenger dan Whatsapp kami nyaris tak kenal waktu. Bahkan sampai tengah malam. Kami sempat waswas para suami curiga istrinya punya pacar gelap! Kami tak pernah saling menghakimi. Paling-paling hanya menjaksai. *maaf garing*.

Saya dan Cutri memegang prinsip: Best friends don't judge each other. They judge other people....together! Saya yang sudah mengenakan jilbab selama sekitar 8 tahun tak pernah memaksa atau sekadar membujuk Cutri untuk berhijab. Selama ini, Cutri bilang belum memakai jilbab karena mudah gerah lah, merasa kecekek lah, kesulitan karena naik turun kereta lah, dan sejuta alasan lain. Ya biar saja, itu kan urusan pribadi. Hingga di hari ulang tahun Cutri ke 40, kami bertemu di Starbuck's Grand Indonesia. Tanpa mukadima, Cutri langsung menyatakan: minggu depan akan memakai jilbab! Saya pun melongo (antara terharu dan lapar). Lalu Cutri memaksa saya memberi petunjuk apa yang harus dibeli dan disiapkan sebagai newbie di urusan kerudung. Sungguh tak disangka, Cutri selama ini diam-diam menjadikan saya suri tauladan dan role model dalam berjilbab. Betul-betul salah dia memilih idola!

Ahamdulillah, di tahun ke-34 persahabatan ini, bertambah satu lagi kesamaan kami: jilbab. Tapi, lagi-lagi, jangan tertipu penampakan. Meskipun kami nampak suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan *ini bukannya Dasadarma Pramuka ya?*, kerudung tak membuat kami sok alim. Keakraban kami tak berganti menjadi persahabatan syariah *bank kaleeee*. Dengan hijab, kami makin berlomba-lomba dalam kebajikan. Dan kami sepakat, kebajikan itu datang dalam bentuk big sale atau 50 percent off di mall-mall Jakarta.

Kata orang pintar (yang tidak minum Tolak Angin): Friends are like mirrors. You can see yourself just by looking at them. Begitupun persahabatan kami. Dengan banyaknya persamaan saya dan Cutri, kami kadang-kadang kami merasa seperti “ saudara kembar”-- meskipun beda bapak, beda ibu dan beda saldo ATM (damn, kenapa harus bawa-bawa tabungan sih?). Dengan banyaknya persamaan di antara kami, rasanya tak berlebihan jika saya bilang Cutri bukan hanya seorang sahabat. Dia adalah semacam selfie: sebuah “ potret diri” saya dalam sosok orang lain.

Andari Karina Anom

Tentang Karin

Mengenang Karin sebagai siswi SD amat mudah, pertama carilah gadis kecil kerempeng berkacamata dengan rantai kacamata menjurai di telinga. Ya, Karin adalah teman pertama saya yang mengenakan kacamata. Di saat saya dan teman-teman SD lainnya kelebihan energi berlarian kian kemari, Karin adalah satu-satunya anak yang ikut berlarian sambil tak lupa menjaga kacamatanya jangan sampai terpelanting.

Saya dan Karin masih satu sekolah di SMP walau tidak pernah. Keakraban kami berlanjut ketika kami menjajal aneka kegiatan ekstra kurikuler di sekolah. Jadilah momen-momen SMP kami terisi dengan berkemah, latihan pencinta alam dan Palang Merah Remaja (PMR) serta aneka aktivitas sok sibuk lainnya. Menjelang SMA, kami tidak terlalu sering berhubungan. Selain karena SMA yang berbeda, kami juga sibuk mencari jati diri dan... pacar (walau lebih sering gagal).

Syukur alhamdulillah, kami berdua diterima di UI walau berbeda fakultas. Dengan energinya yang berlebih, Karin aktif di aneka kegiatan: di remaja mesjid di dekat rumahnya, wartawan di media kampus, penyiar dan copy writer di sebuah radio swasta dan banyak lagi. Walhasil saya selalu kesulitan apabila ingin mengatur janji kencan dengannya. Kegiatan boleh banyak, teman boleh tak terhitung, networking amat luas, namun pacar? Next question, please...

Setelah mendapat surat cinta dari fakultas mengenai masa belajar di kampus yang makin menipis waktunya, Karin berjibaku menyelesaikan kuliahnya hingga lulus. Cita-citanya menjadi wartawan tercapai: Karin diterima di majalah Tempo. Selanjutnya Karin mendapat beasiswa dan melanjutkan S2 di London. Kerja sebagai wartawan nampaknya memang melelahkan *pasang wajah prihatin*.

Tiap kali kami berkencan sepulang kantor, saya sebagai karyawan bank tampil kinclong dengan blazer dan high heels, Karin sebagai wartawan tampil lusuh kelelahan sehabis meliput. Kisah persahabatan kami tidak melulu tentang hal-hal indah. Ada suatu masa ketika Karin mengidap suatu penyakit serius. Yang saya kagumi dari Karin adalah ketegaran dan ketabahannya. Sifatnya yang penuh semangat tidak berubah, dengan segala keterbatasannya dia tetap beraktifitas seperti biasa. Tak heran kalau akhirnya Karin sembuh total seperti sekarang. Memang, pikiran positif adalah obat yang mujarab. Alhamdulillah.

Setelah kini kami menikah dan beranak-pinak, tidak ada yang berubah dari Karin. Dia tetap teman saya yang selalu tergoda dengan tulisan ‘sale’ atau ‘buy one get one free’. Biasanya dia mengambil aneka barang (hingga saya stres melihatnya), namun begitu mendekati meja kasir biasanya dia bimbang dan bertanya: “ Eh, ini bagus enggak? Eh ini perlu enggak?’ Ending dari sesi belanja ini adalah: Karin hanya membeli 1 jenis barang atau malah kadang-kadang tidak ada yang dibeli. She is really decisive!!!

Setelah barang dibeli, Karin akan memasuki sesi bolak-balik mengeluarkan barang baru dan mengamatinya dengan suka cita-- termasuk saat menyetir! Dia bahkan sering mencoba sepatu yang baru dibeli sambil menyetir! Boys and girls, dont try this at home! Its very dangerous!

Memiliki sahabat selama 34 tahun adalah berkah tersendiri. Karin ada di momen-momen penting hidup saya: saat memutuskan pindah kerja, menikah, cari rumah, keguguran, melahirkan, berburu babysitter, dan saat saya memutuskan jadi full time mom, Karin ada di situ. Bahkan kini semakin menikmatinya karena saya semakin “ murahan” tiap diajak ngupi-ngupi dan traveling. Tak heran apabila kebiasaan bertegur sapa diantara kami sudah seperti bernafas, menjadi kebutuhan, apalagi di era BBM dan Whatsapp ini.

Sejak subuh hingga tengah malam, ada saja hal-hal yang kami diskusikan, mulai hal-hal urgent (jarang banget) hingga hal-hal ecek-ecek (hampir semua). Termasuk saat akhirnya saya mengenakan jilbab.

Karin adalah orang pertama yang saya mintai petunjuk dan bimbingan soal hijab for dummies. Baru belakangan saya sadar telah memilih guru yang salah. Bukannya mengajarkan jilbab yang modis ala Dian Pelangi, Karin malah memberi advis-advis mengerikan. Petuahnya, antara lain, jangan sampai leher bolong tertusuk peniti, jangan pakai jilbab ninja karena bikin sesak nafas, jangan pakai model yang “ berpunuk” (berkonde tinggi) karena bikin sakit kepala. Saya sadar, petunjuk-petunjuk Karin itu justru lantaran she knows me too well. Dia tahu, bagi wanita renta seperti kami, kenyamanan adalah nomor satu. Kini, jadilah kami berdua sama-sama berjilbab: meski tidak modis, namun murah. *lho?*

Dengan penampakan baru ini, hobi kami pun bertambah dua: berburu jilbab dan berpose dengan kamera iPhone *sekalian pamer kalau saya punya iPhone*. Dulu, jiwa narsis kami tersalurkan melalui photobox di mall-mall. Kini, Karin selalu punya ide-ide kreatif dan tidak tahu malu: selfie dimana saja dan kapan saja. Kalau aksinya terlalu memalukan, saya belagak pura-pura tidak kenal Karin. Saya kadang-kadang memutuskan menyamar menjadi Nadine Chandrawinata atau Bunga Citra Lestari (walaupun tidak ada yang percaya).

Dengan atau tanpa kebiasaan selfie-nya, Karin adalah partner in crime terbaik yang pernah saya miliki. Harta benda dan tahta bisa dicari, namun sahabat sejati adalah berkah tersendiri.

****

Ingin kenal lebih dekat dengan sang penulis Andari Karina Anom silahkan klik tautan ini-http://on.fb.me/1lDkZkW  dan Tjut Riana Adhani pada tautan ini- http://on.fb.me/1sknHj7

*Ingin kisah atau ceritanya dipublish oleh Dream.co.id? Kirim langsung via message di inbox FB Dream. Klik di sini- http://on.fb.me/V40eYj 

Beri Komentar