Anak Masih Cemas dan Menangis di Sekolah Baru, Coba Trik dari Psikolog

Reporter : Mutia Nugraheni
Jumat, 22 Juli 2022 16:12
Anak Masih Cemas dan Menangis di Sekolah Baru, Coba Trik dari Psikolog
Penting bagi orangtua memahami kondisi anak-anaknya dan melihat respons mereka.

Dream - Pekan ini sekolah tatap muka dimulai kembali setelah 2 tahun online karena kasus Covid-19 yang tinggi. Para murid harus kembali melakukan adaptasi dengan teman sekelas yang baru, juga suasana sekolah yang begitu berbeda.

Terutama pada anak-anak yang sebelumnya selalu sekolah online di rumah dan baru pertama kali belajar di sekolah tanpa didampingi orangtua. Hal tersebut sebenarnya bukan hal mudah. Penting bagi orangtua memahami kondisi anak-anaknya dan melihat respons mereka.

Farraas A. Muhdiar, seorang psikolog keluarga, mengungkap kalau dalam situasi pandemi seperti sekarang sangat wajar anak mengalami kecemasan ketika kembali ke sekolah. Di satu sisi mereka senang, tapi juga cemas dengan kondisi yang sangat berbeda.

Bagi anak usia TK dan SD, mungkin ada yang selalu menangis di kelas saat ditinggal. Bisa juga hanya diam saja tak mau bicara sama sekali.

" Kondisi pandemi meningkatkan kecemasan anak untuk bertemu orang baru / masuk ke situasi baru, jadi makin wajar kalau anak cemas saat tiba-tiba harus dateng ke situasi baru dengan kebiasaan dan orang-orang yang serba baru," tulis Farraas di akun Instagramnya @farraas.

 

1 dari 7 halaman

Dampingi dan Jangan Memaksa

Lalu apa yang harus dilakukan orangtua untuk membantu anak meredakan level kecemasannya? Menurut Farraas, berikan label pada emosi anak, apakah ia takut, khawatir sedih atau bersemangat. Hal ini membuat anak mengenali hal yang dirasakan dan mengungkapkannya dengan baik.

Setelah itu, validasi atau akui perasaan anak. Bila anak bilang takut, katakan kalau hal itu bisa dirasakannya dan wajar. Jangan mengecilkannya dengan bilang " ah gitu aja takut" .

Coba berikan beberapa opsi untuk bisa membuat anak nyaman. Misalnya dengan pegangan tangan, berpelukan, menarik napas, bernyanyi atau mungkin minum teh hangat.

" Percaya pada prosesnya. Anak pasti akan bisa melakukannya saat mereka sudah siap," pesan Farraas.

2 dari 7 halaman

Masuk Sekolah Dasar, Psikolog Ingatkan Anak Kerap Merasa Minder

Dream - Pekan ini, anak-anak yang usia 6 tahun ke atas mulai memasuki Sekolah Dasar (SD). Jenjang sekolah yang lebih tinggi, tentunya merupakan tantangan baru bagi anak-anak.

Lingkungan yang mereka hadapi, jadi sangat berbeda. Kondisi tersebut tentunya membutuhkan penyesuaian yang besar dan tak semua anak merasa bisa menghadapinya dengan baik. Tak heran kalau beberapa anak mengeluh dengan suasana sekolahnya yang baru, terutama tugas dan pelajaran yang rumit.

Samantha Elsener, seorang psikolog anak, mengungkap kalau sangat wajar anak di usia SD mengalami kondisi inferior. Yaitu memiliki kecenderungan mengecilkan kemampuan diri sendiri, akibatnya jadi minder atau kurang percaya diri.

" Padahal anak perlu mengembangkan keyakinan diri bahwa dirinya mampu mengembangkan keterampilan yang sedang dilatih. Dalam hal ini termasuk tugas-tugas sekolah," tulis Samantha di akun Instagramnya @samantha.elsener.

3 dari 7 halaman

Analogikan dengan Hal yang Dimengerti Anak

Ia juga mencontohkan beberapa kondisi di mana anak kerap mengeluh atas kemampuan dirinya. Antara lain anak sering mengatakan " aku enggak bisa" , " ini tuh susah" , " aku enggak mau kerjain, susah" .

Menghadapi keluhan anak, orangtua mungkin kebingungan. Menurut Samantha ada respons yang diberikan agar anak tak selalu merasa minder. Cobalah dengan mengatakan pada anak, " makin besar keterampilan kita makin terasah" , atau " saat bayi belum bisa jalan juga latihan jalan sampai bisa lari" .

Penting juga memvalidasi emosi anak yang merasa kecil seperti menyadari ia sedang merasa kesusahan. Katakan padanya " memang susah, makanya perlu latihan supaya makin terampil" atau " istirahat sebentar yuk baru kita coba lagi" .

Dengan berusaha mengerti kondisi anak, orangtua akan bisa menghadapinya dengan baik. Anak pun memiliki sudut pandang lain dengan analoginya sendiri ketika orangtua bisa menjelaskannya.

4 dari 7 halaman

Siapkan Mental Remaja Putri Bila Menstruasi di Sekolah

Dream - Menstruasi bisa terjadi kapan saja. Bagi remaja putri yang baru saja haid pertama kali, hal ini harus disiapkan jauh-jauh hari. Bukan tidak mungkin mereka haid di sekolah.

Bila itu terjadi, anak mungkin bisa panik dan bingung. Terutama, jika tak ada persiapan sama sekali. Penting bagi orangtua untuk menyiapkan mental anak menghadapinya. Apa saja yang harus dilakukan?

1. Diskusikan
Semakin dini berbicara mengenai menstruasi dan perubahan-perubahan yang dapat terjadi selama masa pubertas dengan anak, itu akan semakin baik. Mendiskusikannya sejak dini dapat membantu menghilangkan ketakutan atau kecemasan yang tidak berdasar.

Untuk mulai mendiskusikannya, bisa memulai dengan bertanya pada anak apa yang mereka ketahui tentang pubertas. Beri tahu informasi yang salah, kemudian jelaskan dengan dengan bahasa yang mudah anak mengerti.

Bagi ibu, ceritakan juga saat pertama kali mendapatkan menstruasi. Ini akan lebih membantu anak untuk dapat membayangkannya. Tanyakan kembali pada anak, adakah hal yang ingin ia tanyakan atau masih bingung.

 

5 dari 7 halaman

2. Ajarkan Anak Memahami Siklus Menstruasi

Dijelaskan oleh Gracia Ivonika, seorang psikolog, ibu perlu membantu anak untuk memahami bahwa menstruasi adalah siklus yang normal dan sehat, sehingga anak tidak perlu takut.

“ Ajak anak mengidentifikasi tanggal siklus menstruasinya dan mulai mencatat untuk setiap bulan. Ajak juga untuk mengidentifikasi tanda-tanda menjelang menstruasi yang sebelumnya ia rasakan,” kata Psikolog Gracia.

Bisa jelaskan kepada anak bahwa siklus menstruasi setiap bulannya dapat berubah. Oleh karena itu, membuat tanggalan menstruasi berguna untuk memperkirakan kapan menstruasi berikutnya dapat terjadi.

 

6 dari 7 halaman

3. Siapkan Dompet Pembalut

Apabila anak sudah mengenali tanda-tanda PMS dan mencatat tanggal menstruasi, itu dapat membuatnya memiliki perkiraan kapan ia menstruasi. Dengan begitu, anak dapat mempersiapkan jika haid terjadi di sekolah.

Ajarkan pula anak untuk selalu membawa pembalut dan celana dalam ganti saat sudah mendekati tanggal datang bulan dan saat haid berlangsung. Dengan persiapan yang matang, itu dapat mencegah anak cemas saat haid di sekolah.

Menurut Gracia hal penting yang perlu diajarkan saat anak baru menstruasi adalah cara memakai dan mengganti pembalut dengan benar, terutama saat di tempat umum. Beritahu juga cara mengganti pembalut saat di sekolah. Bisa membawakan anak sabun cair untuk anak mencuci tangannya setiap kali mengganti pembalut. Jangan lupa untuk mengajarkannya cara membungkus dan membuang pembalut dengan benar.

 

7 dari 7 halaman

4. Bila Menembus Seragam

Selanjutnya,perlu mendiskusikan dengan anak tentang ketidaknyamanan selama mens di sekolah, misalnya kebocoran. Perlu mengajarkan cara mencegah kebocoran dan apa yang harus dilakukan jika darah mens menembus seragam.

Bisa minta ia selalu membawa celana dalam dan pembalut ganti di tas. Bisa pula dengan membawa jaket atau cardigan untuk menutupi bagian yang tembus.Boleh menyarankan anak untuk melapor ke UKS atau pada guru perempuan jika diperlukan.

Baca selengkapnya di KlikDokter.

Beri Komentar