Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Orangtua yang memiliki anak usia remaja hingga anak yang berusia di awal usia 20 tahun-an cenderung lebih cerewet dan menganggap anak mereka adalah anak yang pemalas. Anak yang sudah menuju dewasa biasanya kerap mengalami gejolak dan tekanan, sehingga membuat mereka menjadi malas.
Dalam menghadapi anak usia remaja memang perlu kesabaran dan cara mendidik yang khusus. Banyak cerita orangtua tentang anak remaja mereka yang sedang mengalami masalah dan menjadi pemalas.
Seperti dilansir dari Psychology Today, orangtua banyak mengeluhkan, bahkan sampai merasa frustasi dalam menghadapi anak yang pemalas. Seperti penjelasan berikut ini:
© Anak yang malas
Definisi malas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu, tidak bernafsu, tidak suka, dan segan. Namun, bagi orangtua definisi malas sangat luas.
Hanya tiduran saja di rumah, begadang, tidak segera melaksanakan perintah, masuk dalam definisi malas bagi orangtua. Sikap anak yang dianggap pemalas oleh orangtua inilah yang membuat para orangtua menjadi marah dan mengatakan sang anak dengan sebutan pemalas.
Padahal sebutan “ pemalas” justru akan membuat anak menjadi terpengaruh dengan sebutan itu, dan menganggap sebutan itu adalah hal yang wajar. Sehingga, anak akan meneruskan rasa malasnya.
Namun, orangtua tidak perlu khawatir. Melalui artikelnya, Jeffrey Bernstein Ph.D, memberikan tips untuk mengatasi rasa malas pada anak remaja, seperti berikut ini:
© Ibu dan anak
Melabeli anak dengan kata-kata seperti, malas, pemalas dan kata bermakna negatif lainnya, justru akan membuat anak seakan tidak mempedulikan.
Dibandingkan melabeli anak dengan kata-kata bermakna negatif, membuat orang tua mengomel dan lelah sendiri, akan lebih baik orangtua mencoba memahami anak. Ajak anak bicara, dan mendengarkan keluh kesahnya.
Anak menjadi tiba-tiba malas dan tidak melakukan apapun, pasti ada sesuatu yang terjadi. Sebagai orang tua, kita harus memberi perhatian dan semangat kepada anak kita. Terlebih kepada anak remaja dan anak yang beranjak dewasa, jangan biarkan mereka terjebak dalam hal yang buruk.
© Ibu dan anak.
Ketika merasa tertekan, siapapun tidak akan menyukai apabila terus diberi tuntutan ini-itu yang membuat pikiran menjadi tambah lelah. Dilansir dari Psychology Today, tidak mengatur anak, dan bersikap tenang terbukti mampu membantu anak mengatasi rasa malas mereka.
Singkatnya, mengatur emosi diri sendiri sebagai orangtua dan mencoba memahami perasaan anak, bisa membantu meredakan rasa tertekan pada anak dan membuat mereka membuang rasa malas mereka.
Apabila orangtua terpaksa harus menyuruh anak, menggunakan bahasa yang baik bisa digunakan, sehingga tidak akan membuat anak merasa tertekan dan bertambah malas.
© Anak yang sedang bermain
Semakin dewasa anak, maka ia juga akan semakin menunjukkan kegigihan dan motivasi mereka. Namun hal tersebut harus diiringi dengan perhatian orang tua yang terus membantu mereka dengan memberikan motivasi.
Ketika anak merasa malas, coba dekati, atau kalau memungkinkan cobalah untuk membuat makanan kesukaan mereka.
Selain itu, jangan langsung terpancing emosi apabila anak enggan mencuci piringnya sendiri, dan menunjukkan gejala-gejala malas. Ajak mereka bicara dengan baik dan tanyakan alasannya, bisa jadi cara mengatasi rasa malas anak yang baik.
© Ibu dan anak
Daripada mengomel saja karena anak malas, lebih baik orang tua memberi semangat dengan memotivasi anak untuk menjalani hari-harinya. Misal saja anak masih enggan untuk belajar, tanyakan apa alasannya dan berilah motivasi yang membangun.
Mendengarkan anak-anak tentang keluh kesah mereka, wajib dilakukan oleh para orang tua untuk mengatasi rasa malas pada anak. Misalnya saja, ketika anak pulang sekolah dan mengeluh lelah, enggan makan dan langsung tiduran, jangan bentak dia dan menyebutnya sebagai pemalas.
Kunci cara mendidik anak dan mengajari anak untuk mengatasi rasa malasnya adalah komunikasi yang baik dan motivasi orangtua ke anak.