Islam Melarang Keras Memberi Julukan Jelek Pada Anak

Reporter : Mutia Nugraheni
Rabu, 19 Agustus 2020 12:02
Islam Melarang Keras Memberi Julukan Jelek Pada Anak
Menurut ulama memberi nama julukan yang buruk kepada anak atau siapa pun tidak diperbolehkan.

Dream - Banyak orangtua memiliki panggilan tertentu untuk anak. Pastikan, nama panggilannya bermakna baik dan bukan untuk menjelekkanya. Islam mengajarkan untuk memberikan nama yang indah pada keturunan.

Dikutip dari Tebu Ireng Online, sebagaimana keterangan hadis riwayat Abi daud sebagai berikut:

“ Disunahkan orangtua memperbagus nama anak yang dilahirkan. karena hadis “ sesungguhnya kelak pada hari kiamat kalian akan dipanggil dengan nama kalian dan nama-nama bapak kalian, maka bagusilah nama kalian. Dan lebih baik-baiknya nama adalah Abdullah dan Abdurrahman. Sebagaimana hadis riwayat Imam Muslim: “ nama yang paling disukai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (al Fiqh al Islami wa Adilatuhu, juz 4 halaman 289)

Nama adalah sebuah doa, nama terkadang juga dinukilkan dari nama ulama atau tokoh tertentu. Dengan nama itu, harapannya, bisa menjadi inspirasi atau motivasi bagi anak. Lalu, bagaimana menggelar atau memberikan julukan nama anak dengan julukan nama yang buruk?

Menurut ulama memberi nama julukan yang buruk kepada anak atau siapa pun tidak diperbolehkan, semisal memberi julukan dengan nama Abdul Uzza, Fir’aun, atau Si Pendek. Sebagaimana keterangan dalam kitab al Fiqh al Islami wa Adillatuhu berikut ini:

“ Haram memberi julukan kepada seseorang dengan julukan yang tidak disukai, semisal orang pincang dan buta. Dan boleh menyebut namanya dengan niat memperkenalkan kepada orang yang belum diketahui kecuali dia. Selain itu, boleh memberikan julukan-julukan yang baik, semisal julukan sahabat Nabi seperti Umar al Faruq, Hamzah dengan ‘Asadullah, dan Kholid dengan Syaifullah.’’

Selengkapnya baca di sini.

1 dari 3 halaman

Ayah Tak Nafkahi Anak Lahir Batin, Apa Hukumnya dalam Islam?

Dream - Salah satu tugas ayah dalam Agama Islam dan akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat adalah menafkahi anak. Nafkah lahir dan batin wajib dipenuhi seorang ayah pada anak-anaknya.

Baik ketika terikat pernikahan dengan ibu anak-anaknya atau pun sudah bercerai. Sayangnya, masih banyak para ayah yang tak memenuhi tanggung jawabnya. Terutama setelah bercerai dan anak-anaknya tinggal dengan ibunya.

Dikutip dari Imam Mawardi dalam kitab al-Hawi ak-Kabir fi Fiqh Madzhab al-Imam al-Syafi’i menjelaskan terdapat dua poin penting tentang tanggungjawab menafkahi anak. Pertama, tanggung jawab menafkahi anak adalah kewajiban bapak bukan kewajiban ibu.

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa seorang bapak wajib memenuhi kebutuhan anak sejak menyusui, memberi nafkah, pakaian dan keperluan-keperluannya ini berdasarkan firman Allah SWT.

Albaqarah ayat 233© Bincang Muslimah

" Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada anak yang dilahirkan dengan cara ma’ruf" . (QS. Al-Baqarah ; 233).

 

2 dari 3 halaman

Jangan Takut Miskin

Kedua, larangan menelantarkan anak sebab enggan memberikan nafkah pada mereka lantaran takut menjadi miskin. Padahal Allah SWT Sang Maha Pemberi Rizki. Sebagai mana dijelaskan dalam QS. Al-Isra ayat 31.

 

Al Isra ayat 31© Bincang Muslimah

“ Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut akan kemiskinan. Sesungguhnya Kami yang akan memberi rizki kalian. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar" .

 

3 dari 3 halaman

Tak Boleh Menelantarkan

Imam at-Thabari dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa para bapak pada dahulu kala membunuh anak-anak mereka karena takut miskin, karenanya Allah menegaskan pada ayat di atas bahwa

Dialah yang akan memberi rezeki tersendiri untuk sang anak tanpa mengurangi rejeki sang bapak. Jangan menelantarkan anak-anak mereka apalagi sampai menyebabkan kematiannya.

Adalah berdosa jika seorang ayah tak menafkahi anak-anaknya. Hal ini sesuai hadist HR. Ahmad 6842, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth.

HR Ahmad soal kewajiban nafkah© Konsultasi Syariah


" Seseorang dianggap melakukan dosa, jika dia menyia-nyiakan orang yang orang yang wajib dia nafkahi.”

Sumber: Bincang Muslimah dan Konsultasi Syariah

Beri Komentar