Mo Salah Minta Pemimpin Inggris Desak Israel Hentikan Serangan ke Palestina

Reporter : Cynthia Amanda Male
Rabu, 12 Mei 2021 13:15
Mo Salah Minta Pemimpin Inggris Desak Israel Hentikan Serangan ke Palestina
Agar tidak ada pembunuhan dan kekerasan lagi.

Dream - Serangan Israel ke Palestina menuai kecaman dari banyak pihak. Masyarakat dunia mendesak agar serangan tersebut segera diakhiri agar tidak timbul lagi korban jiwa tak bersalah. 

Begitu juga dengan pesepakbola Liverpool, Mohamed Salah. Dia mendesak para pemimpin Israel untuk segera menghentikan serangan. Ini agar tidak ada lagi manusia yang terbunuh.

Dilansir dari Al Jazeera, Salah menyatakan hal tersebut di tengah upaya Israel melanjutkan serangannya di jalur Gaza, Palestina, Selasa kemarin.

Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas menargetkan serangan 130 roket ke Tel Aviv setelah Israel menggempur sebuah blok rumah susun 13 lantai di Gaza, Palestina.

1 dari 7 halaman

Minta Serangan Segera Diakhiri

Salah mengirimkan cuitannya pada Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson untuk memastikan pembunuhan di Palestina segera dihentikan.

Cuitan Mohamed Salah© Twitter @mohsalah

" Aku memanggil semua pemimpin dunia termasuk Perdana Menteri dari negara yang telah menjadi rumahku selama 4 tahun belakagan ini untuk melakukan apapun dengan kekuasaanya untuk memastikan kekerasan dan pembunuhan orang tidak bersalah dihentikan segera. Cukup. @BorisJohnson," tulisnya, Selasa kemarin.

Cuitan tersebut telah di-retweet sebanyak 68.500 kali dan mendapatkan ribuan reaksi lainnya di Twitter.

Hingga kini, Menteri Kesehatan Palestina di Gaza menyatakan sebanyak 28 korban termasuk 10 anak-anak dan 1 wanita. Sebanyak 152 orang juga terluka akibat kondisi di Palestina.

© Dream
2 dari 7 halaman

Serangan Israel Ambrukkan Hunian 13 Lantai di Gaza, 35 Tewas

Dream - Kondisi Palestina belum juga membaik. Israel terus melancarkan serangan udara ke wilayah Gaza, bersamaan dengan serangan polisi ke jemaah Masjidil Aqsa di Yerusalem.

Jumlah korban serangan udara Israel ke Gaza terus bertambah. Lebih parah lagi, hunian 13 lantai ambruk dihantam roket Israel

Hingga hari ini, jumlah korban jiwa bertambah menjadi 35 orang setelah Israel meluncurkan serangan udara ke satu blok rumah susun 13 lantai di lingkungan Tel al-Hawa.

Dikutip dari Aljazeera, Rabu, 12 Mei 2021, serangan tersebut menewaskan 3 orang. Di antaranya adalah perempuan yang sedang hamil 4 bulan bernama Reem dan putranya berusia 5 tahun bernama Zaid.

Kabar tersebut diunggah oleh saudara laki-lakinya yang bernama Ahmeed Saad. Selain rumah susun itu, Israel juga menargetkan gedung al-Johara yang merupakan kantor beberapa organisasi media.

Kantor Aljazeera yang berada di dekat gedung al-Johara mengalami sedikit kerusakan. Serangan tersebut diketahui merupakan balasan tembakan 200 roket Hamas ke Israel.

Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas menyatakan telah menyiapkan tembakan 110 roket ke Tel Aviv dan 100 roket ke kota Beersheva karena Israel telah menyerang rumah warga.

3 dari 7 halaman

Unggahan Pro Palestina Terhapus, IG dan Twitter Berdalih Kerusakan Sistem

Dream - Dalam beberapa hari belakangan, sejumlah unggahan mengenai dukungan terhadap Palestina di platform media sosial Instagram dan Twitter terhapus secara otomatis. Admin dari masing-masing platform tersebut berdalih telah terjadi kerusakan pada sistem mereka.

Tetapi, koalisi masyarakat sipil dan aktivis hak digital berpandangan sebaliknya. Mereka menuding Instagram dan Twitter terus melakukan penyensoran konten Palestina.

Warga Palestina yang menghadapi ancaman penggusuran dari lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur yang diduduki telah menggunakan media sosial untuk melayangkan protes. Sejak pekan lalu, muncul laporan tentang unggahan, foto dan video yang dihapus dan akun diblokir karena dilaporkan melanggar standar komunitas.

Dalam pernyataan bersama pada hari Senin, lebih dari 20 kelompok menyeru Facebook dan Twitter telah secara sistematis membungkam protes pengguna. Mereka mendesak dua platform raksasa tersebut menerapkan " kebijakan moderasi konten yang transparan dan koheren."

Menandai skala penghapusan konten sebagai " mengerikan dan diucapkan," penandaan tersebut menunjukkan " pola yang lebih luas dari penyensoran yang konsisten terhadap suara Palestina dan sekutu" yang telah " didokumentasikan selama bertahun-tahun."

© Dream
4 dari 7 halaman

"Kesalahan Sistem" Jadi Alasan

Instagram dan Twitter menyatakan sejumlah akun" ditangguhkan karena kesalahan oleh sistem otomatis kami" . Laporan Reuters menyatakan kedua platform telah meminta maaf dan mengklaim " masalah telah diselesaikan dan konten dipulihkan."

Dalam pernyataan pada Jumat, Instagram mengatakan pembaruan otomatis pekan lalu menyebabkan konten yang dibagikan ulang oleh beberapa pengguna tampak " hilang" . Kondisi ini berdampak pada " puluhan juta cerita," termasuk postingan di Sheikh Jarrah dan area bermasalah lainnya.

" Kami sangat menyesal ini terjadi. Khususnya bagi mereka yang berada di Kolombia, Yerusalem Timur, dan komunitas adat yang merasa ini adalah penindasan yang disengaja terhadap suara dan cerita mereka - itu bukan maksud kami sama sekali," demikian pernyataan Instagram.

Tetapi pada Senin, salah satu penandatangan pernyataan itu, 7amleh, sebuah kelompok advokasi hak digital nirlaba Palestina, mengatakan telah menerima lebih dari 200 keluhan tentang postingan yang dihapus dan akun yang ditangguhkan tentang Sheikh Jarrah. Kelompok tersebut mencatat laporan terus menerus masuk.

5 dari 7 halaman

Penjelasan Aneh Instagram dan Twitter

Direktur 7amleh, Nadim Nashif, mengatakan pemulihan konten dan akun yang dihapus, penjelasan yang ditawarkan oleh Instagram dan Twitter tidak " terdengar logis" . Dia menyebutnya " aneh" bagi perusahaan untuk menyamakan apa yang terjadi di Yerusalem dengan masalah lain di tempat lain.

" Kami belum berhasil mendapatkan sistem moderasi konten yang transparan dan jelas. Kata kuncinya di sini adalah transparansi dan kesetaraan, karena ini tidak terjadi di pihak Israel," kata Nashif.

Penandatangan lainnya, kelompok hak digital Access Now, mengklaim " masalah belum terselesaikan" dan mengatakan platform menggunakan 'gangguan sistem' sebagai alasan tidak lagi dapat diterima.

Marwa Fatafta, penasihat kebijakan Timur Tengah dan Afrika Utara Access Now, mengatakan kepada Reuters perusahaan teknologi harus transparan tentang sistem yang mereka gunakan. " Harus dipastikan mereka tidak melanggar hak-hak orang dengan cara yang diskriminatif dan sewenang-wenang," kaa Fatafta.

Baik Facebook maupun Twitter belum mengeluarkan pernyataan tindak lanjut.

© Dream
6 dari 7 halaman

Instagram Sempat Buat Masalah

Instagram sebelumnya telah menimbulkan kontroversi atas masalah Palestina, terutama setelah menghapus unggahan supermodel Bella Hadid pada Juli lalu. Dalam unggahannya, Bella Hadid menunjukkan paspor AS ayahnya dengan tempat kelahirannya terdaftar sebagai Palestina.

Unggahan tersebut dihapus Instagram dengan alasan " pedoman komunitas tentang pelecehan atau penindasan."

" Apakah kami tidak diizinkan menjadi orang Palestina di Instagram? Ini, bagi saya, adalah penindasan. Anda tidak dapat menghapus riwayat dengan membungkam orang. Tidak berhasil seperti itu," protes Bella, dikutip dari RT.

7 dari 7 halaman

Warga Israel Bersorak Kegirangan Lihat Pohon di Masjidil Aqsa Terbakar

Dream - Warga Israel di Yerusalem bersorak kegirangan, menyusul terbakarnya satu pohon di komplek Masjidil Aqsa. Peristiwa itu bersamaan dengan bentrok antara polisi Israel dengan jemaah Masjidil Aqsa yang sedang beribadah.

Sejumlah video viral di media sosial, menunjukkan puluhan warga Israel bernyanyi bersama-sama di depan tembok pembatas Masjidil Aqsa. Mereka meneriakkan yel-yel dan berlompat-lompat kegirangan.

Sementara api terlihat berkobar di balik tembok. Satu pohon mengalami kebakaran hebat.

Dikutip dari Alarabiya, seorang saksi mata mengatakan pohon tersebut terbakar akibat warga Palestina melemparkan kembang api sebagai serangan balik ke polisi Israel. Peristiwa itu terjadi pada Senin malam, 10 Mei 2021.

Bentrokan di Masjidil Aqsa terus terjadi dalam beberapa hari terakhir Ramadan. Lebih dari 200 warga Palestina terluka akibat serangan polisi Israel di luar komplek Masjidil Aqsa di Yerusalem Timur.

Insiden ini dipicu pengusiran paksa warga Palestina dari tempat tinggal mereka di Yerusalem. Ini menyusul kekalahan warga Palestina dalam sengketa di pengadilan melawan warga Israel yang melakukan pendudukan.

Sejumlah aksi perlawanan terus dilakukan warga Palestina. Mulai dari duduk diam di rumah dan mengabaikan perintah pengosongan yang dikeluarkan Israel.

      View this post on Instagram      

A post shared by OFFICIAL MAKASSAR INFO (@makassar_iinfo)

 

© Dream
Beri Komentar