PB Djarum Hentikan Audisi Mulai 2020, Ini Alasannya

Reporter :
Minggu, 8 September 2019 17:52
PB Djarum Hentikan Audisi Mulai 2020, Ini Alasannya
Djarum Foundation mulai menjaring calon bintang bulu tangkis masa depan sejak 2006.

Dream - PB Djarum memutuskan untuk berhenti melakukan Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis mulai 2020. Djarum Foundation selaku induk mengambil langkah untuk meredakan polemik yang muncul akhir-akhir ini.

Djarum Foundation mulai menjaring calon bintang bulu tangkis masa depan sejak 2006. Namun, perhelatan pada 2019 ini akan menjadi audisi terakhir. Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin mengungkapkan itu dalam acara konferensi pers, di Hotel Aston, Purwokerto, Sabtu, 7 September 2019.

Acara tersebut dilaksanakan menjelang rangkaian kedua audisi umum tahun ini, yang diselenggarakan mulai Minggu, 8 September hingga Selasa 10 September di GOR Satria, Purwokerto.

" Sesuai dengan permintaan pihak terkait, pada audisi kali ini kita menurunkan semua brand PB Djarum. Pihak PB Djarum sadar untuk mereduksi polemik itu kami menurunkannya," kata Yoppy, seperti dilansir situs Djarum Badminton.

1 dari 7 halaman

Tak Bakal Bagikan Kaus

" Kedua, kaus yang dibagikan kepada anak-anak tidak akan kami bagikan lagi seperti sebelumnya. Mereka akan memakai kaus asal klubnya masing-masing, dan itu sudah lebih dari cukup. Kami sudah memutuskannya, tidak ada deal-dealan lagi, diterima atau tidak, kami sudah memutuskan seperti itu," ungkap Yoppy.

 Yoppy PB Djarum

 Yoppy Rosimin/ Foto Djarum Foundation

" Kemudian pada Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis kali ini juga saya sampaikan sebagai ajang untuk pamit sementara waktu, karena pada 2020 kami memutuskan menghentikan audisi umum. Memang ini disayangkan banyak pihak, tetapi demi kebaikan bersama kami hentikan dulu, biar reda dulu. Masing-masing pihak agar bisa berpikir dengan baik," jelas Yoppy.

2 dari 7 halaman

Polemik dengan KPAI

Keputusan itu diambil terjadi akibat polemik yang berkepanjangan sejak beberapa waktu lalu. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menuduh PB Djarum mengeksploitasi anak. KPAI mendesak Djarum Foundation menghentikan penggunaan anak sebagai promosi brand image dalam kegiatan audisi tersebut.

 KPAI: Perlindungan Anak di Dunia Maya Masih Minim

" Kami sudah menjelaskan dan banyak bukti kalau PB Djarum itu bukan produk tembakau. Tahun lalu kami dapat penghargaan sebagai Institusi Olahraga of the Year dari Menpora. Itu bukti nyata kami bukan produk rokok," ujar Yoppy.

Meskipun banyak pihak yang mendukung PB Djarum untuk terus melakukan penjaringan atlet potensial lewat audisi umum, Yoppy tetap menegaskan tahun in merupakan penyelenggaraan terakhir.

" Banyak yang mendukung kami seperti dari para legenda, dan PP PBSI. Tetapi sementara akan dihentikan dulu tahun depan. Kami akan diskusi di dalam mengenai format ke depannya seperti apa," tegas Yoppy.

3 dari 7 halaman

Tetap Berada di Garda Terdepan

" Tetapi bulu tangkis harus tetap semangat. PB Djarum akan berada di garda terdepan untuk pembibitan-pembibitan usia dini dengan segala upaya. Tetapi audisi sementara dihentikan dulu. Jadi nanti kalau ada yang menangis, saya minta maaf," tutur Yoppy.

Meski begitu, Audisi Umum Bulu Tangkis 2019 akan terus dilakukan hingga final di Kudus pada November. " Ya dipastikan tahun ini akan jalan terus hingga final dengan segala risikonya, karena tahun ini kami sudah janji kepada semua peserta," imbuh Yoppy.

Laporan: Yus Mei Sawitri/ Bola.com

4 dari 7 halaman

Viral Ada Sel Tahanan di SMK Batam, Temuan KPAI Mengejutkan

Dream - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listiyarti, menyatakan keberadaan ruang tahanan di sebuah SMK di Batam dibangun untuk tempat mendisiplinkan anak didik oleh pihak pengelola sekolah.

Kabar soal SMK yang memiliki ruang tahunan sebelum telah viral di media sosial. 

" Dalih penahanan anak diduga atas nama mendisiplinkan karena ada pelanggaran yang dilakukan siswa," ujar Retno di Kantor KPAI, Jakarta, Rabu 12 September 2018.

Selain dijebloskan ke tahanan di sekolah, siswa yang dinyatakan bersalah kerap mendapat kekerasan fisik. Seperti dialami salah satu siswa berinisial RS.

 Ruangan sel tahanan di sekolah

5 dari 7 halaman

Ditahan di Sekolah

RS dituduh mencuri saat sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di sebuah perusahaan. Siswa itu terus menerus dipaksa mengaku telah mencuri.

Merasa tidak melakukan perbuatan itu, RS kemudian melarikan diri. Dia kemudian tertangkap ED di bandara.

Diketahui, ED merupakan pemilik modal sekolah tersebut sekaligus anggota polisi. " ED ini selaku pemilik modal dan merangkap sebagai pembina sekolah," ucap dia.

Retno menduga ED sempat melakukan tindak kekerasan kepada RS dengan mencekik dan menamparnya. Bahkan, RS sempat diborgol oleh ED.

" ED inilah yang diduga menjadi pelaku yang memborgol dan menampar ananda RS," kata dia.

RS kemudian ditahan di sekolah selama dua hari tanpa proses hukum.

6 dari 7 halaman

Korban Sampai Dipermalukan

Penangkapan RS di bandara direkam oleh siswa lain atas perintah ED. Si perekam membubuhkan keterangan menyudutkan RS dengan berbagai tudingan seperti melakukan pencurian, mengedarkan narkoba dan melakukan pencabulan terhadap pacarnya.

Bahkan, foto-foto penangkapan juga dikirim ke beberapa saudara RS yang ada di Pekanbaru, Singapura dan teman-temannya melalui aplikasi WhatsApp di ponsel korban.

 Sel di sebuah sekolah di Batam

" Ini dikirimnya lewat HP (Handphone) ananda RS. Karena HP-nya kan disita. Profil WhatsApp juga diganti oleh ED saat penangkapan. Ini membuat RS trauma berat," ujar dia.

Selanjutkan, Retno menjelaskan sekolah yang baru lima tahun berjalan ini juga memfokuskan siswanya untuk belajar semi militer. Mereka diajari menembak senapan angin serta mengemudikan mobil dalmas milik sekolah.

" Di sekolah juga dipajang beberapa senjata," ucap dia.

 

7 dari 7 halaman

Lebih dari Satu Siswa Jadi Korban

Hukuman serupa pernah dialami F. Menurut Retno, F dihukum oleh para siswa yang mendapat keistimewaan sekolah untuk melakukan kekerasan dengan dalih pendisiplinan.

F kemudian disidang disiplin oleh sekolah dan dimasukkan ke dalam sel. Foto-foto pelepasan atribut F kemudian diunggah ke media sosial, membuat siswa ini dan keluarganya malu.

Komisioner KPAI Bidang Anak Berhadapan dengan Hukum, Putu Elfina, meminta kepolisian segera mengusut kasus tersebut. Terlebih, ada dugaan keterlibatan anggota kepolisian dalam kasus ini.

Menurut Putu, sel tersebut kini telah dibongkar berkat penyelidikan yang dilakukan Dinas Pendidikan Kepulauan Riau.

" Hari ini ada tim yang diutus oleh kepala Dinas Kepri untuk melakukan kunjungan ke SMK tersebut dan dari berita yang saya terima, bahwa sel tersebut sudah dibongkar," kata Putu.

Beri Komentar
Intip Harga dan Spesifikasi Mobil Dinas Baru Jajaran Menteri Jokowi