Anthony Salim, Orang Terkaya Ketiga Indonesia, Bangkit dari Ancaman Kebangkrutan

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 21 Maret 2022 20:41
Anthony Salim, Orang Terkaya Ketiga Indonesia, Bangkit dari Ancaman Kebangkrutan
Rumah ayahnya di Gunung Sahari sempat dibakar massa tahun 1998.

Dream – Wajah pria bule itu nampak sumringah. Senyum lepasnya seolah menunjukkan dia tengah bahagia. Tangan kirinya terlihat memamerkan sebungkus Indomie. Itulah foto yang dia cantumkan di twitter-nya, Januari 2021.

Pria itu bukan pria sembarangan. Ia adalah Hans-Kristian Solberg Vittinghus, pemain bulu tangkis senior asal Denmark.  Bersama tim Denmark dia pernah meraih Piala Thomas di tahun 2016.  Pada Januari tahun lalu, ia sempat viral ketika memaparkan pengalamannya merasakan Indomie untuk pertama kalinya. Ia mendapatkan mie instan tersebut dari pemain bulu tangkis tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting, ketika keduanya tengah bertanding di Thailand Open.

Saat itu, lewat akun twitternya, @hkvittinghu, Vittinghus mengaku sangat menyukai rasa Indomie. Pernyataannya itu kemudian menjadi viral, sampai-sampai salah satu bos PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Axton Salim, memberi respons dan berjanji akan mengirimkan Indomie pada pemain tersebut.

Kiriman Indomie itu akhirnya diterima Vittinghus saat berada di Denmark. Ia mengungkapkan hal itu lewat akun twitternya. Ia mengaku menerima empat kardus sekaligus. " Rasa soto padang, rasa rendang.., ayam bawang, dan masih banyak rasa lainnya. Ada rasa original juga, ini yang saya coba di Thailand. Terima kasih kepada Axton Salim yang telah memenuhi janji dan memberi saya lebih dari setahun stok Indomie," katanya di video yang ditampilkan di twitternya.

Bukan hanya  Vittinghus yang terpesona dengan rasa Indomie. Gelandang tim sepakbola Arsenal, Thomas Partey, juga mengakui sangat menggandrungi Indomie. Pengakuan Partey, yang berasal dari Ghana, terungkap dalam wawancara dengan Adam Carruthers melalui kanal Youtube, Stadium Astro.

" Makanan ini menghabiskan uang saya," ujar Partey. " Ya Tuhan, rasanya benar-benar enak. Indomie menghabiskan uang semua orang di Ghana."

Unggahan kedua atlet dari dua negara berbeda itu langsung viral. Serta menunjukkan pengaruh Indomie tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga sudah merambah hingga mancanegara.

Orang yang berada di balik produk itu adalah Anthony Salim, yang baru-baru ini diganjar majalah Forbes sebagai orang terkaya ketiga di Indonesia dengan kekayaan U$ 8,5 miliar atau Rp 121 triliun!

Dan, salah satu pemasok utama dari pundi-pundi Anthony Salim itu, tak lain dan tak bukan adalah Indomie.

***

Anthony Salim atau Liem Hong Sien lahir di Kudus tanggal 25 Oktober 1949. Kini usianya sudah 72 tahun.

Ia merupakan putera bungsu dari Sudono Salim atau Lim Sioe Liong dan istrinya, Lie Las Nio. Abangnya ada dua yakni Albert Halim dan Andre Halim. Sementara adik perempuannya bernama Mira Salim.

Berbicara tentang Anthony Salim, memang tak bisa dilepaskan dari sosok ayahnya, Liem Sioe Liong atau lebih dikenal dengan nama Sudono Salim, seorang konglomerat yang pernah menjadi orang terkaya di Indonesia. Liem Sioe Liong meninggal dunia di Singapura, 10 Juni 2012. Ia meninggal di usia 95 tahun

Lahir di China pada 10 September 1915, Sudono Salim adalah pendiri Grup Salim, induk perusahaan yang di bawahnya bernaung sejumlah perusahaan besar. Sebut saja Bank Central Asia, Indofood Sukses Makmur, Indocement Tunggal Prakarsa, dan sederet perusahaan lainnya.

Saat krisis moneter 1998, bisnis Grup Salim sempat jatuh. Grup Salim harus menyerahkan sejumlah perusahaan ke negara untuk membayar utang sebesar Rp 52,7 triliun.

Pada saat kerusuhan melanda Jakarta, pertengahan Mei 1998, kediaman Sudono Salim yang berada di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, menjadi korban perusakan dan penjarahan. Pun demikian rumah Sudono Salim di Medan, Sumatra Utara, tak luput dari amuk massa.

Setelah peristiwa tersebut, ia mulai mengalihkan kepengurusan bisnisnya kepada anaknya Anthony Salim, lalu pindah dan tinggal di Singapura hingga tutup usia.

Pada era Orde Baru, sudah menjadi pengatahuan publik  Liem Sioe Liong memiliki hubungan dekat dengan Presiden kedua RI, Soeharto.

Hubungan Soeharto dengan Liem Sioe Liong berawal sejak dirinya memasok kebutuhan tentara pada dekade 1950. Ketika itu, Soeharto menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Diponegoro, Jawa Tengah.

Soeharto dan Liem Sioe Liong


Saat hijrah ke Jakarta tahun 1952, Sudono Salim kemudian mendirikan PT Waringin Kentjana. Ini merupakan cikal-bakal imperium bisnis Grup Salim.

Liem Sioe Liong menikmati aneka fasilitas ketika Soeharto menjadi presiden. Pada 1971-1972, keduanya sepakat membangun pabrik tepung terigu raksasa, PT Bogasari Flour Mills -cikal-bakal Indofood- di Jakarta dan Surabaya.

Menurut Liputan6, pada 1969, Liem lalu mendirikan pabrik tepung terigu PT Bogasari dengan modal pinjaman dari pemerintah. Pada 1975, kelompok ini mendirikan pabrik semen PT Indocement Tunggal Prakarsa.

Pria yang juga disapa Om Liem ini juga mendirikan kerajaan bisnis bidang otomotif di bawah bendera PT Indomobil Sukses Internasional. Bahkan, bisnisnya merambah ke bidang perbankan dengan mendirikan PT Bank Central Asia bersama Mochtar Riyadi.

Ketika krisis moneter dan Soeharto lengser, usaha Sudono Salim ikut terpuruk. Pada saat krisis moneter yang dimuiai sejak pertengahan 1997, tepatnya pada 1998 bisnis Grup Salim jatuh. Saat itu, Om Liem harus menyerahkan sekitar 108 perusahaan kepada pemerintah guna membayar utang Rp 52,7 triliun.

***

Saat Anthony Salim berusia 25 tahun, ia menikah dengan Siti Margareth Jusuf.  Lahirlah anak-anak mereka: Axton Salim (lahir 1979), Astrid Salim (lahir 1983), Alston Salim (lahir 1987). Axton kuliah Administrasi Bisnis di Colorado dan juga ikut bisnis bapaknya di IndoAgri dan Indofood.  

Anthony Salim adalah CEO Grup Salim generasi kedua. Menurut Merdeka, sebelum krisis moneter tahun 1998, Group Salim terbilang konglomerasi terbesar di Indonesia dengan aset mencapai US$ 10 miliar (sekitar Rp 100 triliun). Majalah Forbes bahkan pernah menobatkan Liem Sioe Liong, pendiri Grup Salim, sebagai salah satu orang terkaya di dunia.

Namun saat krisis 1998, Bank Central Asia (BCA) miliknya di-rush oleh nasabah. Untuk mengatasinya, terpaksa Salim Grup meminjam dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan akibatnya berutang Rp 52,7 triliun.

Anthony Salim yang sudah dipercayakan memegang kendali perusahaan menggantikan ayahandanya Sudono Salim (Liem Sioe Liong), lalu memutuskan bertanggung jawab.

Dia melunasi seluruh utangnya, walaupun terpaksa harus melepas 108 perusahaan. Di antara perusahaan yang dilepas adalah PT Indocement Tunggal Perkasa, PT BCA (kemudian dikuasai Farallon Capital dan Grup Djarum) dan PT Indomobil Sukses Internasional.

Namun, Anthony tetap mempertahankan beberapa perusahaan, di antaranya PT Indofood Sukses Makmur Tbk, dan PT Bogasari Flour Mills, yang merupakan produsen mi instan dan terigu terbesar di dunia.

Strategi Anthony itu terbukti berhasil. Kini, Indofood terus tumbuh dan berkembang sebagai raja industri makanan di Indonesia. Bahkan, bisnis Indofood kian terintegrasi dan bergerak dari hulu hingga hilir.

Perusahaan ini bergerak di sektor agribisnis, industri tepung terigu, produk makanan hingga menguasai jalur distribusi.

Sejumlah produk konsumen bermerek Indofood sudah dikenal luas di kalangan masyarakat Indonesia, seperti mie instan (Indomie, Supermi dan Sarimi), susu Indomilk, tepung terigu Bogasari (Segitiga Biru, Kunci Biru dan Cakra Kembar), minyak goreng (Bimoli) hingga mentega (Simas Palmia). Belum jaringan distribusinya: Indomaret.

Setelah krisis 1998, Indofood terdiri atas empat grup usaha. Pertama, produk konsumen bermerek atau consumer branded products (CBP), yang kegiatan usahanya dilaksanakan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak 7 Oktober 2010. Produk ini terdiri atas Divisi Mi Instan, Divisi Dairy, Divisi Penyedap Makanan, Divisi Makanan Ringan, Divisi Nutrisi dan Makanan Khusus.

Kedua, Grup Bogasari, yang memiliki kegiatan usaha utama memproduksi tepung terigu dan pasta.

Ketiga, Grup Agribisnis yang terdiri atas Divisi Perkebunan, Divisi Minyak dan Lemak Nabati. Di bidang agribisnis, kegiatan operasional dijalankan oleh PT Salim Ivomas Pratama Tbk dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk yang sahamnya tercatat di BEI dan merupakan anak perusahaan Indofood Agri Resources Ltd (IndoAgri) yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Singapura. Kegiatan usaha utama grup ini meliputi penelitian dan pengembangan, pembibitan, pemuliaan, dan pengolahan kelapa sawit hingga produksi serta pemasaran minyak goreng dengan merek Bimoli, margarin dan shortening bermerek.

Keempat, Grup Distribusi, yang memiliki jaringan distribusi paling luas di Indonesia, yakni Indomaret. Grup ini mendistribusikan hampir seluruh produk konsumen Indofood dan anak perusahaannya, serta berbagai produk pihak ketiga.

***

Keputusan Anthony Salim untuk mempertahankan PT Indofood Sukses Makmur dan PT Bogasari memang terbukti tepat. Keputusan ini terbukti dapat menyelamatkan Salim Group beserta sejumlah anak perusahaannya dari ancaman kebangkrutan.

Di bawah kepiawaian Anthony Salim dalam mengelola Salim Group, Indofood dan Bogasari sekarang ini telah berhasil menjadi produsen mi instan dan tepung yang tidak hanya sukses di Indonesia, melainkan juga di mancanegara.

Mi instan Indomie sudah diekspor ke negara-negara seperti Australia, Amerika Serikat, Timur Tengah, Asia, Eropa, serta Afrika.

Itu sebabnya, Anthony Salim memutuskan  untuk membangun pabrik mie di luar negeri agar proses distribusinya mudah. Salah satu lokasi yang dijadikan lokasi pembangunan pabrik adalah Serbia.

Menurut Liputan6, anak usaha dari Grup Salim, Indoadriatic Industry mengakuisisi lahan seluas 500 are di kawasan industri Indjija, Serbia. Penandatanganan akusisi lahan ini telah dilakukan pada 29 November 2013.Investasi pembangunan pabik itu senilai 11 juta euro. Pembangunan pabrik mulai dilakukan pada musim semi 2014, dan selesai pada awal 2015. Kemungkinan perseroan akan mempekerjakan 140-200 orang.

Produksi mie Indofood dipasarkan di semua negara bekas Yugoslavia termasuk Serbia sejak tiga tahun lalu. Pemasaran ini melalui Indo Srbija Food Company yang didirikan oleh grup Salim dan Wazaran dari Indonesia. Indo Srbija Food merupakan importir dan distributor untuk Serbia, Macedonia, Bulgaria dan Rumania.

Sebelumnya grup Salim melalui Salim Wazaran Kenya Co Ltd membangun pabrik Indomie di kawasan pelabuhan Mombasa, Kenya di Afrika Timur. Grup Salim memiliki komposisi 51% dan sisanya dimiliki Wazaran. Pembangunan pabrik di Kenya itu merupakan perluasan pasar Indomie grup Salim di Afrika. Investasinya sekitar US$ 7,3 juta.

Ekspansi yang agresif itu membuat PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mengumumkan kinerja keuangan yang amat positif untuk kuartal III-2021 atau periode yang berakhir pada 30 September 2021.

Berdasarkan laporan keuangannya, perseroan membukukan penjualan bersih konsolidasi sebesar Rp72,81 triliun pada kuartal III-2021. Angka tersebut tumbuh sekitar 24% year-on-year (yoy) dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu dengan nilai Rp58,78 triliun.

Sementara itu, laba usaha INDF melesat 42% secara tahunan menjadi Rp12,23 triliun dari Rp8,63 triliun pada triwulan ketiga 2020.  Sedangkan, marjin laba usaha ikut naik menjadi 16,8% dari 14,7%.

Dengan catatan tersebut, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh mencapai 44% yoy menjadi Rp5,41 triliun pada akhir September 2021. Pada periode yang sama tahun lalu, laba bersih perseroan tercatat sebanyak Rp3,75 triliun.

Penjualan produsen Indomie yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) juga tumbuh 25,86% menjadi Rp 42,6 triliun secara tahunan hingga September 2021. Beban pokok penjualan pun tumbuh 25% menjadi Rp 27 triliun.  

Alhasil, emiten makanan dan minuman berkode ICBP ini membukukan pertumbuhan laba bruto sebanyak 25,97% menjadi Rp 15,5 triliun. Adapun laba bersih perseroan juga tumbuh 36,7% menjadi Rp 6,2 triliun.  

“ Kami akan tetap berusaha untuk mempertahankan kinerja dan keunggulan kami, serta tetap waspada dalam menjaga kesehatan para karyawan kami,” ujar Anthony Salim seperti dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sebuah prestasi yang luar biasa. Anthony Salim telah membuktikan diri bersama Salim Grup menjadi penyintas atau survivor di tengah gelombang ketidakpastian ekonomi politik Indonesia. Tak hanya sukses menjadi penyintas, hartanya juga melompat naik: jadi orang terkaya ketiga di Indonesia. (eha)  

Beri Komentar