Beginilah Hukuman Teroris di Neraka

Reporter : Sandy Mahaputra
Senin, 18 Januari 2016 16:27
Beginilah Hukuman Teroris di Neraka
Rasulullah SAW bersabda bahwa mereka yang membunuh kaum non muslim tidak akan mencium bau surga.

Dream - Tidak hanya ISIS, siapa pun akan mendapat balasan neraka ketika melakukan aksi teror yang melukai hingga membunuh orang banyak.

Allah SWT menjelaskan dalam Alquran, bahwa membunuh satu orang saja sama dengan membunuh semua manusia yang ada di dunia.

Hal ini jelas bahwa tindakan teroris yang membuat kerusakan hingga membunuh orang ini tidak sejalan dengan ajaran Allah. Ini dijelaskan dalam Alquran surat Maa'idah ayat 32 yang artinya.

" Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya" . (QS. al-Maa’idah:32).

Ayat itu menjelaskan, bagaimana besarnya dosa seseorang yang membunuh satu orang saja sehingga seakan-akan dia membunuh seluruh umat manusia. Sehingga jelas bahwa perbuatan mereka bukanlah merupakan bagian dari Islam.

Rasulullah SAW bersabda bahwa mereka yang membunuh kaum non-muslim tidak akan mencium bau surga. Artinya mereka akan kekal di dalam neraka selamanya.

" Barangsiapa yang membunuh seorang mu’ahad (non muslim yang mendapat jaminan keamanan), maka dia tidak akan mencium baunya surga, padahal bau surga tercium dari jarak perjalanan 40 tahun" . (HR Bukhari dari Abdullah bin ‘Amr)

Tindakan teroris ini pun kerap pandang bulu sehingga menewaskan banyak orang dari banyak kalangan. Allah SW menjelaskan dalam Alquran bahwa Allah mengutuk tindakan orang yang membunuh orang lain dan menyediakan Jahannam sebagai tempat kekal bagi mereka yang melakukan tindakan ini.

" Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya" . (Qs.An Nisaa:93)

Selengkapnya klik di sini. 

(Ism) 

 

Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
4. Isi di luar tanggung jawab redaksi 

 

1 dari 5 halaman

`Saya Pernah Dipijat Bomber Sarinah, Dia Suka Curhat`

`Saya Pernah Dipijat Bomber Sarinah, Dia Suka Curhat` © Dream

Dream - Salah satu pelaku penyerangan di kawasan Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat, menjadi pusat perhatian. Pria itu berkaos hitam dan bercelana jins biru.

Pria bertopi itu membawa tas ransel. Juga tas selempang pada bagian depan. Sementara, sepucuk pistol di genggaman. Menebar ancaman.

Aksi itu tertangkap kamera. Pria itu terlihat tenang. Mata menatap tajam. Melangkah ke arah kerumunan orang sambil mengokang senjata.

Siapa dia? Pria itu diduga sebagai Afif alias Sunakim.

" Saat media pertama kali merilis foto itu saya tidak ngeh," kata pengamat terorisme, Muhammad Jibriel Abdul Rahman, saat berbincang dengan Dream, Jumat 15 Januari 2016.

“ Sampai saya mendapat foto yang close up, saya baru sadar kalau itu Afif,” tambah dia.

Jibriel mengaku kenal dengan Afif. Menurut dia, Afif merupakan tukang urut handal. " Dia beberapa kali mengurut saya, pintar dalam mengurut urat."

Menurut Jibril, Afif merupakan sosok sederhana. Dia mengaku beberapa kali mendengar keluh kesah Afif.

" Anak ini pernah curhat. Dia hanya guru ngaji TPA, saya lupa di mana tapi di Jakarta. Dia tinggal di rumah kecil dengan anak dan istrinya," ujar dia.

Sebelum bergabung dengan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS), Afif sebenarnya biasa saja. Seperti orang kebanyakan.

" Afif yang saya kenal sebelum ISIS dia ingin berbaur dengan orang yang tidak sepaham, namun berbeda setelah dicekoki ajaran untuk membunuh.”

Jibriel mengaku tak lagi ketemu dengan Afif setelah tahun 2012. Sebab, Afif terlibat kasus terorisme. " Sejak itu tak pernah ketemu lagi."

Dan Rabu 14 Januari 2016, Jibriel kembali melihat sosok Afif, namun bukan lagi sebagai tukang urut. Melainkan sebagai salah satu pelaku penyerangan di Sarinah. " Dia yang berada di foto itu, berkaos hitam." (Ism)

2 dari 5 halaman

Pengebom Strabucks Incar Peluk Tamu Sebelum Ledakan Diri

Pengebom Strabucks Incar Peluk Tamu Sebelum Ledakan Diri © Dream

Dream - Fakta-fakta baru usai aksi teror Bom Sarinah mulai bermunculan. Dari keterangan polisi, pelaku teror di dalam areal Starbuck Coffee berusaha memeluk seorang pengunjung sebelum meledakkan diri.

Menurut keterangan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Muhammad Iqbal, korban sekaligus saksi yang mengaku sempat dipeluk, berhasil menghindar dari aksi teroris.

" Mungkin maksudnya hendak meledakan diri bersama, namun saksi berhasil mengelak dan meloncat," kata Iqbal, di Kantor Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat, 15 Januari 2016.

Aparat kepolisian memastikan adanya satu pelaku teror yang meledakkan diri berdasarkan identifikasi pihak Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Metro Jaya. Mayat pelaku ditemukan tergeletak tak jauh dari lokasi ledakan.

Hasil identifikasi menunjukan bekas luka yang mengindikasikan teroris melakukan bom bunuh diri.

" Ledakannya terpusat dan menimbulkan luka dibagian di perut sampai dada itu khas dengan luka bom bunuh diri," ujar dia.

Terkait saksi, Iqbal menuturkan, kini telah dalam keadaan membaik pasca perawatan. polisi akan terus mengembangkan keterangan para saksi di lokasi peledakan untuk memastikan ledakan di Pos Polisi Lalu Lintas merupakan bom bunuh diri atau bukan.

" Kami akan terus mendalami kasus tersebut, apakah ledakan di Pospolantas merupakan bom bunuh diri atau bukan," ujar dia.

3 dari 5 halaman

Radikal di Penjara Cipinang

Radikal di Penjara Cipinang © Dream

Dream - Jibril mengatakan, Afif berubah menjadi sangat radikal setelah ditangkap polisi. Sebab, di dalam penjara dia malah menemukan mentor yang juga tahanan kasus terorisme.

" Mentor Afif itu Aman Abdurrahman, sejak pindah dari tahanan Polda ke Cipinang," kata Jibriel.

Di balik jeruji besi itulah doktrin-doktrin radikal ditanamkan oleh Aman Abdurrahman kepada Afif dan sejumlah narapidana lain.

" Di situlah dia tertarik dengan idologi Aman Abdurrahman yang terlalu ekstrem, yang mudah mengafirkan orang," terang Jibriel.

" Kalau kita lihat, mereka ini adalah kelompok anak muda yang pernah melakukan kriminalitas, terus dicekoki ideologi-ideologi terlalu skstrem," tambah Jibriel.

4 dari 5 halaman

Bodoh dan Serampangan

Bodoh dan Serampangan © Dream

Dream - Jibriel melihat aksi yang dilakukan Afif dan kawan-kawannya di Sarinah itu sebagai tindakan bodoh. Aksi itu salah, meski diklaim dilakukan untuk berjihad.

" Serangan yang terjadi kemarin serampangan, bodoh, karena ilmu yang saya pelajari tidak ada yang mengajarkan seperti itu,” kata Jibriel.

Menurut dia, tak ada ajaran Islam untuk membunuh warga sipil. Apalagi dalam kondisi bukan perang. Inilah perbedaan antara paham yang dianut Afif dengan Jibriel. " Mengapa menyerang warga sipil, Polantas, mereka salah apa?"

Dia menambahkan, aksi penyerangan kelompok ini untuk menunjukkan keberadaan mereka, sebagai jaringan Negara Islam (IS).

" Mereka tahu akibatnya dan sudah siap. Mereka pilih mati sebagai syuhada, tapi jihad tidak seperti itu," ujar Jibriel. (Ism) 

5 dari 5 halaman

Mengintip Isi Blog Bahrun Naim, Otak Teror Bom Sarinah

Mengintip Isi Blog Bahrun Naim, Otak Teror Bom Sarinah © Dream

Dream - Nama Muhammad Bahrun Naim Anggih alias Naim kini mencuat usai teror ledakan bom dan penembakan di depan pusat perbelanjaan Sarinah pada Kamis kemarin. Naim dituding sebagai otak di balik serangan tersebut.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian menyebut teror kemarin merupakan bentuk tindakan jaringan yang dikepalai Naim agar dilihat eksis. Naim berambisi ingin mendirikan dan memimpin Katibah Nusantara, sayap organisasi ekstrimis Islamic State of Iran and Syria (ISIS) untuk kawasan Asia Tenggara.

" Dia ingin menjadi pemimpin untuk kelompok ISIS di Asia Tenggara," ujar Tito.

Lantas, siapakah sebenarnya sosok Muhammad Bahrunnaim Anggih alias Naim ini?

Naim merupakan pria kelahiran Pekalongan, 6 September 1983. Dia sempat terlacak bergabung dengan Jamaah Anshorut Tauhid pada sekitar September 2008.

Menurut informasi yang dihimpun Dream, Naim awalnya bergabung dengan jaringan Abdullah Sunata. Sunata ditangkap Detasemen Khusus 88 di Klaten, Jawa Tengah, pada 2011 karena diduga ikut menyembunyikan buronan Noordin M Top serta terlibat dalam beberapa aktivitas teror.

Nama Naim kemudian cukup dikenal dalam aksi teror saat pertama kali ditangkap oleh Densus 88 pada 9 November 2010. Saat itu, Naim ditangkap bersama sejumlah barang bukti berupa ratusan butir amunisi ilegal.

Naim lantas menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Surakarta pada 9 Juni 2011. Dia lalu dijatuhi vonis penjara 2 tahun 6 bulan.

Setelah bebas dari penjara, Naim kembali berkiprah bersama jaringannya. Dia kemudian diketahui bergabung dengan kelompok pendukung ISIS. Namanya sering muncul dalam pemberitaan hampir setiap kali ada WNI yang diketahui bergabung sebagai simpatisan ISIS.

Pada 2014, Naim berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Selama di Suriah, Naim aktif menulis pelbagai hal terkait teknis penyerangan di laman pribadinya www.bahrunnaim.co.

Di laman itu, dia membagi berbagai informasi mengenai Daulah Islamiyah. Yang cukup mengejutkan, Naim membagi berbagai informasi cara membuat bom hingga strategi membangun teror.

Indikasi mengenai keinginan Naim melancarkan teror sebetulnya sudah dapat diendus dalam sebuah tulisan berjudul 'Dakwah atau Futuhat' yang diunggah pada Rabu, 05 November 2014. Pada tulisan itu, Naim dengan nada mengancam akan melancarkan teror jika pemerintah Indonesia tidak menerima keberadaan mereka.

" Dalam posisinya terhadap negeri ini, ada beberapa pilihan yang dapat dipilih oleh penguasa. Pertama, menolak dan menangkapi sel-sel Daulah Islamiyah yang akan beresiko terhadap aktifnya sel-sel 'Abu Jandal dan Abu Bashier', sehingga akan meluasnya pertempuran terbuka dan perang gerilya. Kedua, menolak namun diam terhadap sel-sel Daulah Islamiyah yang melakukan dakwah hingga hadirnya misi diplomatik. Ketiga, di satu sisi menerima karena alasan diplomatik, namun di sisi lain menolak karena alasan tekanan asing. Maka akan memicu gerilya secara terbuka yang akan menimbulkan korban secara terbatas. Keempat, menerima dan melakukan penggabungan secara damai. Semoga,"  tulis dia.

Laman ini sempat ramai dikunjungi netizen pada Jumat, 15 Januari 2016 pukul 05.00 WIB. Mereka kebanyakan memberikan komentar menghujat aksi teror. Tetapi, laman ini tidak bisa diakses lagi sejak pukul 10.20 WIB.

Dugaan Naim menjadi otak dalam aksi teror ini menguat usai pernyataan dari Wakil Kepala Kepolisian (Wakapolri) Komisaris Jenderal (Komjen) Pol Budi Gunawan, Kamis, 14 Januari 2016. Dia mengatakan sudah mendeteksi ada komunikasi kelompok Suriah dan kelompok Solo yang dipimpin Abu Jundi.

Kelompok ini katanya sudah membuat persiapan dengan anak-anak sel untuk melakukan serangkaian peledakan bom.

“ Yang seharusnya dimainkan pada malam Tahun Baru. Tapi kita bisa antisipasi,” kata dia.

Aksi teror kemudian terjadi pada Kamis, 14 Januari 2016. Sebuah rentetan serangan berupa ledakan dan tembakan meletus di kawasan ring 1 MH Thamrin, Jakarta Pusat. Puluhan orang menjadi korban, dan dua di antaranya meninggal serta lima orang pelaku tewas di tempat. (Ism) 

Beri Komentar