Mbah Marirdjan Saat Jadi Bintang Iklan Kuku Bima Energi Produk Sido Muncul (Liputan6)
Dream - Akhir Mei 2006, Presiden Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat datang bertamu ke rumah Mbah Mardijan di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Ia datang ditemani mendiang Sumadi Wonohito, pemilik koran Kedaulatan Rakyat Yogja. Rumah Mbak Mardijan hanya terpisah empat kilometer dari puncak Gunung Merapi.
Saat duduk di ruang tamu, Sumadi yang sudah lama dikenal Mbah Maridjan, langsung memperkenalkan Irwan ke Mbah Maridjan. “ Pak Irwan ini dari Jakarta. Pemilik pabrik jamu yang besar. Pemilik Sido Muncul,” kata Sumadi.
Tapi Mbah Mardijan sama sekali tak melirik Irwan. Ia hanya menjawab sopan dalam bahasa Jawa kromo ingil dengan wajah menatap Sumadi. “ Injih,” atau iya kata Mbah Mardijan tanpa menengok sama sekali ke Irwan.
Dalam hati Irwan sedikit tersinggung. Tapi diam-diam dia kagum pada Mbah Maridjan karena tidak silau oleh harta dan jabatan Irwan.
Percakapan berjalan terus. Dan Mbah Maridjan tetap sopan menjawab “ injih” atau iya dalam bahasa Jawa halus namun tetap tak mau melihat wajah Irwan secara langsung.
Lalu Irwan kemudian memutuskan ikut dalam percakapan. Irwan bertanya, ‘’Mbah, apakah mbah mengenal Ir Anton Sujarwo dari Yayasan Dian Desa?"
Mbah Mardijan langsung menjawab kalau dia mengenal Anton. “ Dia kan orang baik. Pada tahun 1974, kan Mas Anton yang memberi air pada penduduk di daerah ini. Diterima oleh mbah Hargo, bapak saya" jawabnya.
Anton Sudjarwo adalah aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Yayasan Dian Desa. Anton adalah sosok yang dihormati warga Cangkringan. Bersama LSM Yayasan Dian Desa, ia pernah membangun pipa air minum di kawasan tersebut pada tahun 1974 semasa Mbah Hargo, bapak dari Mbah Maridjan, masih menjabat juru kunci Merapi.
Salah seorang staf Irwan yang ikut hadir, lalu menjelaskan ke Mbah Mardijan bahwa Anton Sujarwo adalah kakak ipar Irwan.
Barulah Mbah Maridjan menatap ke arah wajah Irwan. Ia menyalami Irwan dan mengatakan, " O......Nyuwun pangunten nggih, sampeyan niku rayine Mas Anton toh?"
Mbah Mardijan meminta maaf. Karena dia baru tahu Irwan Hidayat adalah ipar dari Anton Sujarwo, tokoh yang berjasa bagi warga Cangkringan dan dihormati Mbah Mardijan.
Sejak saat itu, Mbah Maridjan mulai melihat wajah Irwan saat bercakap. Dan percakapan pun berjalan hangat seperti laiknya percakapan antara kawan lama.
Dari situ pula Irwan berhasil membujuk Mbah Maridjan untuk tampil menjadi bintang iklan edisi “ Lelaki Pemberani,” untuk mengiklankan produk Sido Muncul: Kuku Bima Energi, seperti dikutip Liputan6.com.
Pengambilan gambar iklan pun dilakukan pada tanggal 26 Juni 2006 di Kaliadem dekat rumah Mbah Marijan. Padahal saat itu Gunung Merapi tengah mengeluarkan awan panas. Tempat tersebut hanya berjarak empat kilometer dari puncak Gunung Merapi.
Mbah Maridjan terkenal dengan kata-kata “ Roso..roso!” di iklan Sido Muncul itu. Hebatnya lagi, Mbah Mardijan tak menggunakan honor Sido Muncul untuk dirinya sendiri. Tapi ia membagi-bagikan rejeki nomplok itu ke tetangga-tetangganya.
Iklan itu terbukti sukses besar. Bahkan bisa melonjakkan sisi penjualan Kuku Bima Energi.
Tak ayal, juru kunci Gunung Merapi, Mbah Marijan, pada bulan November 2007, diundang untuk meresmikan perluasan pabrik Kuku Bima Energi Sido Muncul di Desa Bergas, Klepu, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, senilai Rp 40 miliar.
Dalam peresmian perluasaan pabrik, Mbah Marijan didampingi Presiden Direktur PT Sido Muncul Irwan Hidayat, serta bintang iklan Kuku Bima lainnya, seperti Rieke Diah Pitaloka " Oneng" , Ade Rai, dan Chris John.
Menurut Irwan Hidayat, Mbah Marijan yang juga bintang iklan Kuku Bima Energi Sido Muncul, ditunjuk meresmikan perluasan pabrik karena dinilai mampu meningkatkan produksi hingga enam kali lipat.
" Sejak Mbah Marijan menjadi ikon Kuku Bima Energi, ternyata kemunculannya mampu mendongkrak produksi Kuku Bima Energi PT Sido Muncul sebanyak lima kali lipat hingga enam kali lipat," kata Irwan.
Irwan mengatakan sejak bintang iklannya Mbah Marijan, respon masyarakat membeli produk Kuku Bima Energi PT Sido Muncul melonjak. Sehingga, katanya, merupakan suatu kehormatan bagi Mbah Marijan untuk diberi kepercayaan meresmikan perluasan pabrik Kuku Bima Energi
Tapi empat tahun sejak kujungan Irwan ke kediaman Mbah Maridjan, petaka pun datang tanpa diduga-duga.
Sejak statusnya dinaikkan dari Siaga menjadi Awas, Gunung Merapi tak henti-hentinya memuntahkan awan panas (wedhus gembel) sejak pukul 17.02 WIB, Selasa 26 Oktober 2010.
Sejak saat itu, gunung dengan tinggi 2.930 meter tersebut mengalami serangkaian erupsi diiringi awan panas. Awan panas itu seketika melumat habis apapun yang dilewatinya.
Awan panas setinggi 1,5 kilometer meluncur turun dari Gunung Merapi ke kawasan pemukiman, termasuk tempat Mbah Maridjan tinggal di Dusun Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, yang berjarak sekitar empat kilometer dari puncak Merapi. Pria bernama asli Mas Penewu Suraksohargo sendiri merupakan kuncen atau juru kunci Merapi sejak 1982. Setiap Gunung Merapi akan meletus, warga setempat selalu menunggu komando dari beliau untuk mengungsi.
Sejak status Merapi ditingkatkan, sudah ada 40.000 warga yang tinggal di radius 10 kilometer dievakuasi. Namun, Mbah Maridjan bersikukuh terhadap pendiriannya. Ia tetap berdiam diri di rumahnya dan menolak turun dari Merapi, bagaimana pun kondisinya.
Walau menolak untuk turun gunung, Mbah Maridjan menyuruh puteranya, Asih, untuk turun mengungsi segera bersama keluarganya.
" Asih kamu mau ke mana? Saya tidak mau kemana-mana. Kalau kamu mau turun Merapi, turun sekarang. Kalau saya tidak akan turun. Kalau turun, saya nanti ditertawakan oleh ayam," kisah putra Mbah Mardijan, Asih, mengenang obrolan terakhirnya dalam bahasa Jawa dengan Mbah Maridjan seperti dikutip Merdeka.com.
Keganasan Merapi akhirnya merenggut nyawa Mbah Maridjan. Dia tewas dihantam awan panas bersuhu 600 derajat celcius dan ditemukan tak bernyawa dalam posisi bersujud di rumahnya.
Hari itu dikenang sebagai waktu penghabisan Asih bertemu bapaknya, sang juru kunci Merapi legendaris Mbah Maridjan.
Yang Asih ingat, pada pukul 18.45 awan panas setinggi 1,5 km menyapu habis Kinahrejo dan menewaskan 37 orang di sana. Total, rangkaian erupsi sepanjang Oktober-November 2010 tersebut menewaskan 398 orang di dua provinsi, membuat setengah juta orang mengungsi, serta merusak 3.000 rumah.
Jasad Mbah Mardijan ditemukan beberapa jam kemudian oleh tim SAR bersama dengan 16 orang lainnya yang juga telah meninggal dunia. Kondisi para korban saat ditemukan mengalami luka bakar serius. Mbah Maridjan saat ditemukan tengah bersujud.
" Posisi kematian almarhum menunjukkan keteguhan, kemantapan, serta kekonsistenan beliau memegang teguh titah serta tanggung jawab yang diberikan oleh sang raja untuk menjaga Gunung Merapi," kata Asih
Dusun Kinahrejo yang menjadi tempat tinggal Mbah Marijan itu luluh lantak. Tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan. Seluruh bangunan rumah penduduk hancur. Hewan-hewan mati. Tanaman-tanaman hangus. Udara terasa panas. Debu di jalanan setebal 10 cm yang terinjak kakipun masih terasa hangat.
Saat pemakaman Mbah Mardijan, Presiden Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat turut hadir untuk memberi penghormatan terakhir. Ia mengatakan pada wartawan, kehidupan Mbah Maridjan menjadi inspirasi terbesarnya.
Dan, bukan kebetulan Mbah Mardijan sosok yang tepat mewakili citra “ lelaki pemberani” dalam arti kata sebenarnya. Selamat jalan Mbah Mardijan! Keberanianmu tetap abadi. (eha)
Sumber: Liputan6.com, Merdeka.com