Puasa (1): Cerita Ramadan Unik Nusantara

Reporter : Eko Huda S
Senin, 6 Juli 2015 20:04
Puasa (1): Cerita Ramadan Unik Nusantara
Mandi dengan jeruk nipis. Bedug dan meriam menyatukan ulama dan pemerintah. Inilah kisah keunikan budaya kita.

Dream - Ratusan orang meriung di sungai. Tua muda. Laki-laki dan perempuan. Mereka berjejal. Berbaur. Berendam di air yang dingin. Membasuh sekujur tubuh. Dari ujung kaki hingga kepala.

Belasan bocah terlihat sumringah. Bersiap di bibir kali. Berancang-ancang. Sekejap kemudian mereka terjun ke dalam air. Byur.... Gelak tawa pun membahana. Kebahagiaan benar-benar meruap dari bekas pemandian noni-noni Belanda itu.

Itulah keceriaan warga Padang, Sumatera Barat, di Sungai Lubuk Minturun. Di penghujung Sya’ban yang lalu, mereka beramai-ramai menjalankan ritual mandi Balimau. Mandi dengan menggunakan limau alias jeruk nipis.

Pada Rabu 17 Juni 2015 itu, warga Lubuk Minturun, Koto Tengah, Padang, sudah berjubel sejak siang hari. Ritual ini digelar hingga petang. Saat bulan Sya’ban berganti Ramadan. Selain Sungai Lubuk Minturun, prosesi ini juga dihelat di berbagai tempat, seperti sungai Batang Kuranji, Batu Busuk, bahkan di pantai.

Balimau sudah dimulai sejak berabad silam. Terutama menjelang Ramadan. Kebiasaan ini menyebar dari Minangkabau hingga Riau. Tak jelas dari mana berasal. Sebagian mengaitkan dengan tradisi penyucian diri di Sungai Gangga, India. Ada pula yang menyebut kebiasaan ini muncul pada zaman Belanda.

Yang jelas, tradisi ini dimaknai sebagai penyucian diri menyambut Ramadan. Bagi masyarakat Minang, Balimau berarti menyucikan diri dengan limau atau jeruk nipis. Tradisi ini sudah dilakukan secara turun-temurun. Selama berabad-abad silam.

***

Tradisi Balimau sangat unik. Masyarakat tak menggunakan sabun saat mandi. Mereka memilih limau untuk bersuci. Ini diyakini sebagai warisan masa lalu. Sebab, tempo dulu tak ada sabun. Ya limau itulah yang digunakan oleh masyarakat untuk mandi. Buah ini bisa meluruhkan minyak di badan.

Balimau merupakan rangkaian panjang. Sejak pagi setiap keluarga sudah menyiapkan limau. Juga ramuan wewangian alami sebagai pelengkap. Saat itu, kaum ibu juga memasak lemang, ketan yang dimasak di dalam bambu, dan berbagai masakan lainnya, untuk sajian makan di hari Balimau. Makan siang di hari Balimau merupakan pesta besar. Berbagai menu tersaji.

Setelah Zuhur, masyarakat menenteng rantang. Berisi aneka macam makanan dan juga limau. Rantang-rantang itu diantarkan ke sanak famili. Ternyata, Balimau tak sekadar urusan mandi. Melainkan juga mempererat tali silaturahmi.  

Setelah Salat Asar, barulah para lelaki berbondong ke sungai. Mereka membawa ramuan Balimau untuk mandi. Di waktu yang sama, kaum perempuan juga mandi Balimau. Namun bukan di tempat umum. Melainkan di rumah masing-masing.

***

Balimau hanyalah satu di antara keunikan tradisi Nusantara menyambut Ramadan. Di Jawa, tradisi ini juga ada. Disebut dengan padusan. Masyarakat mendatangi sungai, kolam pemandian, dan juga pantai untuk mandi. Menyucikan diri menyambut bulan Puasa.

Tak hanya bersuci. Masyarakat Nusantara juga punya kebiasaan unik menjelang Ramadan. Di Semarang, ada “ Dugderan”. Tradisi yang diambil dari suara “ dug” dan “ der.” Berasal dari suara bedug bertalu-talu dan gelegar meriam yang memekakkan telinga.

Tradisi Dugderan diawali oleh arak-arakan. Dari kantor Walikota Semarang menuju Masjid Kauman. Dalam iring-iringan itu, diaraklah patung kambing berkepala naga. Makhluk ini diyakini merupakan hasil perpaduan budaya Jawa dan China. Semarang memang didominasi oleh dua suku bangsa itu.

Saat arak-arakan tiba di Masjid Kauman, melalui pengeras suara, Walikota Semarang mengumumkan bahwa esok hari merupakan awal puasa. Setelah pengumuman itulah petugas menabuh bedug bertalu-talu. Disusul oleh gelegar meriam.

Dugderan pertama kali digelar pada 1881, sebagai bentuk komunikasi antara pemerintah dengan warganya dalam menetapkan awal puasa.

Sementara, bedug dan meriam, menjadi simbol penyatuan dua kebijakan, antara pemerintah dan ulama. Bedug ditabuh di area masjid, meriam berdentum di area kantor bupati. Bunyi kedua benda inilah yang menjadi pertanda sudah ada kesepakatan antara pemerintah dan ulama soal awal Ramadan.

Pemandangan unik juga terlihat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Pada malam ke-21 bulan Ramadan, masyarakat di sana menggelar festival lampion atau yang dikenal dengan Tanglong. Biasanya, tradisi ini dihelat bersama Bagarakan, tradisi membangunkan orang sahur.

Tanglong diyakini ada sejak Islam masuk Banjarbaru. Dulu, warga karib dengan Badadamaran atau menyalakan lampu dari getah damar. Lampu-lampu ini biasanya dipajang di halaman dan pinggir jalan sejak malam ke-21 Ramadan hingga menjelang Lebaran.

Namun, sejak 25 tahun silam, tradisi itu mulai pudar. Apalagi pohon damar yang diambil getarnya untuk Dadamaran mulai langka. Warga kemudian menggantinya dengan pelita bersumbu kain yang diletakkan di botol atau kaleng bekas minuman. Tradisi ini pun berkembang. Bentuk pelita berkembang menjadi lampion aneka bentuk.

Sejak tahun 2000, Tanglong kemudian mulai dilombakan. Digelar bersamaan dengan Bagarakan Sahur. Berpawai keliling kota. Kedua tradisi ini menjadi momentum menciptakan keindahan dan kesejukan beragama. Selain itu juga memupuk silaturahmi.

Semakin tahun,  pola lampion yang ditampilkan dalam festival ini semakin beragam. Mulai burung hingga menyerupai Buraq, makhluk menyerupai kuda bersayap, yang diyakini sebagai tunggangan Nabi Muhammad saat Isra’ dan Mi’raj.

Masyarakat di Nusantara memang sangat kaya akan budaya. Tak jarang tradisi itu muncul dan mewarnai kehidupan beragama. Seperti tradisi Balimau, Dugderan, maupun Tanglong. Tradisi unik masyarakat lokal rupanya bisa hidup harmonis dengan agama. Berdampingan secara damai. (eh)

Beri Komentar