Skandal Cambridge Analytica Dan Facebook (Inc Magazine)
Dream – Pemilihan Presiden Amerika Serikat baru saja usai bulan November 2016. Pemenangnya adalah Donald Trump. Dalam kampanye yang berlangsung brutal di media sosial khususnya di Facebook, Trump berhasil menyingkirkan kandidat dari Partai Demokrat, Hillary Clinton.
Usai pemilu, David Carroll, seorang profesor di New York, Amerika Serikat, tertarik dengan kiprah Cambdrige Analytica. Ia terkejut saat membaca di media bahwa data dirinya dan puluhan juta rakyat AS dikantongi lembaga konsultan politik yang berbasis di Inggris itu.
Itulah awal sebuah film yang berangkat dari kisah nyata berjudul " The Great Hack." Film keluaran Netflix tahun 2019 itu mendokumentasikan dengan apik skandal Facebook–Cambridge Analytica.

(Film The Great Hack.di Netflix/Netflix)
Ini adalah karya media berdurasi panjang pertama yang menyatukan berbagai elemen skandal melalui sebuah narasi. Film dokumenter ini memberikan informasi tentang informasi latar belakang dan peristiwa yang terkait dengan Cambridge Analytica, Facebook, dan pemilu Pilpres AS 2016 yang mengakibatkan skandal data secara keseluruhan.
Film ini adalah sebuah film dokumenter tentang skandal perusahaan konsultan politik Cambridge Analityca yang pernah ramai disorot di media massa dunia. Perusahaan berbasis di Inggris ini berperan penting untuk membuat kampanye " Brexit" alias British Exit atau keluarnya Inggris dari Uni Eropa menang dalam referendum Inggris di tahun 2016, dan memuluskan kemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS di tahun 2016.
Bila perusahaan ini masih hidup dan skandal ini tidak terkuak ke publik, barangkali Donald Trump yang sudah terbukti menjadi Presiden AS terburuk di abad 21 ini, boleh jadi akan terpilih lagi dalam Pilpres AS tahun 2020 kemarin.
Cambridge Analityca memang piawai melakukan metode militer berupa perang urat syaraf atau " psyops" di media sosial khususnya Facebook.
Dengan berpura-pura mengadakan riset tes kepribadian yang disebar melalui iklan dengan sedikit honor bagi yang mau mengisi dan menyerahkan data Facebook dan data jaringan pertemanannya di Facebook, Cambridge Analityca dengan mudah memperoleh data pengguna Facebook dan memiliki akses kepada semua jaring pertemanannya di Facebook.
Sehingga, tak heran mereka memiliki data 87 juta pengguna Facebook yang kemudian dimanipulasi kesadarannya untuk memenangkan kubu " Brexit" di Inggris dan Trump dalam Pilpres AS.
Semuanya itu bermula pada April 2010, ketika Facebook mengumumkan peluncuran platform bernama Open Graph untuk aplikasi pihak ketiga. Pembaruan ini memungkinkan pengembang eksternal menjangkau data pengguna Facebook dan meminta izin untuk mengakses sebagian besar data pribadi mereka — dan, yang terpenting, untuk mengakses data pribadi jariangan 5.000 teman mereka di Facebook juga.
Jika diterima, aplikasi ini kemudian akan memiliki akses ke nama pengguna, jenis kelamin, lokasi, tanggal lahir, pendidikan, preferensi politik, status hubungan, pandangan agama, status obrolan online, dan lainnya. Bahkan, dengan izin tambahan, situs eksternal juga bisa mendapatkan akses ke pesan pribadi seseorang.
Celah itu membuat data pribadi milik jutaan pengguna Facebook dapat dikumpulkan oleh perusahaan konsultan Inggris Cambridge Analytica. Yang belakangan terutama kemudian digunakan untuk iklan kampanye politik.
Data dikumpulkan melalui aplikasi bernama " This Is Your Digital Life" , yang dikembangkan oleh ilmuwan data Aleksandr Kogan, seorang profesor psikologi di Universitas Cambridge, Inggris, dan perusahaannya Global Science Research pada tahun 2013.

(Kuis " This Is Your Digital Life" /Google Docs)
Aplikasi ini terdiri dari serangkaian pertanyaan untuk membangun profil psikologis pengguna, dan mengumpulkan data pribadi teman Facebook pengguna melalui platform Grafik Terbuka Facebook.
Setiap pengisi akan dibayar jika sukarela mengisi kuis dan menyerahkan data pribadinya di Facebook.
Dengan bermodal U$ 100 ribu atau Rp 1,5 miliar, aplikasi ini memanen data dari 270.000 pengisi kuisoner dan kebanyanakan tinggal di Amerika. Mereka juga mendapat akses ke jaringan pertemananan di Facebook yang mencapai 5.000 teman.

(Aleksandr Kogan, ilmuwan Universitas Cambridge Inggris, pencipta kuis This Is Your Digtal Life yang mencuri data pribadi pengguna Facebook/NBC News)
Akibatnya, Cambridge Analytica berhasil menaggguk data 87 juta profil Facebook, dengan hanya mengucurkan uang Rp 1,5 miliar untuk membayar mereka yang mau mengisi kuisoner itu.
Cambridge Analytica lalu menggunakan data tersebut untuk memberikan bantuan analitis pada kampanye kepresidenan Ted Cruz dan Donald Trump tahun 2016. Cambridge Analytica juga banyak dituduh mengganggu referendum Brexit yang membuat Inggris akhirnya hengkang dari Uni Eropa.
***
Dengan mengetahui kecendrungan pengguna di Facebook, Cambridge Analytica kemudian membombardir lewat meme, video, iklan, dan berita palsu yang memojokkan kubu lawan dalam kampanye politik.
Sehingga pengguna Facebook yang kesadarannya dimanipulasi lewat Facebook akhirnya memilih pihak pengguna jasanya seperti pengusaha yang membiayai kampanye " Brexit" dan Donald Trump.
Dalam Pilpres AS tahun 2016 misalnya, perusahaan ini membuat penggalan video pidato Michelle Obama, istri Presiden Barack Obama dari Partai Demokrat tentang perlunya seseorang bisa mengurus rumah tangganya sebelum mengurus negara.

(Michelle Obama, saat jadi ibu negara AS/CNN)
" Bagaimana mau mengurus negara jika mengurus rumah tangga saja tidak becus?," kata Michelle yang masih menjadi Ibu negara AS kala itu.
Pidato itu seolah mengritik capres AS dari Demokrat, Hillary Clinton, yang rumah tangganya berantakan saat suaminya Bill Clinton terlibat skandal seks dengan Monica Lewinsky. Video pidato itu pun viral di Facebook dan efektif untuk memukul kredibilitas Hillary Clinton.

(Hillary Clinton dalam kampanye Pilpres AS tahun 2016/NBC News)
Padahal faktanya Michelle Obama saat berpidato tidak bermaksud menyindir Hillary Clinton. Video itu sebetulnya pidato biasa dan tak ada hubungannya dengan Hillary, tapi diplesetkan sebagai berita palsu bahwa Michelle pun yang berasal dari Partai Demokrat mengecam Hillary sebagai Capres AS yang diusung Partai Demokrat tahun 2016.
Dengan memanipulasi data pengguna di Facebook, Cambridge Analityca terbukti sukses menaikkan Donald Trump ke kursi Presiden AS pada tahun 2016.

(Donald Trump saat menang Pilpres AS tahun 2016/Youtube)
Apalagi Wakil Tim Kampanye Trump, Steve Bannon, yang juga menjabat sebagai salah satu Direktur Cambridge Analityca, memasang 5,9 juta iklan di Facebook. Bandingkan dengan tim kampanye Hillary yang cuma memasang 66.000 iklan di Facebook.
Cambridge Analityca melalui Proyek Alamo tercatat menghabiskan U$ 1 juta atau Rp 14, 1 miliar perhari untuk beriklan di Facebook. Dan pada saat itu iklan politik di Facebook belum dibatasi, sehingga 'fake news' atau berita palsu bisa melenggang mulus sehingga efektif memanipulasi kesadaran pengguna Facebook yang datanya sudah dipegang Cambridge Analtyca.

(Donald Trump dan Steve Bannon (kanan), Wakil Tim Kampanye Trump dan Direktur Cambrige Analytica/ABC News)
Dalam film “ The Great Hack,” skandal ini mulai terkuak saat seorang dosen di AS, David Carroll, usai Pilpres AS meminta data pribadinya yang dipegang Cambridge Analityca dikembalikan. Ia pun menggugat Cambridge Analityca di pengadilan Inggris.

(David Carroll/Business Insider)
Dari situ cerita mulai berkelindan. Seorang pria pendiri Cambridge Analityca akhirnya membuka suara ke pers tentang praktek kotor cara perusahaan itu memperoleh data pengguna Facebook.
Whistleblower atau orang dalam pembocor rahasia perusahaan Cambridge Analytica yang pertama itu adalah Christopher Wylie. Dalam tulisannya di New York Magaizne, dia mengungkapkan bagaimana perusahaan menargetkan pengguna di Facebook dengan iklan politik.
Kampanye Donald Trump dan Ted Cruz masing-masing membayar lebih dari U$ 5 juta atau Rp 77,5 miliar kepada perusahaan Cambrige Analtyca, tulis Wylie.
Cambridge Analytica menargetkan pengguna yang " lebih rentan terhadap kemarahan impulsif atau pemikiran konspirasi daripada warga negara biasa" dengan membuat grup Facebook palsu, berbagi artikel, dan beriklan.
Cambridge Analytica sudah mulai mengeksplorasi topik politik apa yang diminati pengguna Facebook sejak sebelum pemilu 2016.
Buku terbaru Wylie berjudul: " Mindf*ck: Cambridge Analytica and the Plot to Break America," merinci lebih banyak tentang operasi perusahaan Cambridge Analytica dalam Pilpres AS tahun 2016.
Dalam kutipan tulisan yang diterbitkan di New York Magaizne, Wylie mengatakan perusahaan menggunakan kelompok fokus dan pengamatan kualitatif untuk mempelajari apa yang diminati pengguna Facebook, termasuk batasan waktu, isu kepemilikan senjata, dan membangun tembok untuk mencegah masuknya imigran.
Wylie mengatakan bahwa perusahaan Cambridge Analytica sudah mengeksplorasi ide-ide ini pada tahun 2014, jauh sebelum kampanye Trump.
Cambridge Analytica datang dengan ide tentang cara terbaik mempengaruhi pendapat pengguna, mengujinya dengan menargetkan kelompok orang yang berbeda di Facebook. Itu juga menganalisis profil Facebook untuk pola untuk membangun algoritma untuk memprediksi cara terbaik menargetkan pengguna.

(Christopher Wylie, karyawan dan pembocor rahasia Cambridge Analytica/New York Magazine)
" Cambridge Analytica hanya perlu menginfeksi sebagian kecil populasi, dan kemudian dapat menyaksikan narasi menyebar," tulis Wylie.
Berdasarkan data ini, Cambridge Analytica memilih untuk menargetkan pengguna yang " lebih rentan terhadap kemarahan impulsif atau pemikiran konspirasi daripada warga biasa" .
Itu menggunakan berbagai metode, seperti posting grup Facebook, iklan, berbagi artikel untuk memprovokasi atau bahkan membuat halaman Facebook palsu seperti " I Love My Country" untuk memprovokasi para pengguna ini.
" Ketika pengguna bergabung dengan grup palsu buatan Cambridge Analytica, itu akan memposting video dan artikel yang selanjutnya akan memprovokasi dan mengobarkan mereka," tulis Wylie.
" Percakapan akan mengamuk di halaman grup, dengan orang-orang yang bersimpati tentang betapa buruk atau tidak adilnya sesuatu itu. Cambridge Analytica telah mendobrak batasan sosial, memupuk hubungan lintas grup. Dan sementara itu menguji dan menyempurnakan pesan, untuk mencapai keterlibatan maksimum."
Informasi tentang penyalahgunaan data itu memang pertama kali diungkapkan pada tahun 2018 oleh Christopher Wylie, mantan karyawan Cambridge Analytica, dalam wawancaranya dengan The Guardian dan The New York Times.
***
Lalu, dalam film “ The Great Hack” seorang wanita, salah satu Direktur Cambridge Analityca, Brittany Kaiser, juga buka suara.
Ia menjadi " whistleblower" atau orang dalam kedua yang membuka rahasia perusahaan. Bagaimana dia melobi Trump setelah perusahaan itu sukses menaikkan Senator Ted Cruz. kandidat peringkat terbawah ke posisi kedua terkuat di konvensi Capres Partai Republik.
Setelah Ted Cruz kalah oleh Trump dalam Konvensi Partai Republik, Cambridge Analityca, kata Brittany, direkrut oleh Trump.

(Brittany Kaiser saat bersaksi di parlemen Inggris/The Times)
Ia bercerita, pada masa pengumpulan data awal, Aleksandr Kogan, seorang ilmuwan data di University of Cambridge, yang dipekerjakan oleh Cambridge Analytica, sebuah cabang dari SCL Group, mengembangkan sebuah aplikasi bernama " This Is Your Digital Life" atau " thisisyourdigitallife" .
Cambridge Analytica kemudian mengatur proses persetujuan untuk penelitian di mana beberapa ratus ribu pengguna Facebook akan setuju untuk menyelesaikan survei yang dibayar sedikit bagi kepentingan yang diklaim hanya untuk penggunaan akademis.
Namun, Facebook mengizinkan aplikasi ini tidak hanya untuk mengumpulkan informasi pribadi dari responden survei, tetapi juga dari teman Facebook responden. Dengan cara ini, Cambridge Analytica memperoleh data dari jutaan pengguna Facebook.
Pengumpulan data pribadi oleh Cambridge Analytica pertama kali dilaporkan pada Desember 2015 oleh Harry Davies, jurnalis The Guardian. Dia melaporkan bahwa Cambridge Analytica bekerja untuk Senator Amerika Serikat Ted Cruz menggunakan data diambil dari jutaan akun Facebook orang tanpa persetujuan mereka.
Laporan lebih lanjut diikuti pada November 2016 oleh McKenzie Funk untuk New York Times Sunday Review, Desember 2016 oleh Hannes Grasseger dan Mikael Krogerus untuk publikasi Swiss Das Magazin (kemudian diterjemahkan dan diterbitkan oleh Vice), pada Februari 2017 oleh Carole Cadwalladr untuk The Guardian (dimulai pada Februari 2017), dan pada Maret 2017 oleh Mattathias Schwartz untuk The Intercept.
Menurut PolitiFact, dalam kampanye kepresidenannya tahun 2016, Trump membayar Cambridge Analytica pada bulan September, Oktober, dan November untuk data tentang orang Amerika dan preferensi politik mereka.
Informasi tentang pelanggaran data muncul pada Maret 2018 dengan munculnya pelapor, mantan karyawan Cambridge Analytica, Christopher Wylie. Dia telah menjadi sumber anonim untuk sebuah artikel pada tahun 2017 di The Observer oleh Cadwalladr, berjudul " The Great British Brexit Robbery" .
Cadwalladr bekerja dengan Wylie selama satu tahun untuk membujuknya tampil sebagai whistleblower atau orang dalam perusahaan yang membocorkan rahasia perusahaan. Dia kemudian membawa Channel 4 News di Inggris dan The New York Times karena adanya ancaman gugatan hukum terhadap The Guardian dan The Observer oleh Cambridge Analytica.

( Christopher Wylie. saat tampil di headline The Observer/Press Gazette)
The Guardian dan The New York Times kemudian menerbitkan artikel secara bersamaan pada 17 Maret 2018. Lebih dari U$ 100 miliar atau Rp 1.550 triliun menguap dari kapitalisasi pasar Facebook dalam beberapa hari kemudian dan politisi di AS dan Inggris menuntut jawaban dari CEO Facebook Mark Zuckerberg.
Wired, The New York Times, dan The Observer melaporkan bahwa kumpulan data tersebut mencakup informasi tentang 50 juta pengguna Facebook. Sementara Cambridge Analytica mengklaim hanya mengumpulkan 30 juta profil pengguna Facebook,
Facebook kemudian mengonfirmasi bahwa Cambridge Analytica benar-benar memiliki data kemungkinan lebih dari 87 juta pengguna, dengan 70,6 juta orang pengguna Facebook dari Amerika Serikat.
Facebook memperkirakan bahwa California adalah negara bagian AS yang paling terpengaruh, dengan 6,7 juta pengguna yang terkena dampak, diikuti oleh Texas, dengan 5,6 juta, dan Florida, dengan 4,3 juta.
Data dikumpulkan dari 87 juta pengguna, sementara hanya 270.000 orang yang mengunduh aplikasi tersebut. Tapi jumlah itu menjadi puluhan juta karena jaringan pertemanan pengisi kuisoner itu juga tersedot.
Akhirnya Parlemen Inggris dan Senat di Amerika Serikat mulai melakukan penyelidikan parlemen atas skandal Cambridge Analityca. Hingga kemudian penyelidikan itu berubah menjadi tuntutan serius yakni tuduhan pidana.
Pintarnya, saat terpojok hebat di Inggris dan Amerika, perusahaan konsultan Cambrige Analytica memilih menutup kantor dan mengajukan kebangkrutan guna membendung tuntutan pidana.
***
Sebagai tanggapan, Facebook meminta maaf atas peran mereka dalam pengambilan data dan CEO mereka Mark Zuckerberg bersaksi di depan Kongres.
CEO Facebook Mark Zuckerberg pertama kali meminta maaf atas situasi dengan Cambridge Analytica di CNN, menyebutnya sebagai " masalah" , " kesalahan" , dan " pelanggaran kepercayaan" .

( Mark Zuckerberg saat tampil di CNN/Variety)
Dia menjelaskan bahwa dia menanggapi keprihatinan komunitas Facebook dan bahwa fokus awal perusahaan pada portabilitas data telah beralih ke penguncian data; dia juga mengingatkan pengguna platform tentang hak mereka untuk mengakses data pribadi.
Sementara pejabat Facebook lainnya awalnya menentang menyebutnya sebagai " pelanggaran data" , dengan alasan bahwa mereka yang mengikuti kuis kepribadian pada awalnya setuju untuk memberikan informasi mereka.
Zuckerberg berjanji untuk membuat perubahan dan reformasi dalam kebijakan Facebook untuk mencegah pelanggaran serupa.
Pada 25 Maret 2018, Zuckerberg menerbitkan surat pribadi di berbagai surat kabar di AS dan Inggris yang meminta maaf atas nama Facebook atas kebocoran data pribadi puluhan juta pengguna Facebook.
Pada bulan April, Facebook memutuskan untuk menerapkan Peraturan Perlindungan Data Umum Uni Eropa (UE) di semua area operasi dan bukan hanya di UE.
Pada Juli 2019, Facebook dijatuhi denda U$ 5 miliar atau Rp 77 triliun oleh Federal Trade Commission (FTC) atau Komisi Perdagangan Federal AS karena pelanggaran privasinya. Ini merupakan rekor denda terbesar dalam sejarah FTC.
Pada bulan Oktober 2019, Facebook setuju untuk membayar denda sebesar £ 500.000 atau Rp 9,4 miliar kepada Kantor Komisi Informasi Inggris karena mengekspos data penggunanya ke " risiko bahaya yang serius" .
Untuk menutupi jejak skandalnya, pada Mei 2018, Cambridge Analytica mengajukan kebangkrutan Bab 7 di Pengadilan Inggris. Mereka memutuskan bangkrut untuk menghindari tuntutan pidana.

(Bagan kaitan Camrbidge Analytica dengan Trump/Guardian)
Sementara itu, agen periklanan lain telah menerapkan berbagai bentuk penargetan psikologi selama bertahun-tahun, dan Facebook telah mematenkan teknologi serupa pada tahun 2012.
Namun demikian, keterbukaan Cambridge Analytica tentang metode mereka dan kaliber klien mereka —termasuk kampanye kepresidenan Trump dan kampanye Vote Leave Inggris— membawa tantangan penargetan psikologis yang telah diperingatkan oleh para sarjana terhadap kesadaran publik.
Skandal itu memicu peningkatan minat publik terhadap privasi dan pengaruh media sosial terhadap politik. Gerakan online #DeleteFacebook menjadi tren di Twitter.
Tapi kisah ini adalah sebuah krisis tentang kerahasiaan data pribadi di media sosial.
Selama ini data pengguna yang disimpan oleh perusahaan macam Google dan Facebook awalnya digunakan untuk kepentingan komersial macam iklan. Misalnya Anda menjelajah situs belanja online untuk melihat jam Seiko. Maka ketika anda mengunjung situs lain, misalnya situs berita, iklan jam Seiko akan muncul di situs lain yang anda kunjungi. Iklan pintar ini karena Facebook dan Google merekam dan menyimpan data kebiasaan kita sehingga kemanapun kita pergi ke dunia maya, " iklan pintar" itu akan mengikuti.
Tapi apa jadinya bila kecendrungan dan data di media sosial kita digunakan untuk kepentingan politik? Yang ada adalah propaganda. Kita dijejali berita palsu, meme, dan video sesat. Tujuannya agar pilihan kita berubah. Dan ini menyebabkan " chaos" atau kekacauan luar biasa. Masyarakat terpecah dan saling baku hantam karena pilihan politik yang dipicu berita palsu.
Ini juga mengancam demokrasi. Karena sebuah kompetisi tidak lagi dilakukan secara rasional oleh masyarakat pemilih, tapi oleh emosi yang dimanipulasi lewat penyebaran berita palsu di media sosial macam Facebook.
Dan setelah FTC mendenda Facebook Rp 77 triliun, tanggal 22 Desember 2022 lalu, giliran induk Facebook, Meta, kembali setuju membayar gugatan class action Rp 11 triliun karena skandal penyalahgunaan data Cambrdige Analytica. Agaknya wajah Facebook belum bakal pulih dalam waktu dekat. Karena skandal ini adalah skandal kebocoran dan manipulasi data pengguna Facebook terbesar dalam sejarah media sosial. (eha)
Sumber: Netflix, New York Magazine, Guardian. New York Times, Business Insider,