Greta Thunberg Saat Mulai Mogok Sekolah Climate Srtike Seorang Diri, Kini Dia Diikuti Jutaaan Anak Muda Lain .(Vajiram IAS)
Dream – Remaja puteri itu mengikat rambut panjangnya menjadi kepang satu. Ia hari itu mengenakan baju atasan berwarna merah muda. Ia juga menggunakan celana jeans dan sepatu kets.
Ia hadir dan duduk di depan sebagai panelis di Konferensi Tingkat Tinggi Climate Action di markas PBB, New York, Amerika Serikat, pada hari itu, Senin 29 September 2019.
Tamu undangan yang hadir bukan sembarangan orang. Banyak presiden, dan pimpinan dunia yang hadir, termasuk Kanselir Jerman Angela Markel. Saat acara dimulai, remaja puteri berusia 16 tahun diberi kesempatan bicara terlebih dahulu. Kamera yang menyorotnya langsung menayangkan gambarnya di layar lebar.
" Ini semua salah. Saya seharusnya tidak berada di atas sini. Saya harus kembali ke sekolah, di sisi lain lautan. Namun anda semua datang kepada kami kaum muda untuk berharap,” ujarnya.
“ Beraninya kamu? Anda telah mencuri impian saya dan masa kecil saya dengan kata-kata kosong Anda. Namun, saya salah satu yang beruntung. Orang-orang menderita. Orang-orang sedang sekarat. Seluruh ekosistem sedang runtuh dan yang anda hanya membicarakan masalah uang dan dongeng tentang pertumbuhan ekonomi abadi. Beraninya kamu? (How dare you?),” katanya memarahi pmipinan dunia yang hadir.

(Greta Thunberg saat memarahi pimpinan dunia dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB di New York/UN News)
Itu adalah pemandangan yang luar biasa. Anak sekolah menegur para pemimpin dunia dalam bahasa orang tua yang marah. Dan orang-orang yang dia kutuk memberinya tepuk tangan meriah.
“ Selama lebih dari 30 tahun, ilmu pengetahuan sangat jelas. Beraninya kamu terus berpaling? Dan datang ke sini, mengatakan bahwa Anda sudah cukup. Ketika politik dan solusi yang dibutuhkan masih belum terlihat,” tuturnya.
“ Anda mengecewakan kami! Tetapi orang-orang muda mulai menandai pengkhianatan Anda. Mata semua generasi mendatang tertuju pada Anda. Dan jika Anda memilih untuk mengecewakan kami, saya katakan bahwa kami tidak akan pernah memaafkan Anda. Dunia sedang bangun. Dan perubahan akan datang, suka atau tidak,” tegasnya.
Aksinya memarahi pimpinan dunia itu segera saja viral. Sebagai remaja 16 tahun, dia berani memarahi para pimpinan negara karena tidak punya sikap tegas untuk menghentikan perubahan iklim yang menjadi penyebab petaka iklim di bumi seperti gelombang panas yang sedang berlangsung sekarang di Asia dan belahan dunia lain.
Dalam sebuah film dokumenter berjudul “ I Am Greta” terbitan tahun 2020, gadis itu sudah mewanti-wanti.
“ Umat manusia melihat alam sebagai kantong permen raksasa. Bahwa kita bisa mengambil sebanyak yang kita mau. Jadi suatu hari, alam mungkin akan membalas dengan cara tertentu. Saya tidak tahu persis bagaimana caranya. Tapi ada segalanya. Mulai dari gelombang panas hingga penyakit, atau kekurangan air yang mungkin menjadi masalah di masa depan. Dan dalam konteks itu kita semakin kecil,” ujarnya.
Remaja puteri itu adalah Greta Thunberg. Ia adalah aktivis perubahan iklim yang galak. Karena konsistensinya dia sudah dua kali dinominasikan sebagai penerima hadiah Nobel Perdamaian.
Ia pun tercatat dalam buku rekor dunia Guiness World Record sebagai menjadi pengisi sampul majalah ternama Amerika Serikat, Time, sebagai Persons of The Year termuda dalam sejarah. Ia menjadi Persons of The Year majalah Time pada tahun 2019.

(Greta Thunberg saat menerima penghargaan Guiness World Record sebagai " Person of The Year" majalah Time termuda dalam sejarah/GBR)
Ia mulai melakukan mogok sekolah di luar gedung parlemen Swedia tempat dia tinggal pada saat dia berusia 15 tahun di tahun 2018. Ia melakukannya seorang diri. Ia lalu memutuskan mogok sekolah setiap hari Jumat.
Namun, gerakan “ Fridays for Future” yang digagasnya beberapa tahun lalu itu kemudian menggerakan jutaaan anak muda di seluruh dunia. Pada tahun 2019, sebanyak 7 juta anak muda turun ke jalan untuk memprotes pimpinan dunia yang tidak serius mengatasi perubahan iklim.
Itu jumlah terbesar dalam sejarah perubahan iklim. Gerakan jutaan orang itu terinspirasi dari Greta Thunberg.
Saat gelombang panas melanda seluruh dunia, Greta Thunberg sekali lagi berbicara tentang bahayanya tidak melakukan apa-apa.
" Ini bukan 'normal baru'," tulis Greta Thunberg di Twitter Selasa 19 Juli 2022. “ Krisis iklim akan terus meningkat dan menjadi lebih buruk selama kita tetap fokus dan [memprioritaskan] keuntungan dan keserakahan di atas manusia dan planet.”
***
Greta Tintin Eleonora Ernman Thunberg lahir pada 3 Januari 2003, di Stockholm, Swedia. Usianya kini 20 tahun.
Ia merupakan puteri pertama penyanyi opera Malena Ernman dan aktor Svante Thunberg. Dia memiliki seorang adik perempuan, Beata, yang berselisih jarak empat tahun.
Menurut majalah Time, saat duduk di sekolah dasar, guru sekolah dasar Thunberg menunjukkan video efek perubahan iklim di bumi: beruang kutub kelaparan, cuaca ekstrem, dan banjir. Guru menjelaskan bahwa itu semua terjadi karena perubahan iklim.
Setelah itu seluruh kelas merasa murung, tetapi anak-anak lain dapat melanjutkan pelajaran. Thunberg tidak bisa. Dia mulai merasa sangat sendirian. Dia berusia 11 tahun ketika itu. Usai menonton video itu dia mengalami depresi berat.
Selama berbulan-bulan, dia berhenti berbicara, dan makan sangat sedikit sehingga dia hampir dirawat di rumah sakit. Periode malnutrisi itu nantinya akan menghambat pertumbuhannya. Orang tuanya terpaksa mengambil cuti kerja untuk merawatnya melalui apa yang diingat ayahnya sebagai periode " kesedihan tanpa akhir."

(Greta, ayah ibu dan adiknya/Washington Post)
“ Saya tidak mengerti bagaimana itu bisa ada, ancaman eksistensial itu, namun kami tidak memprioritaskannya,” kata Greta. “ Saya mungkin sedikit menyangkal, seperti, 'Itu tidak mungkin terjadi, karena jika itu terjadi, maka politisi akan mengurusnya.'”
Pada awalnya, ayah Thunberg meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja, tetapi ketika dia membaca lebih lanjut tentang krisis iklim, dia menemukan kata-katanya sendiri terdengar hampa. " Saya menyadari bahwa dia benar dan saya salah, dan saya telah salah sepanjang hidup saya," kata Svante kepada Time.
Dalam upaya untuk menghibur putri mereka, keluarga mulai mengubah kebiasaan mereka untuk mengurangi emisi karbon mereka. Mereka mulai berhenti makan daging, memasang panel surya, mulai menanam sayuran sendiri dan akhirnya berhenti terbang —pengorbanan untuk ibu Thunberg, seorang penyanyi opera yang kerap tampil di seluruh Eropa.
“ Kami melakukan semua ini, pada dasarnya, tidak benar-benar untuk menyelamatkan iklim, kami tidak terlalu peduli tentang itu pada awalnya,” kata Svante. " Kami melakukannya untuk membuatnya bahagia dan membuatnya hidup kembali."
Perlahan, Thunberg mulai makan dan berbicara lagi.
Diagnosis Asperger Thunberg membantu menjelaskan mengapa dia memiliki alasan yang begitu kuat bertindak untuk belajar tentang krisis iklim. Karena dia tidak memproses informasi dengan cara yang sama seperti yang dilakukan orang-orang neurotipikal, dia tidak dapat menepis fakta bahwa planetnya dalam keadaan bahaya.
“ Saya melihat dunia dalam hitam dan putih, dan saya tidak suka kompromi,” katanya. “ Jika saya seperti orang lain, saya mungkin akan melanjutkan hidup dan tidak melihat krisis ini.”
Dalam beberapa hal dia bersyukur atas diagnosis Asperger-nya; jika otaknya bekerja secara berbeda, dia menjelaskan, " Saya tidak akan bisa duduk berjam-jam dan membaca hal-hal yang saya minati."
Fokus dan cara berbicara Thunberg menunjukkan kedewasaan yang jauh melampaui usianya. Ketika dia melewati teman sekelas di sekolahnya, dia mengatakan bahwa “ anak-anak sangat berisik,” seolah-olah dia bukan salah satu dari mereka.
Pada Mei 2018, setelah Thunberg menulis esai tentang perubahan iklim yang diterbitkan di surat kabar Swedia, beberapa aktivis iklim Skandinavia menghubunginya. Thunberg menyarankan agar mereka meniru siswa dari Marjory Stoneman Douglas High School di Parkland, Florida, yang baru-baru ini mengorganisir pemogokan sekolah untuk memprotes kekerasan senjata di AS. Aktivis lain memutuskan untuk menentang gagasan itu, tetapi gagasan itu tetap bersarang di benak Thunberg.
Dia mengumumkan kepada orang tuanya bahwa dia akan mogok sekolah untuk menekan pemerintah Swedia untuk memenuhi tujuan Perjanjian Paris. Pemogokan sekolahnya, katanya kepada mereka, akan berlangsung hingga pemilihan Swedia pada September 2018.

(Greta saat memulai pemogokan iklim pertamnya di hari Jumat yang sekarqang dikenal sebagai gerakan " Frdiay for Future" /BBC)
Orang tua Thunberg pada awalnya kurang senang dengan gagasan itu karena puteri mereka akan kehilangan begitu banyak kelas, dan gurunya menyarankan agar dia menemukan cara lain untuk memprotes. Tapi Thunberg tak tergoyahkan.
Dia mengumpulkan selebaran dengan fakta tentang tingkat kepunahan hewan dan emisi karbon, dan kemudian menaburkannya dengan selera humor yang membuat kekeraskepalaannya menjadi viral.
“ Nama saya Greta, saya kelas sembilan, dan saya sangat tertarik dengan iklim,” tulisnya di setiap pamflet. “ Karena kalian orang dewasa tidak peduli tentang masa depanku, saya juga tidak akan peduli.”
Pada 20 Agustus 2018, Thunberg tiba di depan Parlemen Swedia, mengenakan hoodie biru dan membawa tanda pemogokan sekolah buatannya. Ia membawa papan kayu yang dicat dengan huruf hitam dengan latar belakang putih bertuliskan Skolstrejk för Klimatet: “ Mogok Sekolah untuk Iklim.”
Dia tidak memiliki dukungan institusional, tidak ada dukungan formal dan tidak ada yang menemaninya. Tetapi melakukan sesuatu buatnya terasa lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa. “ Belajar tentang perubahan iklim memicu depresi saya sejak awal,” katanya.
“ Tapi itu juga yang membuat saya keluar dari depresi, karena ada hal-hal yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki situasi. Saya tidak punya waktu untuk depresi lagi.” Ayahnya mengatakan bahwa setelah dia mulai mogok sekolah, dia seolah-olah “ hidup kembali,” ujarnya.
Pada hari pertama pemogokan iklimnya, Thunberg sendirian. Dia duduk merosot di tanah, tampak hampir tidak lebih besar dari ranselnya. Itu adalah hari Agustus yang luar biasa dingin. Dia memposting tentang pemogokannya di media sosial, dan beberapa jurnalis datang untuk berbicara dengannya, tetapi hampir sepanjang hari dia sendirian. Dia makan siang kemasan pasta kacang dengan garam, dan pada jam 3 sore, ketika dia biasanya pulang sekolah, ayahnya menjemputnya dan mereka pulang bersepeda.
Pada hari kedua, seorang asing bergabung dengannya. “ Itu adalah langkah besar, dari satu menjadi dua,” kenangnya. Beberapa hari kemudian, beberapa lagi datang. Seorang aktivis Greenpeace membawakan pad thai vegan, yang dicoba Thunberg untuk pertama kalinya. Mereka tiba-tiba menjadi satu kelompok: satu orang yang menolak untuk menerima status quo menjadi dua, lalu delapan, lalu 40, lalu ratusan. Kemudian ribuan.
Pada awal September, cukup banyak orang telah bergabung dengan pemogokan iklim Thunberg di Stockholm sehingga dia mengumumkan bahwa dia akan melanjutkan mogok sekolah setiap hari Jumat sampai Swedia selaras dengan Perjanjian Paris. Lahirlah gerakan “ Fridays for Future” atau hari Jumat untuk masa depan.
Pada akhir tahun 2018, puluhan ribu siswa di seluruh Eropa mulai bolos sekolah pada hari Jumat untuk memprotes kelambanan pemimpin mereka sendiri. Pada bulan Januari 2019, 35.000 anak sekolah memprotes di Belgia mengikuti contoh Thunberg. Gerakan itu berhasil. Ketika seorang menteri lingkungan Belgia menghina para pemogok, kemarahan publik memaksanya untuk mengundurkan diri.

(Friday for Future Greta kini diikuti jutaan orang/Vox)
Pada September 2019, mogok iklim telah menyebar ke luar Eropa utara. Di New York City, 250.000 dilaporkan berbaris di Battery Park dan di luar Balai Kota. Di London, 100.000 memadati jalan-jalan di dekat Westminster Abbey, di bawah bayang-bayang jam Big Ben. Di Jerman, total 1,4 juta orang turun ke jalan, dengan ribuan membanjiri Gerbang Brandenburg di Berlin dan berbaris di hampir 600 kota lain di seluruh penjuru negeri.
Dari Antartika hingga Papua Nugini, dari Kabul hingga Johannesburg, diperkirakan 7 juta orang dari segala usia muncul untuk memprotes. Ratusan membawa gambar Thunberg atau melukis kutipannya di papan poster. “ Jadikan Greta Dunia Lagi” menjadi seruan.
Kejernihan moralnya menginspirasi anak muda lainnya di seluruh dunia. “ Saya ingin menjadi seperti dia,” kata Rita Amorim, seorang siswa berusia 16 tahun dari Lisbon yang menunggu selama empat jam pada bulan Desember untuk melihat sekilas Thunberg.
Thunberg memulai gerakan global dengan mogok sekolah mulai Agustus 2018. Dalam 16 bulan sejak itu, dia telah berbicara dengan kepala negara di PBB, bertemu dengan Paus, berdebat dengan Presiden Amerika Serikat dan menginspirasi 7 juta orang untuk bergabung dalam pemogokan iklim global pada 20 September 2019, dalam apa yang disebut demonstrasi perubahan iklim terbesar dalam sejarah manusia.
Citranya telah dirayakan dalam mural dan kostum Halloween, dan namanya telah melekat pada segala hal. Margaret Atwood membandingkannya dengan pahlawan wanita Perancis Joan of Arc. Setelah memperhatikan peningkatan seratus kali lipat dalam penggunaannya, leksikografer di kamus Collins Dictionary menyebut ide yang dirintis Thunberg, “ pemogokan iklim,” sebagai kata tahun ini.

(Greta saat jadi " Person of The Year" majalah Time tahun 2019/Time)
“ Momen ini terasa berbeda,” kata mantan Wakil Presiden AS Al Gore, yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian untuk dekade kerja advokasi iklimnya. “ Sepanjang sejarah, banyak gerakan besar berbasis moral telah memperoleh daya tarik pada saat orang-orang muda memutuskan untuk menjadikan gerakan itu sebagai tujuan mereka.”
Thunberg kini berusia 20 tahun tetapi tetap terlihat seperti 12 tahun. Dia biasanya memakai rambut cokelat mudanya yang dikepang menjadi dua, dibelah di tengah.
Dia memiliki sindrom Asperger, yang berarti dia tidak beroperasi pada emosi yang sama seperti banyak orang yang dia temui. Dia tidak suka keramaian; mengabaikan obrolan ringan; dan berbicara dalam kalimat langsung dan tidak rumit. Dia tidak bisa tersanjung atau terganggu. Dia tidak terkesan dengan selebritas orang lain, dia juga tidak tertarik dengan ketenarannya sendiri yang berkembang.

(Gerakan " Friday for Future" pada minggu ke 247. Greta duduku di depan/Twitter)
Tetapi kualitas-kualitas ini telah membantu membuatnya menjadi sensasi global. Ketika orang lain tersenyum untuk mengurangi ketegangan, Thunberg tetap bersikap serius. Saat orang lain berbicara bahasa harapan, Thunberg mengulangi ilmu yang tak tergoyahkan: Lautan akan naik. Kota-kota akan banjir. Bumi akan semakin panas. Jutaan orang akan menderita.
“ Saya ingin Anda panik,” katanya pada konvensi tahunan para CEO dan pemimpin dunia di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pada bulan Januari. “ Saya ingin Anda merasakan ketakutan yang saya rasakan setiap hari. Dan kemudian saya ingin Anda bertindak.”
Thunberg bukan pemimpin partai politik atau kelompok advokasi mana pun. Dia bukan yang pertama membunyikan alarm tentang krisis perubahan iklim atau yang paling memenuhi syarat untuk memperbaikinya. Dia bukan ilmuwan atau politisi. Dia tidak memiliki akses ke pengaruh tradisional: dia bukan miliarder atau putri kerajaan, bintang pop atau bahkan orang dewasa.
Dia adalah gadis remaja biasa yang, dalam mengumpulkan keberanian untuk berbicara kebenaran kepada kekuasaan, menjadi ikon dari sebuah generasi. Dengan mengklarifikasi bahaya abstrak dengan kemarahan yang menusuk, Thunberg menjadi suara paling meyakinkan tentang masalah terpenting yang dihadapi planet ini: perubahan iklim.
***
Thunberg tidak menaiki pesawat terbang. Untuk menempuh Konferensi Aksi Iklim di New York, dia berlayar dengan kapal dari pelabuhan Plymouth di Inggris menuju New York, Amerika.
Di depan sejumlah kamera televisi dan reporter, dia menuturkan. " Orang-orang meremehkan kekuatan anak-anak muda yang marah," katanya.
“ Kami marah dan frustrasi, dan itu karena alasan yang bagus. Jika mereka ingin kita berhenti marah maka mungkin mereka harus berhenti membuat kita marah.” Ketika dia selesai berbicara, kerumunan meledak dalam sorak-sorai.

(Greta saat naik kapal layar untuk menghadiri Konfrenesi Iklim di New York/Guardian)
Pidatonya sering langsung menusuk ke ulu hati. “ Anda mengatakan Anda mencintai anak-anak Anda di atas segalanya,” katanya dalam pidato besar pertamanya di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Polandia. " Namun Anda mencuri masa depan mereka di depan mata mereka sendiri."
Ucapannya itu segera menjadi viral. Sepanjang tahun lalu, dia telah memberikan lusinan peringatan serupa kepada kepala eksekutif dan kepala negara. Setiap kali, Thunberg berbicara dengan tenang tapi tegas, mengartikulasikan rasa ketidakadilan yang sering tampak jelas bagi orang yang sangat muda.
Bagi mereka yang berbagi ketakutannya, kejujuran Thunberg yang blak-blakan adalah katarsis. Bagi mereka yang tidak, itu terasa mengancam. Dia menolak untuk menggunakan bahasa harapan; senjatanya yang paling tajam adalah rasa malu.
Pada bulan September, berbicara kepada kepala negara selama Majelis Umum PBB, Thunberg langsung memberikan pukulan: “ Kita berada di awal kepunahan massal, dan yang dapat Anda bicarakan hanyalah uang dan dongeng tentang pertumbuhan ekonomi abadi,” katanya. " Beraninya kamu."
Untuk menopang gaya hidupnya untuk mengurangi emisi jejak karbon pribadi, Greta juga berhenti membeli pakaian baru.
Greta Thunberg mengatakan dia telah berhenti membeli pakaian baru tetapi tidak menghakimi orang lain yang pilihan gaya hidupnya kurang ramah lingkungan daripada dirinya sendiri, seperti terungkap dalam sebuah wawancaranya dengan The Guardian.
Meski gaya hidupnya jauh berbeda dari kebanyakan remaja Barat, Thunberg mengatakan dia tidak merasa kehilangan.

(Greta di tengah lautan massa anti perubahan iklim/EcoWatch)
Tentang pakaian, dia berkata: “ Skenario terburuk saya kira saya akan membeli barang bekas, tetapi saya tidak membutuhkan pakaian baru. Saya mengenal orang-orang yang memiliki pakaian, jadi saya akan bertanya kepada mereka apakah saya dapat meminjamnya atau apakah mereka memiliki sesuatu yang tidak mereka butuhkan lagi. Saya tidak perlu terbang ke Thailand untuk bahagia. Saya tidak perlu membeli pakaian yang tidak saya butuhkan, jadi saya tidak melihatnya sebagai pengorbanan.”
Walau usinya masih belia, Greta Thunberg adalah seorang pemimpin sejati. Tak hanya pandai berkata-kata, namun juga tegas dalam bertindak dan konsisten bertingkah laku untuk melawan perubahan iklim yang kini menimbulkan efek gelombang panas di Asia dan banyak negara dengan ribuan korban jiwa. Ia memang masih belia. Tapi karyanya sudah mendunia. (eha)
Sumber: Time, Britanica, Guardian, The New Yorker