Hukum Puasa Setengah Hari dan Boleh atau Tidaknya Puasa Setengah Hari Jika Tidak Sahur

Reporter : Widya Resti Oktaviana
Jumat, 29 April 2022 15:00
Hukum Puasa Setengah Hari dan Boleh atau Tidaknya Puasa Setengah Hari Jika Tidak Sahur
Puasa setengah hari adalah puasa dilakukan sejak terbitnya fajar dan berbuka saat adzan dhuhur berkumandang.

Dream – Sahabat Dream tentu sudah sangat familiar dengan istilah puasa beduk atau puasa setengah hari, bukan? Ya, biasanya puasa setengah hari ini dilakukan oleh anak-anak ketika mereka melalui tahap latihan berpuasa. Karena bagi anak yang masih kecil belum memungkinkan untuk mengikuti puasa selama seharian penuh dari pagi hingga sore. Bahkan dalam menjalani puasa setengah hari saja banyak anak kecil yang masih mengeluh tidak kuat.

Lalu, bagaimana sebenarnya hukum menjalankan puasa setengah hari ini? Apakah orang dewasa boleh melakukannya? Apalagi saat orang dewasa lupa melaksanakan sahur, bolehkah untuk menjalani puasa hanya setengah hari.

Hal tersebut penting sekali untuk diketahui oleh setiap umat Islam agar pelaksanaannya tidak disalahgunakan. Begitu juga ketika membimbing anak untuk berpuasa dengan melalui puasa setengah hari terlebih dahulu. Sehingga nantinya mereka bisa naik tingkat untuk menjalankan puasa selama sehari penuh sesuai dengan yang disyariatkan dalam Islam.

Nah, berikut adalah penjelasan lebih lengkap tentang puasa setengah hari yang perlu diketahui sebagaimana telah dirangkum oleh Dream melalui berbagai sumber.

1 dari 3 halaman

Apa Itu Puasa Setengah Hari?

Pengertian puasa setengah hari© Shutterstock.com

Puasa setengah hari sering kali disebut juga dengan puasa beduk. Seperti dikutip dari umma.id, puasa setengah hari adalah puasa yang dilakukan sejak terbitnya fajar dan berbuka saat adzan dhuhur sudah berkumandang. Puasa seperti ini umumnya dilakukan oleh anak-anak yang belum baligh.

Meskipun puasa setengah hari bukanlah yang diajarkan dalam Islam, namun hal tersebut adalah bagian dari bentuk pengajaran kepada anak-anak tentang berpuasa. Selain itu juga mendorong anak agar belajar tentang puasa sejak usia mereka masih kecil. Hal ini sesuai dengan hadis dari Bukhari yang artinya sebagai berikut:

Para ulama sepakat bahwa ibadah dan kewajiban lainnya, hukumnya tidak wajib kecuali jika seseorang sudah baligh. Namun mayoritas ulama menganjurkan agar anak dilatih berpuasa dan melakukan ibadah supaya mendapat keberkahan ibadah itu, dan agar mereka terbiasa, serta mudah melakukannya ketika sudah wajib baginya”.

2 dari 3 halaman

Hukum Menjalankan Puasa Setengah Hari

Setelah mengetahui pengertian puasa setengah hari, selanjutnya sahabat Dream juga perlu untuk menegtahui hukum dari menjalankan puasa tersebut. Perlu diketahui sebelumnya bahwa Islam mengajarkan kepada umatnya untuk mengerjakan puasa dari subuh hingga maghrib. Ini adalah sebuah keharusan bagi umat Islam, terutama mereka yang sudah dewasa.

Jadi, orang dewasa yang melaksanakan puasa setengah hari, maka hukumnya adalah haram. Kecuali jika memang orang tersebut memiliki suatu uzur syar’i yang kemudian membolehkannya untuk membatalkan puasa di siang hari.

Pelarangan makan dan minum bagi orang yang berpuasa ini dijelaskan dalam sebuah kitab bernama Al-Muhadzzab oleh Imam As-Syairazi yang dikutip dari islam.nu.or.id berikut ini:

وَيُحْرَمُ عَلَى الصَّائِمِ الْأَكْلُ وَالشُّرْبُ لِقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: )وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ( )البقرة 187

Artinya: Diharamkan makan minum bagi orang yang berpuasa, karena firman Allah SWT, ‘Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam (waktu fajar), kemudian sempurnakanlah puasa sampai datang waktu malam.’” (Lihat Abu Ishaq Ibrahim bin ‘Ali Yusuf As-Syairazy, Al-Muhadzzab fî Fiqhis Syafi’i, [Beirut, Darul Kutub Ilmiyyah], juz I, halaman 331).

Namun akan berbeda jika yang menjalani puasa adalah anak-anak. Mereka masih membutuhkan latihan untuk bisa berpuasa secara penuh. Yakni dengan menjalani puasa setengah hari terlebih dahulu.

Pengajaran puasa pada anak pun bisa dengan mencontoh sahabat Nabi yang diceritakan dalam hadis berikut ini:

عَنْالرُّبَيِّعِبِنْتِمُعَوِّذٍقَالَتْأَرْسَلَالنَّبِيُّصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَغَدَاةَعَاشُورَاءَإِلَىقُرَىالأَنْصَارِمَنْأَصْبَحَمُفْطِرًافَلْيُتِمَّبَقِيَّةَيَوْمِهِوَمَنْأَصْبَحَصَائِمًافَليَصُمْقَالَتْفَكُنَّانَصُومُهُبَعْدُوَنُصَوِّمُصِبْيَانَنَاوَنَجْعَلُلَهُمْاللُّعْبَةَمِنْالْعِهْنِفَإِذَابَكَىأَحَدُهُمْعَلَىالطَّعَامِأَعْطَيْنَاهُذَاكَحَتَّىيَكُونَعِنْدَالإِفْطَارِ

Artinya: Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz, ia berkata bahwa suatu pagi di hari Asyura’, Nabi SAW mengutus seseorang mendatangi salah satu kampung penduduk Ansor untuk menyampaikan pesan, ‘Barangsiapa yang pagi hari telah makan, maka hendaknya ia puasa hingga Magrib, dan siapa yang pagi ini berpuasa maka lanjutkan puasanya.’ Rubayyi’ berkata, kemudian kami mengajak anak-anak untuk berpuasa, kami buatkan bagi mereka mainan dari kain. Jika mereka menangis, maka kami beri mainan itu, begitu seterusnya sampai datang waktu berbuka,” (Lihat Ibnu Hajar Al-‘Asqallani Asy-Syafî’i, Fathul Bârî Syarh Shahîhil Bukhâri, [Darul Ma’rifah, Beirut], juz IV, halaman 201).

3 dari 3 halaman

Jika Tidak Sahur, Bolehkah Puasa Setengah Hari?

Boleh dan tidaknya puasa setengah hari jika tidak sahur© Shutterstock.com

Lalu, bagaimana dengan orang dewasa yang melewatkan makan sahur? Apakah mereka diperbolehkan untuk berpuasa setengah hari?

Makan sahur sendiri hukumnya adalah sunah dan bukan bagian dari syarat sah berpuasa. Oleh karena itu, orang yang tidak sahur tetap sah dalam melaksanakan ibadah puasa. Hal tersebut berdasar pada sebuah dalil dari Aisyah yang menceritakan sebagai berikut:

Suatu hari, Nabi SAW menemui kami, dan bertanya, 'Apakah kalian punya makanan?' Kami menjawab, 'Tidak.' Kemudian beliau bersabda: " Kalau begitu, saya akan puasa." . (HR. Muslim 1154, Nasai 2324, Turmudzi 733).

Dalam hadis tersebut, Nabi Muhammad SAW menghampiri sang istri di pagi hari. Beliau bertanya pada istrinya apakah ada makanan di rumah untuk sarapan. Ini dapat diartikan bahwa Nabi saw tidak memiliki niat puasa saat itu.

Lalu ketika Aisyah mengatakan bahwa tidak memiliki makanan, maka Nabi saw pun tetap melakukan puasa. Hal tersebut menunjukkan bahwa Nabi saw tidak melakukan makan sahur dan tidak ada niatan untuk berpuasa. Namun, beliau baru berniat untuk puasa di pagi harinya.

Beri Komentar