Jamu ke UNESCO, Bermula dari Usulan Gabungan Pengusaha Jamu Jawa Tengah

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 18 Juli 2022 20:02
Jamu ke UNESCO, Bermula dari Usulan Gabungan Pengusaha Jamu Jawa Tengah
Kemendikbud RI resmi mengajukan jamu ke UNESCO bulan April lalu.

Dream –  Pedagang jamu di sebuah warung jamu di daerah Semarang, Jawa Tengah, itu nampak tengah menuangkan jamu ke dalam beberapa gelas. Ia merobek sanchet jamu kemasan itu dan menuangkannya ke dalam gelas. Satu gelas satu kemasan jamu.

Setelah gelas terisi jamu, dia pun menuangkan air hangat di dalam teko air panas ke dalam gelas. Dan kemudian mengaduknya. Proses itu terhitung mudah. Tak sampai lima menit, jamu itu pun sudah siap diminum.

Rutintas pedagang jamu itu bukan rutinitas yang dijalani dia seorang. Tapi juga oleh puluhan hingga ratusan ribu penjual jamu di seluruh Indonesia setiap harinya. Belum lagi para penjual jamu gendong.

Tak mengherankan, belum lama ini Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) resmi mengusulkan Budaya Jamu Sehat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) ke UNESCO.

Di Jawa Tengah, budaya minum dan memproduksi minuman herbal ini, telah mendarah daging, bahkan sudah ditetapkan sebagai WBTB Tingkat Nasional 2019.

Kabid Pembinaan Kebudayaan Disdikbud Jawa Tengah (Jateng) Eris Yunianto mengatakan, pengusulan budaya minum jamu ke tingkat internasional, bermula dari usul Jateng. Usulan tersebut sudah dimulai pada 2018, dan ditetapkan sebagai WBTB Nasional pada tahun 2019.

“ Pada 2019 jamu merupakan usulan dari Gabungan Pengusaha (GP) Jamu Jateng yang difasilitasi oleh Disdikbud Jateng, mengusulkan jamu sebagai WBTB. Kemudian jamu ditetapkan Kemendikbud RI layak sebagai WBTB Indonesia, dengan SK No 362/M/2019 tanggal 24 September 2019,” ujarnya seperti dikutip laman Pemprov Jateng, Jumat 8 April 2022.

Dari penetapan tersebut, pada tahun 2021 GP Jamu Indonesia mengusahakan agar Budaya Indonesia ini berkompetisi pada WBTB tingkat internasional melalui UNESCO.

Akhirnya, pada 7 April 2022, Kemendikbud menetapkan Budaya Minum Jamu sebagai Duta Indonesia berkompetisi dalam Intangible Culture Heritage (ICH) UNESCO tahun 2022.

Eris mengatakan, Pemprov Jateng telah memasyarakatkan budaya minum jamu sejak 2019. Itu dilakukan dengan membudayakan gerakan minum jamu pada lima lokasi yakni, Setda Provinsi Jateng, Dinkes Jateng, Disdikbud Jateng, Diskop UKM, dan Disporapar Jateng.

“ Kami juga menggelorakan gerakan Jamu Goes To School, Jamu Goes to University. Selain itu ada sembilan rumah sakit yang menyediakan pojok jamu. Adapula anjuran kepada hotel untuk menyediakan welcome drink berbahan jamu,” imbuh Eris.

Penjual jamu di Jawa Tengah

(Penjual jamu di Jawa Tengah/Pemprov Jateng)

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Jamu Jateng, Stefanus Handoyo Saputro, mengatakan, masyarakat Jawa Tengah mempunyai pertalian kuat dengan jamu. Selain dari sisi historisitas, banyak industri pengolahan jamu yang berada di Jateng.

“ Jumlah industri ekstrak bahan alam di Jateng ada tujuh, industri obat tradisional (IOT) ada 16, termasuk di dalamnya Jamu Jago, Sido Muncul, Borobudur, Deltomed dan Air Mancur. Usaha Kecil Obat Tradisional ada 153 (unit), Usaha Mikro Obat Tradisional ada 264 (unit). Kalau jamu gendong itu ada ribuan. Di Jateng ada di Sukoharjo, Demak, Banyumas, dan sebagainya,” paparnya.

Ditambahkannya, dari sisi sejarah, jamu telah digunakan ribuan tahun sebagai pengobatan. Ini tercatat dalam relief Karmawibangga yang terdapat di Candi Borobudur. Adapula relief di Candi Rimbi tahun 1329 Masehi, Prasasti Madhawapura 1305 Masehi, Serat Centhini 1814 Masehi, dan Situs Liyangan 800 Masehi.

Industri jamu di Indonesia, kata Handoyo, tercatat jauh sebelum pengumuman kemerdekaan RI.

Dimulai pada 1820 Masehi dari sebuah industri rumahan di Jateng kemudian menyebar ke pulau lain di Indonesia. Kemudian pada 1900 tumbuh industri jamu yang menjadi pabrik-pabrik besar seperti Jamu Jago, Nyonya Meneer, Sido Muncul, Jamu Borobudur, Jamu Dami, hingga Jamu Air Mancur.

“ Jamu asal Jateng juga banyak yang sudah di ekspor. Mulai dari Rusia, Malaysia bahkan ada perusahaan yang punya perwakilan di Filipina,” paparnya.

Handoyo berharap, dengan usulan ke kancah internasional semangat pengusaha dan masyarakat membudayakan jamu semakin besar. Ke depan, pihaknya akan terus memperkenalkan jamu kepada Generasi milenial dan generasi Z.

“ Ada anggapan dari generasi Z, bahwa jamu itu pahit. Kan sebetulnya tidak, ada beras kencur yang tidak pahit,” tegas Handoyo.

***

Jamu memang merupakan salah satu warisan budaya bangsa Indonesia. Penggunaan jamu telah mengakar di masyarakat sejak lama dan turun temurun.

Namun, budaya minum jamu saat ini nyaris hilang, khususnya di kalangan generasi milenial dan generasi Z.

Terdapat sejumlah alasan generasi muda tidak menyukai minum jamu. Salah satunya karena rasanya yang pahit.

Selain itu, jamu juga identik dengan minuman orang tua, bukan minuman yang populer bagi anak muda.

Melihat fakta tersebut, Fakultas Farmasi UGM tergelitik untuk mengembalikan tren minum jamu sebagai warisan budaya bangsa.

Salah satunya dengan menyelenggarakan Festival Jamu Internasional yang berlangsung pada 14 hingga 17 November 2019 di Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta.

Kegiatan itu tidak hanya menampilkan berbagai produk jamu olahan UMKM tanah air. Namun, juga ditujukan sebagai ajang untuk membangun sebuah ekosistem yang bisa memberikan manfaat bagi kelangsungan UMKM jamu di masa mendatang.

“ UGM fokus untuk mengangkat kembali jamu ke permukaan, bersama Keraton menggaungkan nilai-nilai yang berhubungan dengan jamu di masyarakat,” kata Dekan Fakultas Farmasi UGM, Prof. Agung Endro Nugroho, M.Si., Ph.D., Apt., seperti dikutip laman UGM.

Dia menyampaikan harapan besar nantinya jamu bisa melekat dalam gaya hidup masyakat, termasuk DIY. Bahkan, menjadikan jamu sebagai kebanggaan masyarakat Indonesia.

Selain mengangkat posisi jamu agar lebih familiar di masyarakat, Agung mengatakan festival ini juga menjadi jalan untuk memperkenalkan jamu ke mata dunia. Dia ingin nantinya jamu bisa menjadi ikon kebanggaan Indonesia.

“ Jadi, saat ada wisatawan asing datang ke Jogja, mereka tidak hanya mencari bakpia, tetapi juga mencari jamu sebagai minuman menyehatkan dari Indonesia,” tuturnya.

Penjual jamu di Jawa Tengah

(Penjual jamu di Jawa Tengah tengah menyediakan jamu/Pemprov Jateng)

Sementara Koordinator Festival Jamu Internasional, Dr. Ronny Martien, menjelaskan dalam festival ini memiliki serangkaian acara mulai dari expo jamu, performing art mbok jamu, reog, hingga workshop. Selain itu, juga talkshow jamu dengan 14 negara yang nantinya akan berbagi cerita tentang jamu di negara masing-masing.

Rony mengatakan dari penyelenggaraan festival ini diharapkan bisa menjadikan jamu sebagai produk yang layak untuk dikonsumsi di masa kini.

“ Secara historis jamu bisa bertahan sampai sekarang, tetapi masih jadi produk yang terpinggirkan. Karenanya kita mencoba menaikkan level jamu tidak hanya sebagai minuman kesehatan, tetapi sebagai hasil budaya,” terangnya.

Dengan resmi diajukannya jamu sebagai warisan budaya tak benda Indonesia oleh Kemendikbud RI ke UNESCO, pameran-pameran serupa ke depan juga diharapkan semakin banyak. Dengan demikian hal itu diharapan dapat kembali mendekatkan jamu ke generasi milineal dan generasi Z. Semoga. (eha)

Sumber: laman Pemprov Jateng dan laman UGM

Beri Komentar