Jamu ke UNESCO, Presiden Komisaris Jamu Jago Jaya Suprana: Kita Perjuangkan Sejak Lama

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 18 Juli 2022 20:54
Jamu ke UNESCO, Presiden Komisaris Jamu Jago Jaya Suprana: Kita Perjuangkan Sejak Lama
Jamu Jago adalah perusahaan jamu tertua di tanah air.

Dream – Hari itu, Selasa sore 12 Juli 2022, di sebuah gedung di kawasan Semarang, Jawa Tengah, pria itu terlihat mengenakan kemeja kain lengan panjang berwarna hitam. Di bawah kemeja kain itu dia juga mengenakan kaus berwarna hitam. Kaus itu bergambar burung garuda berwarna emas dengan tulisan MURI alias Museum Rekor Indonesia. Ia juga mengenakan syal batik abu-abu kemerahan di lehernya.

Pria berkepala plontos berkacamata itu duduk di sebuah kursi. Di depannya ada sebuah meja. Ia duduk sendirian. Di depan meja ada sebuah layar televisi ukuran besar berisi sebuah gambar pria lain. Ia tampak berbincang-bincang dengan pria yang gambarnya ada di televisi itu. Ruangan itu cukup luas.

Di sebelah kirinya, dua orang editor video nampak sedang melihat monitor di layar komputer. Ada dua gambar di layar itu. Yang pertama gambar pria itu dan gambar seorang pria berambut putih keperakan. Mereka tengah berbincang-bincang dalam sebuah acara talkshow melalui layanan Zoom.

Pada usia 73 tahun, pria itu masih terlihat sibuk. Hari itu dia menjadi tuan rumah acara talkshow terkenal di tanah air: “ Jaya Suprana Show,” Sempat tayang rutin di televisi, kini acara itu ditayangkan di Youtube Jaya Suprana Show.

Pria itu memang Jaya Suprana, mantan Direktur Utama Jamu Jago (1983-2010) yang sejak tahun 2010 menjabat sebagai Presiden Komisaris Jamu Jago sampai sekarang.

Jamu Jago sendiri adalah perusahaan jamu tertua di tanah air. Berdiri pada tahun 1918, usianya kini sudah seabad lebih, atau lebih tepatnya 104 tahun.

Saat dihubungi Dream.co.id  hari itu, dia baru saja menyelesaikan acara talkshow rutin yang dia adakan itu. Suaranya masih ramah dan bertenaga.

“ Jadi kita bicara apa sekarang,” dengan nada penuh semangat melalui telepon Whatsapp.

Walau sibuk, Jaya Suprana tetap seorang yang membumi dan  rendah hati. Masih bersedia menyediakan waktunya yang padat untuk diwawancarai  wartawan.

Saat ditanya pendapatnya tentang kabar diajukannya secara resmi jamu sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaa RI ke UNESCO, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang merupakan badan khusus PBB yang didirikan pada 1945, dia tampak antusias.

“ Saya sangat gembira jamu diajukan pemerintah menjadi warisan budaya tak benda UNESCO. Ini merupakan sebuah perjuangan lama. Saya sudah memperjuangkannya sejak tahun 2000. Bahkan tahun 2013 saya juga sudah mengajukan jamu bukan sebagai produk, tapi sebagai warisan kebudayaan bangsa Indonesia,” ujarnya.

Saat ditanya apa rahasia Jamu Jago masih tetap produktif sebagai sebuah merek yang sudah bertahan selama 104 tahun sejak didirikan tahun 1918, dia menjawab:  “ Kuncinya adalah bekerja, bekerja, dan bekerja.  Karena  pada akhrinya saya percaya setelah semua usaha manusia itu memang tergantung pada semua upaya masing-masing,” ujarnya.

Logo Jamu Jago

(Logo Jamu Jago/Facebook)

“ Tapi ada kuasa yang lebih tinggi di atas manusia. Yaitu kuasa Tuhan.  Jadi kita bisa saja sudah berusaha keras tapi ternyata tidak berhasil. Karena semua ini tidak tergantung pada usaha manusia semata, tetapi juga kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa,” ujarnya.

Menurutnya, banyak juga perusahaan-perusahaan bagus mengalami krisis serius gara-gara pagebluk Corona. Karena itu dia  percaya ada kuasa Tuhan di atas usaha manusia.

Jadi, meski sudah sama-sama berusaha, menurutnya ada yang berhasil, ada yang gagal.  Gagal itu sendiri menurutnya adalah pintu masuk bagi keberhasilan. Maka ketika berhasil jangan jumawa. Ia percaya habis gelap terbitlah terang.

***

Jaya Suprana adalah generasi ketiga pimpinan Jamu Jago. Lahir di Denpasar, Bali 27 Januari 1949, dia juga dikenal sebagai budayawan, pianis, komponis, kolomnis, seminaris, kartunis, usahawan, jamulog, humorolog,  dan kelirumolog

Ia mengambil pendidikan musik saat muda di Musikhochschule Muenster Folkwanghochschule Essen, Jerman. Ada pun untuk bidang manajemen, dia juga sempat kuliah di Akademie fuer Fuehrungskraefte der Wirtschaft, Bad Harzburg Jerman.

Ia kemudian pulang ke Indonesia dan bekerja di Jamu Jago.  Jamu Jago adalah salah satu perusahaan jamu milik keluarga tertua di Indonesia. Jamu Jago juga dikenal dengan nama PT. Industri Jamu Cap Jago, yang berkantor pusat di Jalan Ki Mangunsarkoro 106 Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. Sementara, pabrik pengolahannya berada di Srondol, Jalan Perintis Kemerdekaan Semarang.

Toko Jamu Jago di Wonogori dahulu kala

(Toko Jamu Jago di Wonogori dahulu kala/Jamu Jago)

Dengan ratusan produk jamu dan obat herbal serta konsistensinya dalam menjaga mutu, Jamu Jago mampu bertahan sebagai salah satu pemain besar di industri jamu di Indonesia. PT. Jamu Jago adalah salah satu anak perusahaan dari Jago Group. Anak perusahaan lain nya adalah Degepharm (Pharmacy), CV. Rukun (Distributor) dan Museum Rekor-Dunia Indonesia atau MURI.

Jamu Jago didirikan pada 1 Januari 1918 oleh Phoa Tjong Kwan alias T.K Suprana dan istrinya Tjia Kiat Nio atau " Mak Jago" yang sebetulnya merupakan  perintis perusahaan ini dengan pengetahuannya tentang jamu tradisionil dan pemilik satu toko jamu kecil di desa Wonogiri Jawa Tengah.

TK Suprana

(TK Suprana/Wikipedia)

Sebagai perusahaan keluarga, jarang sekali sebuah perusahaan bisa bertahan lebih dari tiga generasi. Bisa saja di tangan generasi pertama perusahaan itu tumbuh pesat dan menjadi besar, tetapi kemudian meredup di generasi kedua. Berbeda dari perusahaan keluarga pada umumnya, PT Jamu Jago, produsen jamu yang berdiri sejak 1918, mulus melakukan regenerasi hingga generasi keempat.

Hal itu ditandai dengan naiknya Ivana Lucia Suprana ke kursi Direktur Utama PT Jamu Jago pada 2010, menggantikan posisi Jaya Suprana.

Tahun 2010, memang tercatat sebagai salah satu tahun regenerasi dalam sejarah perjalanan bisnis Jamu Jago.

Yang pertama terjadi tahun 1936, ketika T.K. Suprana sebagai pendiri perusahaan jamu yang semula berpusat di Wonogiri, Jawa Tengah, menyerahkan tampuk kepemimpinan perusahaan kepada keempat anaknya, yaitu Anwar Suprana, Panji Suprana, Lambang Suprana dan Bambang Suprana

Regenerasi kedua kalinya di Jamu Jago terjadi pada 1978. Di sinilah para cucu atau generasi ketiga mulai berperan dalam menjalankan perusahaan. Mereka adalah Jaya Suprana, Sindu Anwar Suprana, Monika Suprana, Nugraha Suprana, Suryohadiwonoto dan Sena Karjadi.

Di tangan generasi ketiga ini, perkembangan Jamu Jago terbilang pesat. Generasi ketiga ini terbilang cukup kreatif. Selain sukses membangun pabrik baru seluas 3 hektare di Srondol, Semarang, mereka juga membuat MURI, mendirikan Pusat Litbang Jamu Jago yang kemudian menghasilkan aneka produk jamu yang sukses di pasaran. Produk jamu hasil kreasi generasi ketiga ini antara lain Buyung Upik, Basmingin, Purwoceng, Sayuri dan Esha.

Setelah menjalankan tugas tiga dasawarsa lebih, tahun 2010 para cucu meletakkan jabatan untuk diserahkan kepada generasi keempat.

Sekarang perusahaan Jamu Jago ini dikepalai oleh; Ivana Suprana (Direktur Utama Jamu Jago. Arya Suprana (Direktur Utama Degepharm), Tatum Suprana (Direktur Human Resource), Andoyo (Direktur Keuangan) dan Vincent Suprana (Product Manager Coordinator).

Ivana Suprana

(Ivana Suprana/Jamupedia)

Tentang generasi keempat Jamu Jago, Jaya Suprana menuturkan itu adalah saat yang tepat. Ia juga menjelaskan soal saat dia menjadi Direktur Utama Jamu Jago,

“ Saya waktu jadi Direktur Utama Jamu Jago karena saat itu tidak ada yang mau. Jadi saya yang maju. Saat itu umur saya 30 tahun. Sekarang, generasi keempat, malah lebih muda. Ivana jadi Direktur Utama pada usia 26 tahun,” ujarnya.

“ Tapi sistem direksi di Jamu Jago mencontoh Jepang. Di Jepang, masa kerja lebih menentukan jumlah gaji ketimbang prestasi.  Karena prestasi sulit diukur, kalau masa kerja atau pengabdian jelas bisa diukur.  Masa kerja menunjukkan seseorang sudah bisa kerja dan kawakan,” tuturnya.

Karena itu menurutnya regenerasi di perusahaan jamu adalah sebuah keniscayaan sejarah.

***

Ia juga menuturkan bisnis jamu ini kadang ada siklus naik dan turun.  Seperti halnya juga dengan dinamikan kehidupan.

“ Dinamika dan romantika kehidupan memang seperti ini, kadang ada di atas, kadang di bawah, kadang di tengah-tengah. Jadi jangan putus asa.  Karena itu jika sedang di atas jangan takabur, jangan sombong, jangan jumawa. ojo dumeh,” ujarnya.

Lalu apa filosofi Jamu Jago sehingga bisa bertahan selama 104 tahun?  “ Filsafat Jamu Jago itu ada dua. Pertama, Ojo Dumeh. Jangan takabur, jangan sombong, jangan mentang-mentang, jangan merasa sok paling benar. Yang kedua, filosofinya adalah rukun agawe santosa. Kerukunan bisa membawa kesentosaan atau kesejahteraan,” katanya.

Makanya setelah empat generasi, publik belum pernah mendengar ada konflik keluarga di Jamu Jago. Karena semua keluarga paham kerukunan membawa kesentosaan atau kesejahteraan sesuai filosofi Jamu Jago.

“ Tapi itu semua upaya manusia. Di atas itu masih ada kuasa Tuhan. Jika Tuhan menghendaki Jamu Jago mati, tidak ada yang bisa menghalangi. Jadi inilah resep Jamu Jago bertahan hingga usia seabad dan sekarang dikelola generasi keempat. Saya sendiri masih menjabat sebagai Presiden Koimsaris Jamu Jago,” tuturnya.

“ Tapi kita jangan hanya bicara Jamu Jago. Jamu Jago hanyalah satu bagian kecil dari usaha jamu yang tersebar di Indonesia.  Saat ini mungkin lebih tepat bila kita bicara jamu sebagai aset budaya bangsa,” paparnya.

Akan halnya diajukannya jamu sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO, dia mengaku itu merupakan perjuangan panjang.

“ Saya berjuang ke UNESCO sejak tahun 2000. Saat itu saya sudah bertanya ke pejabat UNESCO bagaimana memasukkan jamu sebagai warisan budaya tak benda. Agar mendapat pengakuan UNESCO seperti halnya batik, keris dan Candi Borobodur.  Pada saat itu masih trial and error, masih coba-coba,” kenangnya.

“ Kenapa baru 22 tahun kemudian pemerintah serius memajukan jamu sebagai warisan tak benda UNESCO? Karena penghalangnya adalah bangsa Indonesia sendiri. Bangsa Indonesia terlalu silau dengan produk luar negeri,” ujarnya.

Jaya Suprana

(Jaya Suprana/Merdeka)

Ia punya sebuah kisah nyata. Ia bercerita ketika dia masih muda dan kuliah di Jerman, ada teman kuliah yang ayahnya sakit liver. Ia kemudian membawa ayahnya ke rumah sakit Jerman untuk diobati oleh dokter terkenal. Tapi ayahnya kaget saat tahu dokter terkenal yang akan menanganinya di Jerman seorang dokter kelahiran Solo, Jawa Tengah. Si ayah langsung membatalkannya.

“ ’Untuk apa saya jauh-jauh ke Jerman untuk diobati orang Indonesia? Lebih baik saya pulang ke Indonesia,’ kata si ayah. Ini cerita nyata tentang sikap bangsa Indonesia yang terlalu mengagungkan produk luar negeri,” terangnya.

“ Kalau boleh jujur, orang Indonesia merasa lebih bangga meninggal di rumah sakit di Singapura. Padahal sakitnya bisa dirawat di Indonesia. Inilah contoh betapa bangsa Indonesia tidak menghargai budayanya sendiri,” katanya.

Ia lalu teringat pernah ingin membawa pertunjukan wayang orang untuk dipentaskan di Sidney Opera House di Australia. “ Tapi saya malah ditentang oleh orang-orang Indonesia sendiri. Kata mereka, buat apa bawa wayang orang ke luar negeri, bikin malu Indonesia saja. Jadi justru saya ditentang oleh bangsa sendiri,” ujarnya. “ Tapi saya ngotot dan terus maju hingga akhirnya pertunjukkan itu terlaksana.”

“ Begitu juga ketika saya punya ide memajukan jamu sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO. Saya sempat dipertanyakan bangsa sendiri.  Ada yang bilang jangan melebih-lebihkan. Jadi begitu banyak saya ditentang. Itulah sebabnya butuh waktu 22 tahun sampai akhirnya jamu diajukan jadi warisan tak benda ke UNESCO,” katanya.

Ia juga menyitir pidato Bung Karno. Menurutnya Bung Karno  benar saat  bilang, " musuh terbesar bangsa Indonesia adalah bangsa Indonesia sendiri." Itu juga terjadi ketika Bung Karno mau memproklamasikan Kemerdekaan RI. Ia juga ditentang oleh sebagian bangsa Indonesia yang sudah hidup nyaman dan mapan di zaman penjajahan Belanda.

Salah satu produk Jamu Jago Basmingin

(Salah satu produk Jamu Jago, Basmingin/Tokopedia)

“ Itulah mengapa jamu begitu lama diajukan menjadi warisan tak benda UNESCO. Padahal jamu bukan hanya produk kesehatan, produk ekonomi, tapi maha karya peradaban bangsa Indonesia,” terangnya.

Saat ditanyakan bagaimana dengan diajukannya jamu Indonesia sebagai warisan tak benda UNESCO bakal menganggu jamu China dan jamu Korea Selatan yang juga terkenal, dia menjawab: “ Ya itu urusan mereka. Karena bangsa Indonesia pun punya sejarah panjang soal jamu,” tegasnya.

“ Anda tahu Syailendra? Kerajaan Sriwijaya? Kerajaan Majapahit? Padjajaran?  Bahkan pengaruh Majapahit  sampai ke Siam, nama lama Thailand, yang pernah saya kunjungi secara pribadi.  Candi Angkor Wat di Kamboja dipahat di atas dasar replika Candi Borobudur di Indonesia. Ini bukti kebesaran dan pengaruh sejarah bangsa Indonesia. Apakah Hayam Wuruk dan Gajah Mada itu sakit-sakitan? Tidak. Mereka sehat dan kuat. Dan saat itu mereka hanya mengenal jamu, karena produk farmasi belum dikenal. Jadi sejarah jamu sudah terentang dan terekam bangsa ini sejak lama” tandasnya.

Candi Borobodur

(Candi Borobodur/Liputan6)

“ Anda tahu Gunung Padang? Sekarang tengah diteliti. Harapan saya Gunung Padang bisa diakui sebagai sebuah peradaban tua dunia. Peradaban Gunung Padang lebih tua dari peradaban Babilonia, Mesopotamia, Asiria dan Mesir. Gunung Padang itu diperkirakan usia peradabannya 4.000 tahun Sebelum Masehi (SM). Sementara usia peradaban Mesopotamia baru 3.000 SM dan Mesir 2.500 SM. Besar harapan saya Gunung Padang bisa diakui sehingga menunjukkan peradaban bangsa kita lebih tua dari bangsa-bangsa lain dalam sejarah,” harapnya.

“ Dengan diajukannnya jamu sebagai warisan tak benda UNESCO, saya senang meski sedikit terlambat. Tapi kata pepatah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Saya berharap jamu diakui UNESCO sebagai mahakarya bangsa Indonesia, sebagai mahakarya kebudayaan bangsa Indonesia,” pungkasnya.

Indonesia memang sudah resmi mengajukan jamu sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO. Jaya Suprana sebagai budayawan paham betul arti jamu dalam sejarah Indonesia. Itu juga yang sudah dia lakoni di Jamu Jago, perusahaan jamu tertua di tanah air yang usianya sudah lebih dari satu abad. Semoga harapan dan perjuangan panjang dia dan bangsa Indonesia terkabul. Dan, jamu dinyatakan sebagai warisan budaya tak benda bangsa Indonesia. (eha)

Beri Komentar